Kaum Aghori dan caranya mencapai pencerahan
Elshinta
Jumat, 04 Desember 2015 - 06:12 WIB | Penulis : Mario Vau | Editor : Administrator
Kaum Aghori dan caranya mencapai pencerahan
Kaum Aghori, pertapa dari India (sumber: Ancient Origins)
<p>Kaum Aghori adalah pengikut sebuah sekte Hindu yang telah berusia 1000 tahun. Kaum pertapa ini sering dianggap sebagai para <i>sadhu </i>atau orang suci, dan telah membhaktikan seluruh hidupnya untuk pencapaian <i>moksha </i>(yang artinya pembebasan). Berbeda dengan para sadhu lainnya, kaum Aghori ini memiliki pendekatan berbeda dalam upayanya mencapai pencerahan. </p><p><br></p><p><strong>Keyakinan kaum Aghori</strong></p><p>Bentuk keyakinan Aghori terkini diyakini berasal dari ajaran seorang guru bernama Baba Kinaram yang hidup di abad ke 17 Masehi, dan konon hidup hingga 170 tahun. Setelah kematiannya, Baba Kinaram dimakamkan di kota suci Varanasi, dan kuil Kinaram yang dibangun disana dianggap sebagai tempat tersuci bagi kaum Aghori.&nbsp;</p><p><br></p><p><img alt="Image title" class="fr-fin fr-dib" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/The-gates-of-the-Baba.jpg?itok=A_WYFMiA" width="581"></p><p>Kuil Baba Kinaram, kota Varanasi (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p>Kaum Aghori memuja Dewa Siwa atau Mahakala, Sang Penghancur, dan Shakti atau Kali, Dewi Kematian. Kaum Aghori sering ditemukan di dekat lokasi kremasi, dan utamanya di Varanasi. Namun mereka juga dapat ditemukan di tempat lain, seperti gua-gua di sekitar Himalaya, di hutan-hutan Bengal dan bahkan di gurun pasir Gujarat.&nbsp;</p><p><br></p><p><img alt="Image title" class="fr-fin fr-dib" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Aghori-in-a-cave.jpg?itok=Mkr9fhVN" width="577"></p><p>Seorang Aghori di Badrinath, India (sumber: Ancient Origins)<br></p><p><br></p><p>Menurut keyakinan Aghori, pembebasan atau pencerahan itu dapat dicapai dengan praktek-praktek yang dianggap terlarang oleh sebagian besar umat Hindu. Mereka meyakini jika praktek ini dilakukan dengan benar, maka perkembangan spiritual akan lebih cepat tercapai. Praktek kaum Aghori ini memang tidak disarankan bagi orang kebanyakan, terutama yang tidak nyaman dengan kematian.&nbsp;<br></p><p><br></p><p><strong>Praktek ritual Aghori</strong><br></p><p>Salah satu praktek Aghori merupakan variasi dari kanibalisme. Harus dikatakan, bahwa mereka tidak membunuh orang; akan tetapi mereka memakan jenazah orang yang hendak dikremasikan. Terkadang daging manusia ini dimakan mentah, atau juga dibakar diatas api.&nbsp;<br></p><p><br></p><p><img alt="Image title" class="fr-fin fr-dib" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/styles/large/public/Cremation-grounds.jpg?itok=VdgPI12X" width="600"></p><p>Tempat kremasi di Manikarnika Ghat, Varanasi India (sumber: Ancient Origins)<br></p><p><br></p><p>Kaum Aghori meyakini bahwa perbedaan-perbedaan yang kebanyakan orang anggap jelas (misalnya baik dan jahat, atau antara daging manusia atau daging binatang) hanya merupakan khayalan, dan menghambat perkembangan spiritual mereka. Oleh karena itu, dengan memakan bangkai manusia, mereka seolah menegaskan keyakinan itu. Selain memakan daging manusia, mereka juga dikenal memakan kotoran manusia dan meminum air seni. Praktek ini ditujukan untuk meredam ego manusia dan memutuskan persepsi keindahan manusia.&nbsp;<br></p><p>Sebuah praktek lainnya adalah kebiasaan telanjang. Kaum Aghori sering berkeliarang hanya dengan cawat atau bahkan telanjang bulat. Tujuannya adalah untuk menghilangkan rasa malu, dan juga untuk melepaskan segala hal yang terkait dengan dunia materialistik. Selain itu, kaum Aghori juga melumuri tubuh mereka dengan abu jenazah yang telah dikremasi. Penggunaan abu kremasi ini untuk meniru Dewa Siwa dan diyakini oleh kaum Aghori untuk melindungi mereka dari penyakit.&nbsp;<br></p><p><br></p><p><img alt="Image title" class="fr-fin fr-dib" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/An-Aghori_0.jpg" width="498"></p><p>Seorang Aghori (sumber: Ancient Origins)<br></p><p><br></p><p><strong>Tengkorak: lambang kaum Aghori</strong><br></p><p>Selain abu jenazah, kaum Aghori juga sering memakai sisa-sisa tubuh manusia, khususnya tengkorak. Tengkorak atau <i>kapala</i>, adalah lambang Aghori, dan setelah menerima inisiasi ke dalam sekte ini, seorang Aghori akan berusaha mencari sebuah tengkorak. Kemudian tengkorak itu akan digunakan sebagai mangkuk. Mereka juga akan menggunakan tengkorak ini bersama binatang seperti anjing ataupun sapi.&nbsp;<br></p><p>Menurut sebuah legenda, Dewa Siwa pernah memancung salah satu&nbsp;kepala Dewa Brahma, dan membawa keliling kepala ini kemana-mana. Maka, dalam upaya meniru Dewa Siwa, kaum Aghori juga membawa sebuah tengkorak bersamanya.&nbsp;<br></p><p><br></p><p><img alt="Image title" class="fr-fin fr-dib" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Painting-of-Shiva-as-Bhairava.jpg" width="525"></p><p>Lukisan Dewa Siwa membawa kepala Brahma (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p>Diyakini juga bahwa kaum Aghori membawa tengkorak kemana-mana karena menanggap bahwa daya kehidupan bercokol di atas tengkorak setelah kematian. Mereka juga menganggap dengan berbagai mantra dan sesajian (khususnya alkohol), mereka dapat memanggil arwah mendiang yang tengkoraknya disimpan itu dan menguasainya.&nbsp;</p><p><br></p><p><img alt="Image title" class="fr-fin fr-dib" src="http://www.ancient-origins.net/sites/default/files/Aghori-carrying-a-skull.jpg" width="396"></p><p>Seorang Aghori membawa tengkorak, sekitar 1875 (sumber: Ancient Origins)</p><p><br></p><p>Praktek kaum Aghori memang tidak lazim dan terkesan ekstrim, dan sudah pasti ditolak oleh sebagian besar umat Hindu. Meski menurut mereka, praktek-praktek ritual Aghori adalah cara tercepat untuk mencapai pencerahan, tetapi kebiasan tersebut dianggap terlalu ekstrim bagi orang kebanyakan. Sehingga tidak banyak orang yang menginginkan, atau bahkan dapat melaksanakannya dengan baik.&nbsp;</p>
DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kemenag keluarkan kebijakan baru terkait penyelenggaraan haji
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
<p>Kementerian Agama (Kemenag) RI mengeluarkan kebijakan baru terkait penyelenggaraan ibadah h...
Ini beberapa dokumen untuk gantikan calon jamaah haji meninggal
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
<p>Kementerian Agama (Kemenag) RI mengeluarkan kebijakan baru bahwa calon jamaah meninggal seb...
Pedagang pasar di Sukoharjo jadi peragawati
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
<p style="color: rgb(34, 34, 34); font-family: &quot;Helvetica Neue&quot;, Helvetica...
MTQN XXVII digelar 4 hingga 18 Oktober 2018
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
<p>Pelaksanaan MTQ Tingkat Nasional XXVII akan dilaksanan pada tanggal 4 hingga 13 Oktober 201...
Ribuan buruh rokok di Kudus peringati Hari Kartini
Jumat, 13 April 2018 - 10:40 WIB
<p>Suasana berbeda terlihat di salah satu perwakilan perusahaan rokok yang berada di Jalan Nit...
Belasan mahasiswa luar negeri belajar seni budaya di Banyuwangi
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
<p>Banyuwangi terpilih dari enam kabupaten dan kota di Indonesia, sebagai daerah tempat mahasi...
Menikmati Festival Cahaya di Moskow Pada Musim Dingin
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
Musim dingin di Rusia dikenal gelap dan membeku. Untuk mengatasinya pemerintah di Moskow memasang la...
Lembaga Pemasyarakatan  di Indonesia, Penghukuman Atau Perbaikan? (Kisah dari Penjara, Bagian I)
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
<p>Ketika saya rutin keluar-masuk penjara di semester kedua 2016, orang-orang dekat saya was-...
Usia Lanjut Bukan Halangan untuk Ambisi Memulai Pertanian Organik
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
<p>Le Van So (94) dan istrinya, Nguyen Thi Loi (88) disebut-sebut sebagai pasangan tertua di d...
Mari Bertandang dan Lihat Balada Negeri Aisenodni
Selasa, 10 April 2018 - 06:12 WIB
<p>Alkisah ada sebuah negeri bernama Aisenodni dimana para penghuninya berpikiran, berpandanga...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_berita_detail.php
Line: 207
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 144
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once