Cegah radikalisme, Kesbangpol gandeng mantan teroris ke sekolah
Elshinta
Sabtu, 21 Mei 2022 - 15:36 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
Cegah radikalisme, Kesbangpol gandeng mantan teroris ke sekolah
Sumber foto: Joko Hendrianto/elshinta.com.

Elshinta.com - Puluhan siswa SMA Muhammadiyah 1 Weleri Kendal tertegun saat Machmudi Hariono alias Yusuf menceritakan pengalamannya ketika dulu terjebak dalam jaringan teroris kelompok Jamaah Islamiyah (JI). 

Mengenakan pakai khas celana cingkrang, baju panjang mirip jubah dan rompi, jebolan santri Pondok Pesantren Al-Islam milik Amrozi itu bercerita ‘blak-blakan’ mengenai seluk beluk jaringan teroris, di Aula SMA Muhammadiyah 1 Weleri Kendal, Jumat (20/5).  

Yusuf pernah berjihad di Mindanao Filipina Selatan, sebelum akhirnya ditangkap oleh Densus 88 atas kasus kepemilikian amunisi dan 26 bom rakitan di sebuah rumah di Jalan Taman Sri Rejeki Selatan Kota Semarang, pada 2003 silam. 

Jalan gelap itu mengakibatkan Yusuf mendekam di balik jeruji besi Nusakambangan atas vonis 10 tahun dan menjalani hukuman 5,5 tahun. Yusuf masih beruntung, pasca bebas dari penjara, ia masih diberikan kesempatan untuk kembali meniti hidup dari titik nol. 

Salah satu siswa SMA Muhammadiyah 1 Weleri, Nur,  tampak antusias menyimak kisah Yusuf. Dia penasaran apa sebetulnya tujuan seseorang memilih untuk berperang atau jihad. Di tengah masyarakat Indonesia yang random, menurutnya, perilaku warga yang terpapar paham radikalisme sulit dideteksi.     

“Lantas bagaimana ciri-ciri seseorang yang terindikasi terlibat terorisme?” ucapnya melontarkan pertanyaan. 

Menanggapi itu, Yusuf menjelaskan bahwa kelompok “garis keras” memiliki perilaku yang tidak lazim. Pertama, biasanya meninggalkan hal-hal yang bersifat tradisi. “Misalnya pakaian batik. Itu dianggap jauh dari Islam. Dari segi pakaian, mereka cenderung lebih memilih kearab-araban, jubah sebagai simbol orang suci. Pakaian saat akan melakukan pengeboman,” terangnya seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Joko Hendrianto, Sabtu (21/5).  

Kedua, bisa dilihat dari cara mereka hidup bersama di tengah masyarakat. “Contohnya, dia tidak mau membuat rekening bank, tidak punya ATM, haram. Makan dari uang pegawai negeri haram. Coba tanya, bagaimana pendapatmu tentang pemerintah Indonesia? Wah, itu kafir. Itu termasuk menjadi bagian dari tanda-tanda,” terangnya. 

Materi tanya jawab seperti itu menjadi salaha satu contoh obrolan yang cukup menarik bagi para pelajar dalam kesempatan tersebut. 

Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jateng, Haerudin mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari tugas pencegahan terkait radikalisme terhadap generasi muda. 

“Mereka harus dikenalkan bagaimana ciri-ciri maupun  ancaman dari radikalisme tersebut. Untuk apa? Agar mereka bisa mengenali apa dan bagaimana radikalisme tersebut. Harapannya, generasi muda bisa ‘melawan’ radikalisme tersebut,” katanya.  

Sehingga generasi muda bisa ‘melawan’ atau menangkal radikalisme itu sendiri. Ada dua hal. Pertama upaya melakukan pencegahan. “Setelah mereka mampu mengenali, mereka akan mampu menentukan sikap untuk menjauhkan diri dari paham-paham yang berbau radikalisme,” terangnya.  

Mengenal ciri-ciri tersebut, misalnya kajian-kajian agama yang bersifat eksklusif, menjelek-jelekkan kepercayaan orang lain, atau ajakan yang mengandung ancaman kekerasan. 

“Bagaimana apabila siswa menemukan ciri-ciri seperti itu? Maka siswa diminta untuk tabbayun, meminta penjelasan atau klarifikasi kepada pendamping, baik guru di sekolah maupun orang tuanya. Jangan gampang menerima doktrin dari paham-paham yang tidak jelas,” katanya.  

Usia remaja, menurutnya, memang sangat semangat untuk memelajari hal baru. “Silakan memelajari wawasan baru, tapi harus mampu mengenali bagaimana doktrin atau paham-paham radikalisme tersebut berbahaya. Kalau berbau ancaman, kekerasan, ya jangan,” imbuhnya. 

Kedua, fenomena radikalisme hingga mengarah ke terorisme belakangan ini telah menjadi ancaman masyarakat. Maka, menurutnya, perlu dilakukan ‘jemput bola’ ke sekolah-sekolah untuk memagari generasi muda dari ancaman paham radikalisme tersebut. 

“Berdasarkan kajian Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), paling rentan adalah remaja usia 16 hingga 24 tahun. Maka diperlukan deradikalisasi atau proses penyembuhan. Itu menjadi bagian tugas kami,” katanya. 

Mengapa sosialisasi tersebut melibatkan eks narapidana terorisme (Napiter)? Menurutnya, para siswa perlu mendengarkan penjelasan dari narasumber yang kredibel. “Maka kami melibatkan narasumber mantan narapidana terorisme dan akademisi,” katanya. 

Narasumber lain, Direktur Kreasi Prasasti Perdamaian (Ruangobrol.id), Annisa Triguna   mengatakan pesatnya perkembangan teknologi internet saat ini memiliki dampak positif dan negatif. Di satu sisi, teknologi membantu memudahkan kebutuhan aktivitas manusia. Namun di sisi lain sekaligus bisa membawa dampak berbahaya. Hal ini sangat mengkhawatirkan. Sebab, remaja bahkan anak-anak setiap saat bisa mengakses internet dengan mudah. 

“Siapa di antara kalian yang tidak memiliki media sosial? Angkat tangan,” tanya Nisa kepada para siswa di forum itu. Tidak ada satu pun siswa yang angkat tangan. 

Artinya, lanjut dia, rata-rata remaja atau pelajar hampir bisa dipastikan menjadi pengguna media sosial. Seperti facebook, twitter, instagram, tiktok dan lain-lain. Fenomena ini menjadi celah bagi kelompok radikal untuk melakukan aksi propaganda dengan sasaran generasi milenial. 

“Kami di komunitas Ruangobrol.id selama ini aktif melakukan riset mengenai berbagai fenomena radikalisme dan terorisme ini. Riset-riset tersebut juga dikemas ke dalam sejumlah film dokumenter. Di antaranya film berjudul ‘Jihad Selfie’, mengisahkan tentang perjalanan seorang pelajar asal Indonesia di Turki yang memutuskan menjadi pejuang ISIS (Islamic State of Iraq and Syria),” katanya.   

Film lainnya yakni berjudul “Pengantin” yang mengisahkan seluk beluk pelaku bom bunuh diri. Viking The Imam, kisah pelajar SMA yang merupakan anak seorang pejabat penting di Batam. “Dia memutuskan hijrah ke Suriah. Bahkan sekeluarga akhirnya juga ikut atas ajakannya,” ujarnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Mitra Kampus Merdeka, Ngalup Collaborative Network buka kesempatan magang
Rabu, 06 Juli 2022 - 09:55 WIB
Kebutuhan digitalisasi tidak dapat dibendung lagi apalagi di kalangan perguruan tinggi atau kampus. ...
100 anak yatim ikuti pesantren kilat Pemkot Magelang
Senin, 04 Juli 2022 - 14:04 WIB
Sekitar 100 anak yatim mengikuti pesantren kilat yang diselenggarakan Pemkot Magelang di Pondok Pesa...
Rektor UBP: KKN bukan sebatas buat gapura dan papan jalan
Senin, 04 Juli 2022 - 11:24 WIB
Rektor Universitas Buana Perjuangan (UBP) Karawang, Jawa Barat, Prof. Dr. H. Dedi Mulyadi, SE., MM b...
 Fakultas Teknik Unma serahkan hibah internal tungku pembakaran sampah
Senin, 04 Juli 2022 - 10:14 WIB
Desa Rajagaluh Lor, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat menerima hibah internal tu...
Mahasiswa STIE STMY Majalengka gelar KKM di Kecamatan Leuwimunding
Sabtu, 02 Juli 2022 - 10:55 WIB
Sebanyak 195 mahasiswa STIE STMY Majalengka Jabar, tahun akademik 2021/2022 melaksanakan kuliah kerj...
Santri se-Jateng ikuti santripreneur
Jumat, 01 Juli 2022 - 21:35 WIB
Lebih dari 200 santri dan pemuda di Jawa tengah  mengikuti pelatihan untuk menjadi wirausaha. Kegia...
Indonesia belum terbebas dari ancaman dan aksi terorisme
Rabu, 29 Juni 2022 - 07:11 WIB
Terorisme adalah sebuah ancaman nyata bagi kelangsungan hidup masyarakat, termasuk di Indonesia. Bah...
Menteri PPPA: Kasus kekerasan seksual di ponpes jadi alarm pengawasan
Selasa, 28 Juni 2022 - 16:38 WIB
Menteri PPPA Bintang Puspayoga menegaskan kasus kekerasan seksual yang terus berulang di pondok pesa...
Plt Bupati Langkat apresiasi lima pelajar lolos paskibraka tingkat provinsi
Selasa, 28 Juni 2022 - 13:16 WIB
Lima orang pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka) Kabupaten Langkat lolos sebagai anggota pask...
50 kepala sekolah SD hingga SMP se-Malangraya ikuti `PointStar for Education`
Senin, 27 Juni 2022 - 19:58 WIB
Guna mengikuti perkembangan jaman dan teknologi serta pengkajian ulang dalam Rencana Undang-Undang (...
InfodariAnda (IdA)