Pakar ungkap faktor yang perlu diperhatikan pengemudi di jalan tol
Elshinta
Selasa, 09 November 2021 - 15:29 WIB |
Pakar ungkap faktor yang perlu diperhatikan pengemudi di jalan tol
Pekerja berkativitas di Jalan Tol Serang-Rangkasbitung, Kabupaten Serang, Banten, Kamis (28/10/2021). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Elshinta.com - Direktur Training & Campaign Indonesia Road Safety Partnership Eko Reksodipuro mengungkapkan faktor yang perlu diperhatikan pengemudi saat melaju di jalan tol, terutama lintasan panjang, seperti rute Jakarta-Surabaya.

"Kesalahan kecil di jalan tol dapat mengakibatkan kecelakaan fatal, bahkan dapat merenggut korban jiwa," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.

Faktor paling utama, menurut Eko, pengemudi harus sadar akan batas kemampuannya. Mengemudi di jalan tol tidak sama dengan pembalap di sirkuit yang bebas melakukan manuver dengan kecepatan tinggi.

Jalur cepat, misalnya, bukan jalur untuk dilalui. Itu hanya untuk mendahului, setelah menggunakannya pengemudi harus kembali ke lajur 2 atau 1 dan itu harus mencapai kecepatan maksimal, katanya.

Eko mencontohkan sering kali kebiasaan berkendara di tol dalam kota terbawa saat berkendara di tol luar kota, saat pengemudi maunya paling depan sendiri atau cenderung enggan diserobot, sehingga nampak seperti selfish atau mau menang sendiri.

Tak jarang pengemudi juga mengalami eforia saat berkendara di luar kota dari dalam kota, sehingga overspeed, katanya.

"Padahal, berkendara dengan kecepatan 150 km/jam, sama dengan 150.000 meter/3.600 detik, sementara reaksi mata butuh dua detik untuk mempersepsi dan bereaksi," katanya.

Pada prinsipnya, kata Eko, menyusul secepat mungkin itu tidak berbahaya, asalkan pengemudi sadar untuk kembali ke lajur 2 ataupun 1.

Ia sangat tidak merekomendasikan untuk terus berada di lajur 3 lantaran akan mengganggu pengguna jalan lain dan berpotensi mengakibatkan kesalahan kecil yang dampaknya tidak dapat diprediksi.

"Ke depan tuh tiga detik, terus jangan bersebelahan, apalagi bersebelahan dengan kendaraan berat. Pengemudi harus bisa memutuskan mau nyusul atau tidak, jangan jalan berdampingan. Seperti PPKM saja, jadi, di jalan raya kita juga harus social distancing," katanya.

Terkait kelaikan infrastruktur jalan tol, katanya, dapat dipastikan telah memenuhi standar yang berlaku, karena setiap fasilitas yang diterapkan di jalan tol telah memperhatikan risiko fatalitas ketika terjadi kecelakaan.

Misalnya, pada penerapan pagar pembatas beton pada sisi jalan, atau pagar pemisah di jembatan, yakni untuk memperkecil risiko kendaraan menyeberang ke jalur yang berlawanan.

"Kita harus sadar dengan batas kemampuan diri, dari sisi pengemudi harus sadar dengan batas kemampuannya, karena setiap orang tidak punya kemampuan yang sama, jadi ada awarness," kata Eko.

Menurut dia, pesatnya pembangunan infrastruktur, khususnya jalan tol belakangan kian memudahkan masyarakat dalam beraktivitas, terutama aktivitas yang mengharuskan masyarakat berpindah dari suatu tempat ke tempat lainnya dengan waktu yang relatif lebih cepat dibanding melintasi jalur konvensional.

Menurut catatan, dengan melintasi Tol Trans-Jawa, pengemudi membutuhkan waktu hanya 9 jam 43 menit untuk menamatkan rute Jakarta-Surabaya dengan rata-rata kecepatan 60-100 km/jam.

Sementara uji coba lain harus bersusah payah menempuh waktu 15 jam 41 menit untuk menuju lokasi yang sama melintasi jalur konvensional. Tentunya, dengan istirahat yang cukup di beberapa pusat pemberhentian.

Sayangnya, kata Eko, kemudahan demi kemudahan yang ditawarkan jalan tol tidak dibarengi dengan kesadaran pengemudi akan pentingnya berbagai faktor yang kebanyakan dianggap sepele, di antaranya batas minimal kecepatan, dan imbauan untuk beristirahat di titik-titik tertentu untuk mengurangi masalah konsentrasi yang kebanyakan disebabkan oleh faktor kantuk yang menyerang.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Vaksin Merah Putih Unair bersiap menuju uji klinik fase 3
Jumat, 20 Mei 2022 - 19:58 WIB
Peneliti utama uji klinik vaksin Merah Putih Universitas Airlangga dr Dominicus Husada, SpA(K) menga...
OJK pertegas pelarangan penyebaran data konsumen sektor jasa keuangan
Jumat, 20 Mei 2022 - 18:15 WIB
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) baru saja menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 6/...
Menaker dorong BPVP Kendari ciptakan tenaga kerja terampil
Jumat, 20 Mei 2022 - 17:27 WIB
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Ida Fauziyah mendorong jajarannya di Balai Pelatihan Vokasi dan Pr...
Kemenag: Tiga calon haji Mataram belum lunasi BPIH
Jumat, 20 Mei 2022 - 16:51 WIB
Kantor Kementerian Agama Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyebutkan, sebanyak tiga oran...
Tawarkan kuliner lokal, Menteri Johnny ajak delegasi hadiri pertemuan ketiga DEWG G20
Jumat, 20 Mei 2022 - 16:44 WIB
Menteri Komunikasi dan Informatika mengajak delegasi Digital Economy Working Group (DEWG) Presidensi...
15 ekor ternak warga Agam diduga idap PMK
Jumat, 20 Mei 2022 - 16:28 WIB
Sebanyak 15 ekor ternak jenis sapi milik warga Kabupaten Agam, Sumatera Barat diduga mengidap virus ...
Menag: Fasilitas layanan jamaah haji sesuai standar
Jumat, 20 Mei 2022 - 16:06 WIB
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, fasilitas layanan untuk jamaah haji Indonesia ...
Polres Samosir antisipasi masuknya wabah PMK
Jumat, 20 Mei 2022 - 15:55 WIB
Polres Samosir mengantisipasi masuknya wabah penyakit mulut dan kaki ke wilayah Kabupaten Samsoir, S...
Indonesia surplus transaksi berjalan 0,2 miliar dolar AS di kuartal I
Jumat, 20 Mei 2022 - 15:09 WIB
Neraca transaksi berjalan Indonesia mengalami surplus sebesar 0,2 miliar dolar AS atau 0,1 persen PD...
Pohon tumbang timpa rumah warga di Padang akibat angin kencang
Jumat, 20 Mei 2022 - 14:57 WIB
Satu unit rumah warga di Kelurahan Bukit Gado-Gado Kota Padang, Sumatera Barat tertimpa pohon tumban...
InfodariAnda (IdA)