Lika liku diabetes pada anak

Elshinta
Minggu, 14 November 2021 - 17:11 WIB |
Lika liku diabetes pada anak
ilustrasi diabetes (Pexel)

Elshinta.com - Ayah dan bunda terkadang dibuat kebingungan oleh si kecil yang mudah sekali merasa lapar dan haus, namun berat badannya tak kunjung bertambah tapi justru menjadi semakin kurus.

Ada juga orang tua yang kebingungan dalam menghadapi nafsu makan anaknya yang berlebihan, terutama kecintaan anaknya pada panganan tinggi gula sehingga bobot tubuhnya kian meningkat. Apalagi muncul parut kehitaman menyerupai daki di bagian tengkuk, leher, ketiak serta lekuk sikut.

Bila si kecil mengalami dua kondisi seperti di atas, tidak ada salahnya ayah dan bunda memeriksakan kadar gula anak. Karena hal-hal yang terjadi pada anak di atas merupakan sebagian dari gejala diabetes melitus.

Diabetes melitus adalah kondisi medis kronis yang menyebabkan masalah dengan kemampuan tubuh untuk mengubah makanan - terutama gula (karbohidrat) - menjadi bahan bakar bagi tubuh.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi IDAI Dr Muhammad Faizi, SpA(K) dalam sebuah webinar mengatakan bahwa terdapat empat bentuk diabetes, namun hanya dua yang paling umum dikenal oleh masyarakat yaitu diabetes tipe 1 dan tipe 2. Kedua bentuk diabetes ini dapat terjadi pada usia berapa pun termasuk anak-anak.

Diabetes tipe 1 terjadi karena pankreas tidak menghasilkan cukup hormon insulin yang dapat mengatur glukosa di dalam aliran darah. Sebaliknya, diabetes tipe 2 terjadi akibat tingginya hormon insulin yang diproduksi tubuh, namun hormon ini tidak bisa bekerja sebagaimana seharusnya. Akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tidak terkontrol.

"Apabila anak mengalami gejala 3P dan ada riwayat diabetes di dalam keluarga, tidak ada salahnya orang tua memeriksakan kadar gula anak," ujar Faizi.

Gejala 3P yang dimaksud adalah anak sering merasa lapar (polifagi), sering merasa haus (polidipsi) dan sering buang air kecil di malam hari (poliuri). Tiga gejala yang kerap disebut 3P tersebut merupakan gejala umum pada penderita diabetes melitus tipe 1 dan bisa terjadi pada anak.

Gejala 3P ini patut dicurigai pada anak dengan nafsu makan besar namun memiliki tubuh yang kurus bahkan sulit untuk gemuk. Selain itu, meskipun sudah mengkonsumsi banyak makanan, anak tampak mudah lelah seperti tidak berenergi.

Ketika pankreas tidak menghasilkan cukup hormon insulin, maka tubuh tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan glukosa yang dikonsumsi, sehingga jumlah glukosa dari makanan akan menumpuk di aliran darah.

Laman healthychildren menyebutkan bahwa identifikasi gejala diabetes tipe 1 sejak dini adalah penting. Kadar gula darah tinggi dan dehidrasi yang disebabkan oleh diabetes yang tidak terkontrol berbahaya dan dapat menyebabkan anak-anak membutuhkan insulin dan cairan intravena.

Sementara pada anak dengan diabetes tipe 2, gejala serupa (3P) juga dialami namun disertai dengan adanya area kulit yang gelap, terutama di sekitar leher atau ketiak yang disebut dengan Acanthosis nigricans.

Hal lain yang membedakan diabetes tipe 2 dari tipe 1 adalah, anak cenderung memiliki tubuh yang gemuk hingga obesitas. Kondisi tubuh gemuk ini akibat dari pola makan tinggi gula (karbohidrat sederhana) namun insulin tidak memiliki kemampuan mumpuni dalam mengolah tingginya glukosa dari konsumsi gula berlebih itu.

Diabetes tipe 2 kerap disebut diabetes “dewasa”, karena anak-anak hampir tidak pernah mendapatkannya. Namun, dengan meningkatnya angka obesitas pada masa kanak-kanak, semakin banyak anak yang didiagnosis dengan diabetes tipe 2.

Salah satu teori menyebutkan gaya hidup dan pola makan menjadi faktor utama pemicu meningkatnya kasus diabetes tipe 2 pada anak-anak terutama pada masa pandemi.

Hal ini dipicu dari minimnya ruang gerak dan aktivitas anak, namun asupan pangan dengan indeks glikemik tinggi terus meningkat dan merangsang insulin keluar dalam waktu kronik. Faizi pun meminta para orang tua untuk bisa menjaga pola makan anak yang sehat dan tetap beraktivitas supaya terhindar dari diabetes tipe 2.

"Selain masalah berat badan atau gaya hidup, faktor risiko lain diabetes tipe 2 pada anak-anak termasuk genetik atau ada riwayat keluarga dengan diabetes," jelas Faizi.

Healthychildren juga menyebutkan ada faktor lain yang menyebabkan diabetes tipe 2 pada anak seperti dilahirkan dari ibu yang menderita diabetes saat hamil (diabetes gestasional), atau masalah medis lain yang memengaruhi cara tubuh menangani insulin.

Seumur hidup
Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang bila tidak terkontrol akan menyebabkan banyak komplikasi lain seperti gagal ginjal, gagal jantung, kebutaan, kerusakan sistem saraf dan penyakit kronis lainnya.

Karena alasan itulah Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) menyebut diabetes sebagai induk dari segala penyakit kronis tidak menular

"Ini adalah penyakit tidak menular yang menggerogoti tubuh bila tidak terkendali dan juga menggerogoti biaya kesehatan yang tidak sedikit," ujar Piprim.

Piprim mengatakan bahwa bila sejak kecil seseorang sudah terdiagnosa diabetes tipe 1 atau tipe 2, maka potensi untuk mengalami penyakit tidak menular kronis lain saat dewasa akan jauh lebih tinggi.

Oleh sebab itu, bila seorang anak sudah terdiagnosa diabetes maka penting sekali untuk melakukan kendali metabolik dan terkontrol supaya anak dengan diabetes bisa memiliki kualitas hidup yang baik.

"Begitu sudah didiagnosa diabetes maka there's no turning back, ini penyakit seumur hidup dan anak itu sampai besar harus hidup dan berdamai dengan diabetes dalam tubuhnya," jelas Piprim.

Meskipun tidak ada obat untuk diabetes, anak-anak dengan penyakit ini dapat menjalani kehidupan normal jika kadar gula dalam darah tetap terkendali.

Mengelola penyakit diabetes harus berfokus pada pemantauan gula darah, pengobatan seperti terapi insulin yang diberikan dalam bentuk suntikan beberapa kali dalam sehari atau bisa juga dalam bentuk pompa insulin.

Yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak dengan diabetes dapat menjaga pola makan yang sehat dan menghindari gaya hidup sedentary, setidaknya tiga puluh menit olahraga ringan setiap harinya dapat membantu anak-anak dalam mengelola penyakit ini.

"Anak dengan diabetes juga bisa berprestasi, mereka juga bisa meraih mimpi dan cita-cita, asalkan rajin memonitor kadar gula darah, menjaga pola hidup sehat agar metabolik tetap terkontrol," ujar Prof Dr dr Aman Pulungan, SpA(K), FAAP, FRCPI (Hon.)

Aman yang merupakan anggota Dewan Penasehat Physician International Society for Pediatric and Adolescent Diabetics (ISPAD) juga meminta seluruh pihak baik orang tua, sekolah maupun pemerintah untuk bahu-membahu menjaga generasi penerus bangsa ini supaya memiliki tubuh sehat dan bugar.

Untuk para orang tua, Aman mengimbau agar pola makan sehat dan gaya hidup aktif selalu diterapkan di dalam keseharian anak. Memberikan anak makanan dengan indeks glikemik rendah dan tidak segan memeriksakan kadar gula darah anak juga perlu menjadi satu kebiasaan sehat.

Sementara untuk pihak sekolah, Aman merasa sangat penting untuk menjaga pasokan makanan di kantin sekolah dengan makanan sehat dan bergizi. Jangan sampai pola makan sehat diterapkan di rumah, namun "bocor" ketika anak membeli jajanan di sekolah.

"Selain pola makan sehat dan gaya hidup sehat, penting sekali untuk mempermudah akses insulin bagi anak-anak dengan diabetes tipe 1. Karena meskipun insulin sudah ditemukan sejak 100 tahun lalu, akses untuk mendapatkannya masih belum merata di negara ini," ujar Aman.

Kiranya Hari Diabetes Sedunia tidak hanya menjadi sekedar peringatan yang diisi dengan aneka seminar dan webinar, namun momentum ini juga bisa mencetuskan banyak agen perubahan untuk generasi yang lebih sehat dan bahagia.

Penting untuk semua pihak bekerja sama demi menurunkan angka kematian akibat diabetes hingga dua persen, dan kasus koma diabetes juga diturunkan menjadi 30 persen. Kuncinya adalah gaya hidup sehat dan jangan segan untuk skrining serta mengontrol kadar gula darah Anda dan keluarga.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.

Baca Juga

 
Studi HCC sebut ibu menyusui butuh dukungan suami dan keluarga inti
Rabu, 10 Agustus 2022 - 11:06 WIB

Studi HCC sebut ibu menyusui butuh dukungan suami dan keluarga inti

Penelitian dari Health Collaborative Center (HCC) menunjukkan sebanyak 90 persen atau 1.810 responde...
Tips menyusui agar kebutuhan kalori bayi tercukupi
Minggu, 07 Agustus 2022 - 17:23 WIB

Tips menyusui agar kebutuhan kalori bayi tercukupi

Bagi ibu baru pengalaman menyusui untuk kali pertama menjadi sebuah tantangan tersendiri, karena ibu...
Keterlibatan orang tua dorong keberhasilan edukasi gizi pada anak
Jumat, 05 Agustus 2022 - 08:39 WIB

Keterlibatan orang tua dorong keberhasilan edukasi gizi pada anak

Pakar gizi dan kesehatan dari Universitas Indonesia (UI) Ahmad Syafiq, Ir, MSc, PhD menilai keterli...
Ajak anak berkegiatan bantu kurangi kecanduan gadget
Jumat, 05 Agustus 2022 - 07:45 WIB

Ajak anak berkegiatan bantu kurangi kecanduan gadget

Menyediakan kegiatan lain untuk anak dapat membantu mereka terlepas dari kecanduan gadget, demikian ...
Wapres: Pemerintah fokus turunkan angka kasus stunting di 12 provinsi
Kamis, 04 Agustus 2022 - 15:25 WIB

Wapres: Pemerintah fokus turunkan angka kasus stunting di 12 provinsi

Wakil Presiden (Wapres) Ma\\\'ruf Amin mengatakan bahwa pemerintah fokus berusaha menurunkan angka ...
Dokter ingatkan orang tua kawal 1.000 hari pertama kehidupan anak
Selasa, 02 Agustus 2022 - 20:11 WIB

Dokter ingatkan orang tua kawal 1.000 hari pertama kehidupan anak

Dokter Spesialis Anak dr. Ardi Santoso mengatakan bahwa proses tumbuh kembang 1.000 hari pertama keh...
Dokter izinkan orang tua beri variasi rasa untuk makanan anak
Selasa, 02 Agustus 2022 - 16:57 WIB

Dokter izinkan orang tua beri variasi rasa untuk makanan anak

Dokter spesialis anak dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta Ardi Santoso mengizinka...
Cegah perkawinan anak jadi tanggung jawab bersama
Senin, 01 Agustus 2022 - 16:36 WIB

Cegah perkawinan anak jadi tanggung jawab bersama

Perkawinan anak  menjadi agenda pembangunan global, hal ini sesuai dengan target dan  tujuan pemb...
Cara orang tua dukung minat anak jadi `gamer` tanpa imbas kecanduan
Senin, 25 Juli 2022 - 07:31 WIB

Cara orang tua dukung minat anak jadi `gamer` tanpa imbas kecanduan

Psikolog anak, remaja dan keluarga Rosdiana Setyaningrum, MPsi, MHPEd mengatakan orang tua tetap bis...
Penyebab dan cara atasi anak kecanduan `gadget`
Senin, 25 Juli 2022 - 06:15 WIB

Penyebab dan cara atasi anak kecanduan `gadget`

Psikolog Prof. Dr. H. Seto Mulyadi, S. Psi., M.Si atau yang akrab disapa Kak Seto menyebutkan bahwa ...

InfodariAnda (IdA)