Sistem lelang hindari petani cabai dari tengkulak 
Elshinta
Kamis, 30 Desember 2021 - 20:22 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
Sistem lelang hindari petani cabai dari tengkulak 
Sumber foto: Kurniawati/elshinta.com.

Elshinta.com - Petani cabai di wilayah lereng Gunung Merbabu, Kabupaten Magelang mendapatkan berkah dengan tingginya harga cabai. Apalagi, penentuan harga dilakukan dengan sistem lelang sebagai upaya untuk menghindari tengkulak.

Suasana ramai selalu terjadi setiap hari  di rumah ketua kelompok tani Maju Wanteyang, Armando. Disini digelar lelang cabai. Petani sejak siang sudah menyetorkan hasil panenannya. Sebenarnya tidak hanya cabai yang di lelang, namun juga hasil holtikultura lainnya seperti kol, brokoli, terong, kacang panjang, tomat dan semacamnya.

Saat petani menyetor cabai, istri Armando bertugas mencatat berapa banyak cabai yang di lelang. Anggota kelompok tani lainnya ada yang bertugas memilah komoditas. Ada pula yang menimbang. "Kita bagi-bagi tugas baik laki-laki maupun perempuan," kata Armando seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Kurniawati, Kamis (30/12).

Ia mengatakan, sistem lelang ini di gagas oleh Kepala Desa Lebak, Anwari sejak beberapa tahun lalu. Sistem ini dinilai sangat  menguntungkan petani karena harga di patok secara transparan dan riil. "Para petani ini mendapatkan angin segar ditengah pedas nya harga cabai dipasaran," ujarnya.

Bagaimana tidak, dengan menggunakan sistem lelang terbuka para petani ini mendapatkan kepastian harga yang maksimal mengikuti pasar tanpa permainan tengkulak. "Yang menentukan harga para peserta lelang yang sebagian besar pedagang. Mereka akan memulai melelang usai Ashar melalui pesan singkat Whatshap," terang Armando.

Biasanya, tawar menawar lelang akan berlangsung hingga maghrib. Dirinya akan mencari harga tertinggi. "Kita tutup saat maghrib dan menemukan lelang dengan harga tertinggi," paparnya.

Menurut Armando, dengan sistem lelang ini,  para petani hanya dikenakan biaya administrasi seribu rupiah  setiap kilogramnya. Dari uang Rp 1.000, sebesar Rp 500 ribu  untuk kas masjid dan sisanya untuk administrasi. Seperti halnya kesepakatan harga pada Kamis (30/12) yang menyentuh harga 63 ribu rupiah perkilogram cabe rawit merah atau dikenal dengan rawit "setan",  dengan jumlah hasil panen mencapai 1,5 ton.

Dengan naiknya harga cabai saat ini, setiap petani bisa mendapatkan hasil 900 ribu hingga tujuh juta setiap kali panen, dengan waktu dua kali panen dalam satu minggu. Mereka menilai keuntungan tersebut menjadi berkah karena tidak jarang para petani cabai menemukan harga anjlok yang membuat merugi. 

Petani akan mendapatkan uang hasil panennya di keesokan hari, setelah pedagang membayar lelang. Oleh Armando, uang yang diserahkan petani sudah di kemas dalam plastik dan diberi tulisan nama petani serta jumlah cabai yang di setor dan jumlah uangnya.

Widodo, salah satu petani, hasil panen  cukup lumayan, kalau dibandingkan dengan teman petani lainnya dengan selisih harga Rp 2000 rupiah setiap kilogramnya. "Ini saya terima 915 ribu dengan cabai sebanyak 12,5 kg dengan harga perkilonya 72 ribu," ungkapnya.

Ade Sri Kuncoro,  Kabid Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian dan Pangan  Kabupaten Magelang menambahkan, sistem lelang menurutnya sangat positif. Karena karena pertama memberikan harga kepastian kepada petani, kemudian pangsa pasarnya jelas mau dibawa kemana,. "Jadi  petani tahu  hasil panennya itu mau dibawa kemana," katanya.

Berbeda kalau mereka mandiri  dibawa ke pasar sendiri, karena harga akan menyesuaikan saat negosiasi pasar. Di kelompok Tani Maju wanteyan ini, imbuh Ade, ada ada kegiatan petani datang  membawa hasilnya kemudian ditimbang nanti  akan dikasih tahu jalannya pergerakan harga. Mereka menanti harga tertinggi saat Maghrib. Harga itulah yang akan diperoleh para petani. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rupiah Selasa pagi menguat 11 poin
Selasa, 24 Mei 2022 - 09:27 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi menguat 11 poin
IHSG Selasa dibuka menguat 18,45 poin
Selasa, 24 Mei 2022 - 09:15 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa dibuka menguat 18,45 poin
Kantor PLN di Bali diterangi listrik PLTS atap
Senin, 23 Mei 2022 - 15:11 WIB
PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Bali berkomitmen dalam penambahan kapasitas pembangkit berbas...
Ekspor CPO kembali dibolehkan, Polda Sumut perketat awasi distribusi minyak goreng
Senin, 23 Mei 2022 - 11:34 WIB
Polda Sumatera Utara akan memperketat pengawasan terhadap distribusi minyak goreng dan mewanti-wanti...
IHSG menguat seiring fokus pasar tertuju ke rapat Bank Indonesia
Senin, 23 Mei 2022 - 10:10 WIB
Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (23/5) pagi menguat seiring...
Rupiah Senin pagi melemah tipis 2 poin
Senin, 23 Mei 2022 - 09:59 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi melemah tipis 2 p...
IHSG Senin dibuka menguat 12,8 poin
Senin, 23 Mei 2022 - 09:47 WIB
Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin dibuka menguat 12,8 poin
Gerbang Tami, jadi terobosan Sukoharjo cetak petani muda
Minggu, 22 Mei 2022 - 18:11 WIB
Dorong regenerasi petani, Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah mendeklarasikan petani milenia...
Wali Kota Magelang dukung munculnya wirausaha budidaya `tabulampot`
Minggu, 22 Mei 2022 - 17:07 WIB
Wali Kota Magelang dr. Muchamad Nur Aziz memberikan motivasi kepada peserta pelatihan berwirausaha b...
Layanan sertifikat energi baru terbarukan, solusi energi bersih dari PLN 
Minggu, 22 Mei 2022 - 16:55 WIB
Kesadaran para pelaku usaha dalam pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) semakin meningkat. PT PLN...
InfodariAnda (IdA)