Tekfin akan picu munculnya bisnis-bisnis baru
Elshinta
Jumat, 12 November 2021 - 08:59 WIB |
Tekfin akan picu munculnya bisnis-bisnis baru
Ilustrasi: Fintech OY! (ANTARA/Forwat)

Elshinta.com - Maraknya perkembangan teknologi finansial (tekfin) di Indonesia diyakini bakal memicu munculnya bisnis-bisnis baru berkat semakin efisiennya proses transaksi bisnis.

Ketika transaksi non tunai semakin umum di masyarakat, maka akan muncul bisnis-bisnis baru di industri ini, kata Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, dalam diskusi virtual bertajuk "Peran Fintech Dorong Ekonomi Digital Indonesia" yang digelar Forum Wartawan Teknologi (Forwat) baru-baru ini.

"Jadi semakin cashless akan terjadi efisiensi dan terus muncul bisnis-bisnis digital. Ini akan menciptakan tenaga kerja yang lebih besar lagi dan tentunya mendorong ekonomi Indonesia,” kata Bhima, sebagaimana dikutip dari pernyataan pers, Jumat.

Tekfin diprediksi memiliki peran besar terhadap percepatan pemulihan ekonomi. Bahkan, Presiden Joko Widodo menyatakan harapannya bahwa keberadaan fintech akan turut mendorong Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia tahun 2030.

Berdasarkan riset CEIC, Indonesia menjadi negara kedua terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan perputaran uang kartal dan giral dengan nilai 1,5 triliun dolar pada tahun 2020. Di posisi puncak ada Singapura yang memiliki perputaran uang sebesar 2,3 triliun dolar pada periode yang sama.

Perputaran uang itu terjadi dalam berbagai bentuk transaksi antara lain bank tradisional, uang tunai, pemerintah, perusahaan fintech, e-money, serta digital bank.

"Indonesia itu unik sebagai salah satu negara dengan perputaran uang yang sangat besar. Perputaran uangnya itu lewat beragam media. Ada yang digital dan ada pula yang cash," kata Jesayas Ferdinandus, CEO perusahaan tekfin OY!Indonesia.

OY!, kata Jesayas, menghadirkan layanan transaksi tunai dan non tunai. Alasan mengapa ada layanan transaksi tunai karena ternyata sebanyak 85 persen transaksi di Indonesia masih menggunakan cash. Meski banyak UMKM yang mencoba menjual barang secara online, faktanya masih banyak di antara mereka yang menggunakan cash.

“UMKM itu walaupun mencoba jualan online, transaksi mereka masih banyak yang cash. Kami ingin support mereka. Oleh sebab itu, kami tidak hanya memberikan layanan untuk sistem online saja,” jelas dia.

Menurut dia, saat ini sudah banyak perusahaan teknologi yang telah memanfaatkan teknologi pengelolaan money movement di OY! Indonesia, salah satunya KoinWorks. KoinWorks merupakan platform peer to peer (P2P) lending yang banyak menjaring segmen pelaku usaha.

Jonathan Bryan, Chief Marketing Officer KoinWorks menyebut keberadaan OY! Indonesia sangat membantu dalam pengelolaan keuangan. "Mungkin bisa dibayangkan, kita punya 1 juta customer. Kita harus transfer yang nominalnya tidak hanya Rp10 juta saja, bisa lebih dari itu. Atau untuk pengembalian kepada costumer. Bayangin kalau transaksi itu harus dilakukan tim finance kita. Itu imposible. Dengan teknologi yang dipunya OY! Indonesia kita tak perlu approval dari atasan,” jelasnya.

Bhima menganggap keberadaan platform OY! Indonesia mampu memberikan efisiensi di industri fintech di tengah ramainya pelaku teknologi finansial. Dengan demikian, diperlukan kolaborasi antara perusahaan fintech. Jika tidak, akan sulit untuk bertahan di industri yang masif ini.

Bila dilihat dari produk dan layanan yang ditawarkan OY! Indonesia, mereka mampu membantu mengelola transaksi yang terjadi dalam sebuah bisnis mulai dari hulu sampai dengan hilir. Mulai dari payroll, pengiriman uang, pembayaran invoice, uang masuk, cash management (digital money movement).

Bahkan, OY! Indonesia memiliki cash in transit di 10 kota di Indonesia serta penyediaan mesin ATM (offline money movement).

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Renault bermitra dengan Geely
Sabtu, 22 Januari 2022 - 11:47 WIB
Raksasa otomotif Prancis, Renault Group, bermitra dengan Geely Holding Group China untuk mengembangk...
Twitter blokir miliarder Meksiko karena berperilaku kasar
Kamis, 20 Januari 2022 - 10:38 WIB
Twitter mengatakan bahwa mereka telah memblokir akun miliarder Meksiko Ricardo Salinas Pliego karena...
Kelola keuangan saat pandemi, buat tiga pos utama untuk pengeluaran
Rabu, 19 Januari 2022 - 19:39 WIB
Pandemi COVID-19 membuat sebagian orang mengalami penurunan pemasukan, tak sedikit juga yang kondisi...
Mengenal kepribadian diri dari warna pakaian
Selasa, 18 Januari 2022 - 23:45 WIB
Kepribadian seseorang tidak hanya terlihat dari sifat yang dimiliki, tetapi juga bisa tergambarkan d...
Shell Indonesia hadirkan solar berstandar Euro 5
Selasa, 18 Januari 2022 - 20:45 WIB
Shell Indonesia menghadirkan bahan bahar solar V-Power Diesel berstandar Euro 5 yang menyasar penggu...
Ketahui bahaya swafoto KTP-el menjadi NFT
Selasa, 18 Januari 2022 - 09:35 WIB
Head of TokoMall Thelvia Vennieta mengatakan fenomena swafoto dengan identitas (KTP) untuk ditransak...
Instagram uji coba unggahan `vertical stories`
Jumat, 14 Januari 2022 - 09:38 WIB
Anak perusahaan Meta, Instagram, dikabarkan sedang menguji coba tampilan baru untuk unggahan storie...
Rolls-Royce Motor Cars capai rekor penjualan dalam 117 tahun
Senin, 10 Januari 2022 - 22:35 WIB
Rolls-Royce Motor Cars menyampaikan bahwa hasil penjualan tahunan pada 2021 mencapai yang tertinggi ...
Pelanggan perempuan dominasi TikTok Shopping di 2021
Sabtu, 08 Januari 2022 - 16:11 WIB
TikTok mencatat pelanggan perempuan mendominasi acara belanja akhir tahun yang diselenggarakannya pa...
Hari terakhir BlackBerry beroperasi
Selasa, 04 Januari 2022 - 07:31 WIB
Pelopor ponsel keyboard QWERTY, BlackBerry mengumumkan mulai 4 Januari, sistem operasi BlackBerry OS...
InfodariAnda (IdA)