Kasus First Travel dan Koperasi Mitra Perkasa jadi disertasi raih gelar doktor di UI 
Elshinta
Kamis, 06 Januari 2022 - 14:36 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
Kasus First Travel dan Koperasi Mitra Perkasa jadi disertasi raih gelar doktor di UI 
Sumber foto: Hendrik Raseukiy/elshinta.com.

Elshinta.com - Tindak pidana finansial oleh First Travel (FT) Umrah di Kota Depok dan Koperasi Serba Usaha (KSU) Mitra Perkasa (MP) Probolinggo adalah kejahatan kerah putih. 

Determinan pendorong pelaku kejahatan finansial tersebut diantaranya ialah faktor sosio-ekonomi, yang mengacu kepada nature of industry. 

Gambaran nature of industry di antaranya ialah menawarkan kemudahan, memberikan harga murah serta keuntungan yang berlimpah dalam waktu yang singkat. Sedangkan, affinity frauds, merujuk pada eksploitasi isu agama yang dapat menarik minat karakteristik masyarakat Indonesia. 

Supriyanto berhasil meraih gelar 'doktor' setelah berhasil mempertahankan disertasinya yang berjudul Determinan Kejahatan Kerah Putih: Criminaloid dan Organizational Criminogenic Elaborasi Terhadap Kasus-Kasus Kejahatan Finansial di Indonesia, di Kampus Universitas Indonesia (UI), Kota Depok, Jawa Barat, Rabu (5/1).

”Determinan lainnya ialah karakteristik sosio-ekonomi korban di Indonesia. Serta, terdapat juga kondisi penegakan hukum dan politik yang cenderung koruptif, sehingga dari sisi individu pelaku dan korporasi akan menjadikan kondisi tersebut sebagai jalan yang menetralisir serta 'melegitimasi' perilaku menyimpang mereka," ujar Komisaris Polisi Dr. Suprianto seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Hendrik Raseukiy, Kamis (6/1).

Kompol Supriyanto meraih gelar Doktor dengan predikat cumlaude dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Departemen Kriminologi, Program Pascasarjana, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP UI) dalam masa studi 3,5 tahun dengan IPK 3,72. 

Sidang disertasi ini dipimpin oleh Prof Drs Adrianus E Meliala PhD beserta Prof Dr Semiarto Aji, Prof Dr Topo Santoso, Prof Dr Indriyanto Seno, Prof Dr Marcus Priyo, Dr Dra Ni Made Martini, Dr Vinita Susanti, dan Dr Iqrak Sulhin.

Dijelaskan Supriyanto, kasus perusahaan travel umrah, Fisrt Travel (FT) sekira Juli 2017. Diketahui bahwa idealnya FT memberangkatkan jamaah dengan biaya sekita Rp17 juta. Untuk menutup kekurangan memberangkatkan jamaah umrah promo diambil dari uang jamaah promo yang telah membayar lunas tahun berikutnya. 

Kemudian, apabila FT tidak mampu memberangkatkan jamaah umrah promo dengan uang yang dibayarkan atau disetorkan ke rekening FT, maka FT menggunakan uang jamaah umrah promo yang telah dibayarkan tahun berikutnya. 

Selanjutnya, studi kasus kedua yaitu, kasus Koperasi Serba Usaha (KSU) Mitra Perkasa (MP) sekira bulan Mei 2019. Tak hanya dilaporkan ke Polres Kota Probolinggo Kota dan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Timur. MP juga dilaporkan ke Pengadilan Niaga Surabaya.

Kasus bermula saat Koperasi MP menipu ribuan nasabahnya yang berinvestasi. Para korban dijanjikan keuntungan di atas 10 persen terhadap para nasabah, dari mulai level anggota hingga tingkatan Leader, Gold, dan Diamond. Setiap Leader dijanjikan keuntungan sebesar 20 persen dari investasi nasabah, namun harus berinvestasi awal sebesar Rp500 juta hingga Rp2 miliar.

Setiap modal yang disimpan akan mendapatkan keuntungan sebesar 10 persen dari uang yang disetorkan dan simpanan tidak hilang dan bila jatuh tempo modal dikembalikan. 

Namun, yang terjadi para korban hanya sebagian yang diberikan keuntungan dan setelah jatuh tempo para korban tidak dapat menarik dana simpanannya. 

Baik kasus FT dan Koperasi MP telah memenuhi 6 aspek criminaloid yaitu, pertama tidak ditemukan karakteristik fisik dan psikologis tertentu seperti egoisme yang tinggi, 

"Kedua, para pelakunya telah menerapkan teknik netralisasi yaitu denial of responsibility, denial of injury, denial of victim, condemn the condemners, appeal to higher loyalties, dan denial of responsibility," sebut Supriyanto. 

Kemudian, ketiga, pengendalian diri yang rendah dan rasionalisasi yang tinggi terhadap kejahatan sehingga memberikan keyakinan dalam melakukan kejahatan. 

Keempat, pengakuan palsu atas sosok yang terpengaruh budaya hedonisme dan alternative hedonism. 

Kelima, rendahnya sensitivitas moral dan kecerdasan, dalam hal ini berkaitan dengan moral force yang terkait dengan attachment; involvement; commitment; dan belief. 

Keenam, status sosial dan budaya yang sifatnya overconfidence and over-appreciation for self- authority. 

Peneliti telah membuktikan bahwa criminaloid telah berkontribusi dalam kejahatan korporasi, khusus pada kejahatan finansial penggelapan. 

Dinamika dalam criminaloid diantaranya ketiadaan karakteristik fisik dan psikologis; keraguan dalam bertindak; mudahnya memberikan pengakuan; sensitivitas moral; kecerdasan dan status sosial serta budaya. 

Terkait hal tersebut pun, peneliti telah menemukan bahwa konteks pekerjaan atau profesi yang digunakan merujuk pada pelanggaran yang terjadi selama kegiatan kerja berlangsung dan berkaitan dengan pekerjaan. 

Maka dari itu, kejahatan tersebut dilakukan dengan menciptakan dan memanfaatkan kesempatan melalui legitimasi pekerjaan. 

Kondisi ini yang mendorong dinamika organizational criminogenic dalam kejahatan korporasi tumbuh subur dan sulit diterka. 

Dinamika dalam organizational criminogenic antara lain adalah orientasi profit, keberlangsungan bisnis, pencapaian target, loyalitas kelompok, persepsi bisnis, dan distribusi tanggung jawab pimpinan korporasi. 

Lebih jauh, peneliti menemukan bahwa fokus dalam organizational criminogenic adalah celah dalam proses korporasi, aspek pengawasan, yang bertemu dengan dorongan motivasi keuntungan pribadi. 

Kasus kejahatan finansial FT Koperasi MP, peneliti menemukan kebaruan bahwa penyebab terjadinya kejahatan, tidak ada satu determinan yang paling dominan, namun penyebabnya justru karena aspek criminaloid dan organizational criminogenic yang berkelindan dalam satu kasus yang sama, serta kehadiran determinan lainnya yang menghubungkan criminaloid dan organizational criminogenic, sehingga menimbulkan kejahatan, yaitu aspek situational criminogenic. 

Peneliti melihat bahwa motivasi melakukan kejahatan finansial adalah keuntungan. Di mana motivasi memperoleh keuntungan hadir di dalam pribadi individu yang memiliki kecenderungan criminaloid serta hadirnya tempat, berupa sebuah perusahaan, sebagai wadah untuk mengumpulkan keuntungan yang memiliki kecenderungan organizational criminogenic. 

Ketika dua aspek tersebut terdapat dalam satu wadah yang sama, yang kemudian berkelindan dengan determinan situational criminogenic, seperti nature of industry, affinity frauds, serta karakteristik sosio-ekonomi Indonesia, maka muncullah korban-korban dari First Travel dan Koperasi Pandawa. 

Hasilnya, pada aspek criminaloid didapati pelaku memiliki kecenderungan untuk mudah memberikan pengakuan, memiliki status sosial dan budaya tertentu, sensitivitas moral, memiliki kecerdasan, serta keterampilan, namun ragu dalam bertindak. 

Sedangkan, untuk aspek organizational criminogenic, didapati pelaku berada pada lingkungan dengan ambisi keuntungan, memiliki persepsi bisnis tertentu, bersikap loyal terhadap kelompoknya serta sumber daya manusia yang cenderung homogen. 

Melalui hasil penelitian ini, ditemukan bahwa kejahatan finansial dapat terjadi karena dua aspek kejahatan yaitu criminaloid dan organizational criminogenic bertemu dengan situasi (situational criminogenic) yang mendukung terjadinya kejahatan finansial. 

Temuan dalam disertasi ini diharapkan mampu membantu aparat penegak hukum baik kepolisian negara atau otoritas keuangan, tidak hanya melihat kejahatan finansial dari satu sisi saja, namun melihat dari sisi yang kompleks dalam kejahatan korporasi, sebagaimana yang menjadi hasil penelitian ini. 

Kemudian, pemerintah juga dapat mempertimbangkan dinamika situational criminogenic sebagai faktor-faktor yang dapat mendukung terjadinya kejahatan korporasi. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Sekolah di Salatiga tetap bermasker
Sabtu, 28 Mei 2022 - 17:24 WIB
Dinas Pendidikan Kota Salatiga, Jawa Tengah tetap menerapkan protokol kesehatan (Prokes)  dengan pe...
367 guru di Kudus diangkat jadi PPPK
Sabtu, 28 Mei 2022 - 15:25 WIB
Bupati Kudus Jawa Tengah H.M. Hartopo memberikan SK Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak (PP...
Diwisuda, Putra Panglima TNI raih gelar ganda dari UGM dan University of Melbourne 
Jumat, 27 Mei 2022 - 14:45 WIB
Panglima TNI Jendral Andika Perkasa bangga atas keberhasilan putranya yang berhasil menyelesaikan pe...
 Mahasiswa yang ditangkap Densus 88 ternyata mahasiswa Universitas Brawijaya
Jumat, 27 Mei 2022 - 14:25 WIB
Universitas Brawijaya Malang membenarkan IA yang ditangkap Densus 88 di Kota Malang pada Senin (23/5...
Kemendikbudristek terbitkan 27 SK pembukaan prodi D-2 Jalur Cepat
Rabu, 25 Mei 2022 - 19:15 WIB
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menerbitkan sebanyak 27 ...
Toleransi di UB masuk kategori sedang 
Selasa, 24 Mei 2022 - 12:16 WIB
Semua pengambil kebijakan di Universitas Brawija Malang harus segera mengambil langkah cepat untuk ...
Satgas Yonif 126/KC bangun karakter anak-anak di perbatasan Papua
Selasa, 24 Mei 2022 - 11:34 WIB
Satgas Yonif 126/KC Pos Tatakra mengajarakan pendidikan karakter kepada anak-anak SD Inpres Fafinimb...
Polsek Muara Satu amankan UTBK di Kampus Unimal
Senin, 23 Mei 2022 - 11:15 WIB
Polsek Muara satu melakukan kawal ujian Terbuka Berbasis Komputer (UTBK) di Kampus Unimal Bukit Inda...
ITN Malang siap jadi universitas
Minggu, 22 Mei 2022 - 15:06 WIB
Universitas di Kota Malang, Jawa Timur bakal bertambah, salah satunya yang tengah dilakukan Institut...
Prof Widodo terpilih jadi Rektor UB Periode 2022-2027
Sabtu, 21 Mei 2022 - 19:35 WIB
Untuk kali pertama dalam sejarah pemilihan rektor UB berhasil memilih rektor melalui musyawarah untu...
InfodariAnda (IdA)