Pancasila sebagai pengingat abadi persatuan

Elshinta
Rabu, 01 Juni 2022 - 07:43 WIB |
Pancasila sebagai pengingat abadi persatuan
Dokumen - Warga menyelesaikan pembuatan mural bertema Pancasila di Kampung Pancasila Desa Karangwatu, Muntilan, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (31/5/2022). ANTARA FOTO/Anis Efizudin/tom.

Elshinta.com - Tanggal 1 Juni diperingati sebagai hari lahir Pancasila. Peringatan hari lahir Pancasila yang ditetapkan sebagai hari libur nasional, mulai berlaku sejak dikeluarkannya Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila.

Keppres tentang Hari Lahir Pancasila harus dilihat sebagai upaya pemerintah dalam mengarusutamakan Pancasila sebagai pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.

Peringatan hari lahir Pancasila merupakan momentum penting bagi bangsa Indonesia untuk merefleksikan diri. Sudah sejauh mana kita sebagai warga bangsa menunjukkan sikap setia kepada Pancasila.

Kesetiaan kepada Pancasila sebagai dasar negara berarti kesetiaan dan pengakuan terhadap perjuangan besar para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan.

Para pejuang kemerdekaan itu tidak hanya berjuang melawan kolonialisme di medan perang, tetapi juga mempersembahkan hadiah istimewa berupa pedoman hidup bernegara bernama Pancasila.

Sejarah perumusan
Pancasila ialah karya besar yang digali dan dirumuskan oleh pendiri negara Indonesia. Nama Soekarno, dalam hal ini tidak dapat dilepaskan dari catatan sejarah, sebagai tokoh penting yang memperkenalkan dasar pemikiran (philosofische gronslag) ke dalam lima sila sebagai dasar negara.

Pemikiran itu ia kemukakan ketika dilangsungkannya rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) atau Dokuritsu Junbi Cosakai, Tanggal 1 Juni 1945.

Soekarno bukanlah satu-satunya tokoh yang mengemukakan dasar pemikiran untuk negara. Melainkan terdapat nama lain yang juga mengemukakan pemikirannya, seperti M. Yamin dan Supomo.

M Yamin mengemukakan pemikiran tentang asas negara pada sidang Tanggal 29 Mei 1945, sedangkan Supomo mengemukakannya Tanggal 31 Mei 1945 dan selanjutnya Soekarno pada Tanggal 1 Juni 1945.

Bila diperhatikan dari ketiga uraian yang dikemukakan oleh ketiga tokoh itu terdapat masing-masing satu kesamaan dan satu kemiripan. Kesamaannya adalah bahwa ketiganya sama-sama menuangkan pemikiran tentang dasar negara sebanyak lima poin.

Sementara kemiripannya terletak pada konten dari setiap sila tentang dasar negara. Antara Soekarno dan M Yamin, misalnya, terdapat kesamaan dalam tiga sila yang mereka kemukakan, yaitu ketuhanan, kesejahteraan dan kebangsaan.

Terkait dengan penamaan Pancasila, penulis ingin menukil pidato Soekarno sebagaimana dikutip dari Himpunan Risalah Sidang-sidang terbitan Sekretariat Negara Republik Indonesia, yang berisi:

“Saudara-saudara, dasar-dasar negara telah saya usulkan. Lima bilangannya. Inikah Panca Dharma? Bukan! Nama Panca Dharma tidak tepat di sini. Dharma berarti kewajiban, sedang kita membicarakan dasar. Saya senang kepada simbolik. Simbolik angka pula. Rukun Islam lima jumlahnya. Jari kita lima setangan. Kita mempunyai panca indera.”

“Apa lagi yang lima bilangannya? Pendawa pun lima orangnya. Sekarang banyaknya prinsip; kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan dan ketuhanan, lima pula bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi - saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita, ahli bahasa namanya ialah Panca Sila. Sila artinya azas atau dasar dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi”.


Pidato Soekarno pada Tanggal 1 Juni 1945 tersebut membuat siapapun mengakui bahwa nama Pancasila memang diucapkan pertama kali oleh Soekarno.

Tetapi kelima sila dalam Pancasila itu tidak sama redaksinya dengan Pancasila yang sekarang kita kenal. Artinya terdapat proses dan pematangan yang dilakukan pada masa-masa berikutnya.

Rumusan dasar negara yang dikenal sebagai Piagam Jakarta juga merupakan kelanjutan perumusan dari sejak sidang pertama BPUPKI. Tetapi kemudian terdapat suatu pembahasan revisi yang ditempuh melalui mekanisme musyawarah agar dalam pengungkapan redaksional dapat mengakomodir semua latar belakang.

Jadilah kemudian Pancasila yang sampai kini terus diucapkan, baik oleh pelajar ketika upacara bendera maupun ketika peringatan hari lahir Pancasila.

Bagaimanapun keberadaan Pancasila sebagai dasar negara, jelas sangat diperlukan sebagai sumber hukum dan sekaligus pedoman kehidupan berbangsa.

Hal ini sebagaimana juga termaktub dalam pertimbangan huruf a Keppres Nomor 24 Tahun 2016 bahwa Pancasila sebagai dasar dan ideologi Negara Republik Indonesia harus diketahui asal usulnya oleh bangsa Indonesia dari waktu ke waktu dan dari generasi ke generasi, sehingga kelestarian dan kelanggengan Pancasila senantiasa diamalkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Pancasila tidak lahir dari inspirasi pemikir barat. Pancasila juga tidak memihak terhadap arus besar dua ideologi dunia di masa lalu, seperti liberalisme ataupun komunisme. Seorang filsuf kenamaan Inggris Bertrand Russel sampai mengemukakan kekaguman terhadap Pancasila yang dinilainya sebagai racikan kreatif dari ideologi demokrasi-liberal dan komunisme. Padahal Pancasila berdiri sendiri sebagai produk pemikiran yang digali oleh pendiri bangsa.

Pengingat dan pengikat persatuan
Pancasila dipersembahkan kepada generasi sekarang dan yang akan datang agar dipedomani sebagai pengingat abadi pentingnya menjunjung persatuan.

Hal ini karena Pancasila lahir dari perenungan yang matang, yang mewakili aspirasi dan spirit menjunjung persatuan di atas keberagaman latar belakang, baik agama, suku dan budaya bangsa Indonesia.

Tidak sedikit bangsa-bangsa di dunia yang porak poranda, terpecah dan kemudian runtuh hanya karena perbedaan yang sifatnya masih terbilang. Atau tidak terlalu kompleks seperti Indonesia. Yugoslavia hancur dan lenyap akibat gagal mengelola perbedaan etnik yang kemudian meluas menjadi konflik politik serta krisis kemanusiaan.

Kemudian sejumlah negara di timur tengah, seperti Suriah, Irak dan Yaman, yang harus merasakan kegetiran yang diakibatkan oleh perang saudara.

Sementara Indonesia, bukan hanya suku dan budayanya yang beragam, tetapi daratannya pun terpisah-pisah. Indonesia, bahkan memiliki tiga waktu yang berbeda. Tetapi bangsa Indonesia yang dianugerahi keragaman yang tidak terbilang ini tetap tegak berdiri.

Ini membuktikan bahwa meskipun Pancasila produk pemikiran lama, tetapi sangat teruji sebagai solusi dan pedoman yang akan selalu bersifat baru. Dengan lain perkataan, Pancasila akan selalu relevan di setiap zaman.

Bahkan, Soekarno sendiri pernah mengatakan bahwa Pancasila sebagai sistem nilai yang berasal dari kebudayaan nenek moyang ini bersifat universal yang kompatibel digunakan oleh seluruh bangsa di dunia. Selamat Hari Lahir Pancasila.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Pemkot Bandung upayakan tidak ada kabel udara di jalan utama pada 2023
Jumat, 12 Agustus 2022 - 17:35 WIB

Pemkot Bandung upayakan tidak ada kabel udara di jalan utama pada 2023

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengupayakan tidak ada lagi kabel udara yang menjuntai di sejumlah...
KKP Panjang lakukan deteksi dini cegah penyebaran cacar monyet
Jumat, 12 Agustus 2022 - 17:23 WIB

KKP Panjang lakukan deteksi dini cegah penyebaran cacar monyet

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Panjang Lampung melaksanakan deteksi dini virus othopox pa...
Siswi di Jembrana Bali terpilih kembali jadi anggota Paskibraka HUT RI
Jumat, 12 Agustus 2022 - 16:59 WIB

Siswi di Jembrana Bali terpilih kembali jadi anggota Paskibraka HUT RI

Siswi SMA Negeri 1 Negara di Kabupaten Jembrana, Bali, Valentina Dyastika terpilih kembali menjadi ...
Vaksinasi PMK tahap awal ditargetkan rampung September 2022
Jumat, 12 Agustus 2022 - 15:23 WIB

Vaksinasi PMK tahap awal ditargetkan rampung September 2022

Pemerintah menargetkan vaksinasi Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) tahap awal pada hewan ternak di Indon...
IDI dukung pemberian label Bisfenol A pada kemasan dari plastik
Jumat, 12 Agustus 2022 - 14:59 WIB

IDI dukung pemberian label Bisfenol A pada kemasan dari plastik

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) mendukung Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) me...
Kota Tangerang tampilkan sagon bakar di lomba UP2K Banten
Jumat, 12 Agustus 2022 - 14:47 WIB

Kota Tangerang tampilkan sagon bakar di lomba UP2K Banten

Kelurahan Poris Plawad Utara, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang menampilkan lima produk unggulan, s...
Tingkatkan kunjungan wisata,  akses wisata Rahtawu diperlebar
Jumat, 12 Agustus 2022 - 14:23 WIB

Tingkatkan kunjungan wisata,  akses wisata Rahtawu diperlebar

Keindahan alam di desa Rahtawu Kecamatan Gebog  kabupaten Kudus Jawa Tengah tidak kalah dibandingk...
Bappenas prioritaskan konservasi ekosistem Karbon Biru 
Jumat, 12 Agustus 2022 - 14:11 WIB

Bappenas prioritaskan konservasi ekosistem Karbon Biru 

Sebagai negara dengan mangrove terbesar di dunia, yakni 3,3 juta hektar, serta padang lamun terluas ...
755 hewan ternak terinfeksi PMK kembali sembuh
Jumat, 12 Agustus 2022 - 13:59 WIB

755 hewan ternak terinfeksi PMK kembali sembuh

Terhitung 10 Agustus 2022, 755 ekor hewan ternak terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali di...
BRIN: Indonesia berisiko rendah terdampak aktivitas Matahari
Jumat, 12 Agustus 2022 - 13:25 WIB

BRIN: Indonesia berisiko rendah terdampak aktivitas Matahari

Peneliti Pusat Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Johan Muhammad mengatakan Indonesia...

InfodariAnda (IdA)