Pangeran Harry dan Meghan Markle jadi target utama ujaran kebencian
Elshinta
Kamis, 28 Oktober 2021 - 18:01 WIB |
Pangeran Harry dan Meghan Markle jadi target utama ujaran kebencian
Pangeran Inggris Harry dan Meghan Markle muncul diatas panggung pada konser Global Citizen Live 2021 di Central Park di New York, Amerika Serikat, Sabtu (25/9/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Caitlin Ochs/HP/djo (ANTARA FOTO/REUTERS/Caitlin Ochs/HP/djo/CAITLIN OCHS)

Elshinta.com - Meghan Markle dan Pangeran Harry telah lama mengambil sikap tegas dan menentang ujaran kebencian di media sosial, termasuk ujaran kebencian terhadap mereka sendiri. Kini pasangan itu mendapatkan bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa mereka adalah salah satu target utama ujaran kebencian.

Pada Selasa (26/10) waktu setempat Bot Sentinel selaku platform yang melacak akun dan troll Twitter yang tidak autentik, mempublikasikan temuan penyelidikannya terhadap aktivitas negatif Twitter yang berfokus pada pasangan Duke dan Duchess of Sussex.

Perusahaan itu meluncurkan penelitiannya pada bulan Oktober dengan menganalisis 114.000 cuit yang terkait dengan pasangan tersebut.

"Kami menggunakan alat internal untuk mengkategorikan cuit berdasarkan sentimen dan pengulangan. Kami secara manual memeriksa cuit untuk foto yang diubah, video yang diedit secara menipu, dan konten lain yang tidak dapat dianalisis secara otomatis atau akurat oleh alat internal kami," Bot Sentinel menjelaskan dalam laporannya seperti dilansir dari E!News pada Jumat.

Perusahaan mendapatkan 83 akun, yang didukung oleh 187.631 pengikut, "bertanggung jawab atas sekitar 70 persen dari konten kebencian asli dan turunan yang menargetkan Harry dan Meghan diTwitter".

"Menggunakan alat analitik internal dan pihak ketiga, kami memperkirakan potensi jangkauan unik gabungan dari 17.000.000 pengguna," tulis laporan Bot Sentinel.

Dengan melacak elemen lain seperti retweet dan mention, Bot Sentinel juga mengatakan ada hubungan antarakun.

"Penelitian kami mengungkapkan akun-akun ini dengan berani berkoordinasi di platform dan setidaknya satu akun secara terbuka merekrut orang untuk bergabung dengan inisiatif kebencian mereka di Twitter."

Sementara Twitter sebelumnya telah menangguhkan 40 persen dari 55 akun dengan unggahan berisi ujaran kebencian.

Menurut Bot Sentinel, akun tersebut menggunakan metode seperti memasukkan "parodi" di bios profil mereka atau menggunakan bahasa kode rasis untuk menghindari hukuman.

Dalam proses penyelidikan, Bot Sentinel menggunakan akun Twitter tanpa teman atau pengikut, tetapi itu tidak menghentikan algoritma platform untuk memperhatikan kebiasaan Twitter mereka.

"Setelah melihat dua akun kebencian, algoritme Twitter mulai menyarankan banyak akun kebencian," tulis laporan itu. "Pada beberapa kesempatan, Twitter merekomendasikan agar kami mengikuti akun kebencian ini."

Laporan itu merangkum bahwa para peneliti menemukan bahwa sejumlah akun anti-Meghan dan Harry hanya memiliki tujuan untuk membuat dan menyebarkan sebagian besar konten kebencian di Twitter.

Namun, ada beberapa akun utama yang dikemas ulang dan dibagikan oleh sejumlah akun dengan banyak pengikut.

"Kami mengamati akun utama mengkoordinasikan aktivitas mereka dan menggunakan berbagai teknik untuk menghindari deteksi. Singkatnya, sebagian besar aktivitas anti-Meghan dan Harry tidak organik," tulis laporan itu.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Optimisme sambut 2022 dalam koleksi akhir tahun Sapto Djojokartiko
Minggu, 28 November 2021 - 11:03 WIB
Dengan semangat baru dan optimisme yang meningkat dikarenakan keadaan yang diharapkan terus bangkit ...
Pandangan Dian Sastro dan Sejauh Mata Memandang tentang `fast fashion`
Jumat, 26 November 2021 - 17:57 WIB
Pendiri rumah mode Sejauh Mata Memandang Chitra Subyakto dan aktris Dian Sastrowardoyo membagi panda...
Workcation, tren kerja rasa liburan di era kenormalan baru
Rabu, 24 November 2021 - 14:25 WIB
Tren workcation kian meningkat di era kenormalan baru dimana orang-orang memboyong `kantor` mereka...
Tips berkarir di industri teknologi untuk perempuan ala Tokopedia
Rabu, 24 November 2021 - 08:47 WIB
Perusahaan teknologi Tokopedia membagikan sejumlah kiat bagi para perempuan yang ingin berkarir di d...
Waspadai potensi pencurian data dari fitur `Add Yours` Instagram
Rabu, 24 November 2021 - 06:01 WIB
Dalam beberapa pekan terakhir, pengguna media sosial Instagram tengah menikmati fitur stiker \"Add ...
TikTok kini bisa diakses lewat Smart TV
Selasa, 23 November 2021 - 11:52 WIB
TikTok kini sudah bisa diakses di lebih banyak smart TV sehingga bisa mempermudah anda menemukan v...
UNIQLO & JW Anderson hadirkan `Peter Rabbit` di koleksi musim dingin
Selasa, 23 November 2021 - 10:56 WIB
Perusahaan retail pakaian global UNIQLO mengumumkan peluncuran koleksi UNIQLO dan JW Anderson Fall/W...
Kominfo: Perpindahan sistem tv analog ke digital tingkatkan kualitas
Selasa, 16 November 2021 - 14:35 WIB
Direktur Operasi Sumber Daya Kementerian Komunikasi dan Informasi Dwi Handoko menyebutkan bahwa perp...
LinkAja perluas ekosistem digital di sektor pendidikan
Sabtu, 13 November 2021 - 08:45 WIB
Layanan keuangan digital BUMN LinkAja memperluas ekosistem digitalnya di sektor pendidikan, serta me...
Kenali CAMILAN sebelum ikut pinjaman online
Kamis, 11 November 2021 - 16:27 WIB
Asosiasi Fintech Indonesian (AFTECH) mengingatkan akronim CAMILAN sebelum mengunduh dan mengikuti la...
InfodariAnda (IdA)