Konflik di Myanmar dikhawatirkan mengganggu Cina
Elshinta
Senin, 16 Februari 2015 - 23:41 WIB | Penulis : | Editor : Administrator
Konflik di Myanmar dikhawatirkan mengganggu Cina
<content type="xhtml" xml:lang="id"> <div xmlns="http://www.w3.org/1999/xhtml" dir="ltr"> <p>Cina memperingatkan bahwa perang di Myanmar antara tentara pemerintah dengan pemberontak suku Kokang bisa mengancam stabilitas perbatasan.</p> <p>Kementerian Luar Negeri Cina menambahkan bahwa keamanan di kawasan dekat perbatasan di wilayah Cina juga bisa terancam akibat konflik tersebut dan mendesak semua pihak untuk menahan diri.</p> <p>Seorang juru bicara kelompok pemberontak suku Kokang di timur laut Myanmar mengatakan kepada BBC bahwa lebih dari 80 warga sipil tewas ditembak tentara di Laukai, kota terbesar di wilayah Kokang, dekat perbatasan Myanmar-Cina.</p> <p> <a href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/02/150213_myanmar_bentrok"> Media Myanmar melaporkan sedikitnya 47 orang tewas</a> dalam konflik di kawasan Kokang dan 70 lebih cedera.</p> <p>Sementara kantor berita Cina, Xinhua, menyebutkan pekan lalu terdapat lebih dari 30.000 kali lintas perbatasan untuk memasuki ke Provinsi Yunnan.</p> <p/> <p>"Warga dari Myanmar sudah melintasi masuk ke Cina lebih dari 30.000 kali sejak tanggal 9 Februari," seperti tertulis dalam pernyataan kantor media kota Lincang di Provinsi Yunan yang dikutip Xinhua.</p> <p>Ditambahkan pihak berwenang memberikan bantuan yang diperlukan kepada warga Myanmar yang mengungsi tersebut, dengan memberi pangan, obat-obatan, dan layanan karantina.</p> <p>Bagaimanapun pernyataan pemerintah Myanmar, seperti dilaporkan kantor berita AFP, menegaskan akan meneruskan tindakan di wilayah Kokang 'yang diperlukan untuk keamanan dan keselamatan warga setempat serta juga untuk perdamaian, stabilitas, dan penegakan hukum'.</p> <p>Pertarungan marak kembali di Kokang pada tanggal 9 Februari tahun ini setelah masa yang relatif tenang selama enam tahun belakangan.</p> </div> </content>
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jubir Tanggap Soal Kunjungan Menteri Keuangan AS ke Tiongkok
Senin, 23 April 2018 - 06:04 WIB
Tiongkok telah menerima informasi mengenai kunjungan Menteri Keuangan AS Steven Terner Mnuchin ke Ti...
Makau Menentang Catatan HAM AS
Minggu, 22 April 2018 - 10:04 WIB
Kantor Juru Bicara Pemerintah Daerah Administrasi Khusus Makau kemarin (21/4) menyatakan, pihaknya d...
Aturan Hukum Seputar Foto Di Tempat Publik di Australia
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Bayangkan ini - Anda berada di rumah dan di halaman belakang bersama anak-anak Anda. Anda melihat te...
Serangan Suriah: Kelompok pro jihadis di Indonesia 'berterima kasih' pada serangan AS
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Serangan sekutu AS ke Suriah tidak berdampak langsung pada Indonesia namun bagi kelompok pro jihadis...
Ekspor Anggur Australia Ke China Naik 16 Persen
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Angka ekspor minuman anggur (wine) dari Australia ke China mencapai angka tertinggi dalam 10 tahun t...
Perempuan Palestina berada di garis depan protes anti-Israel
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Dalam pemandangan langka, perempuan Palestina berada di garis depan selama bentrokan Jumat (13/4) de...
Pembatasan Migran Akan Pengaruhi Ekonomi di Australia
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Sebuah laporan terbaru menyebutkan bahwa bila Australia membatasi jumlah migran yang masuk maka itu ...
Arab Saudi hancurkan rudal yang ditembakkan ke Jazan dari Yaman
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Pasukan Udara Arab Saudi pada Jumat (13/4) menghancurkan satu rudal yang ditembakkan oleh gerilyawan...
Bom di dalam stadion saat pertandingan: polisi terluka, 22 penonton ditahan
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Seorang polisi perempuan terluka parah akibat ledakan bom di Stadion Vasil Levski saat pertandingan ...
Dilarikan ke UGD setelah menyantap cabai paling pedas di dunia
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
Gara-gara makan cabai yang tingkatr pedasnya 30-50 kali lipat dibanding cabe rawit paling pedas, seo...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV