Pengamat: Lamanya banjir di Samarinda akibat rusaknya ruang sungai
Elshinta
Minggu, 24 Oktober 2021 - 23:21 WIB |
Pengamat: Lamanya banjir di Samarinda akibat rusaknya ruang sungai
Banjir di Jalan Pemuda I Samarinda yang dipantau pada Sabtu (23/10/2021). (Antara/M Ghofar)

Elshinta.com - Misman, pengamat sungai di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, menilai lamanya durasi banjir di sejumlah titik di Samarinda hingga lima hari terakhir akibat hujan dan limpahan dari hulu, disebabkan oleh rusaknya ruang sungai di kawasan hulu dan tengah. 

"Ruang sungai atau daerah aliran sungai (DAS) itu meliputi gunung, bukit, lembah, rawa, dan titik yang paling dekat dengan sungai, yakni riparian," ujar Misman yang juga Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah di Sungai Karang Mumus (GMSS-SKM) di Samarinda, Ahad. 

Sayangnya, gunung dan bukit digunduli, pohonnya ditebang, sehingga ketika hujan turun, maka tidak ada akar pohon yang dapat menyerap air hujan, sehingga air langsung terjun bebas ke pemukiman warga. 

Parahnya lagi, bukit di ruang sungai justru banyak yang dipangkas, kemudian tanahnya untuk menguruk rawa demi permukiman, sehingga ini merupakan perilaku perusakan lingkungan ganda, karena rawa yang diuruk pun berada di ruang sungai. 

Menurutnya, DAS Karang Mumus yang memiliki luas 316,22 km2 atau 31.622 ha dengan keliling sebesar 103,26 km tersebut, awalnya memiliki ratusan rawa, namun seiring perkembangan zaman dan pembangunan yang tidak ramah ruang sungai, maka kini yang tersisa hanya beberapa rawa, itu pun sudah dikuasai oleh warga. 

Keberadaan rawa dan bukit dalam DAS sangat vital untuk mengurangi banjir (bukan mencegah), karena air hujan tidak langsung terbuang ke sungai, tapi ditampung di rawa dan akar-akaran di perbukitan. 

"Dari rawa dan perbukitan, air akan dialirkan secara perlahan ke sungai sehingga tidak terjadi limpahan air terlalu besar. Ini adalah pekerjaan alam per detik, manusia tidak akan sanggup menggantikan, maka kita jangan mimpi bisa mengatasi banjir jika ruang sungai masih rusak," ucapnya. 

Keberadaan rawa dan bukit yang masih terawat atau tidak dirusak manusia juga untuk menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas sungai, yakni sungai tetap mengalir meski musim kemarau.

"Tidak seperti sekarang, di musim hujan limpahan air begitu kuat yang akhirnya terjadi banjir. Sedangkan di musim kemarau, sungai mengering karena tidak ada aliran dari rawa maupun perbukitan akibat ruang sungai kita memang rusak parah," tutur Misman.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
DLH pastikan pengelolaan sampah WSBK Sirkuit Mandalika tuntas
Jumat, 26 November 2021 - 13:12 WIB
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat memastikan pengelolaan sam...
Rembang tanam 1000 bibit pohon lewat #AksiCintaBumi
Kamis, 25 November 2021 - 14:24 WIB
Pemerintah Kabupaten Rembang melakukan #AksiCintaBumi dengan menanam 1000 bibit pohon di kawasan GOR...
Kalsel terus berupaya pulihkan DAS
Selasa, 23 November 2021 - 20:55 WIB
Pemerintah Proviisi Kalimantan Selatan terus berupaya meningkatkan kualitas lingkungan terutama di D...
BNPP RI turun tangan bantu permasalahan sampah di Pasar Skouw 
Selasa, 23 November 2021 - 15:27 WIB
adan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) prihatin permasalahan sampah di Pasar Skouw, Muara Tami,...
Presiden: Kekayaan geologi jangan dirusak dan dieksploitasi berlebihan
Senin, 22 November 2021 - 13:43 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan agar kekayaan dan keragaman geologi, hayati dan budaya ya...
Peduli lingkungan, TNI AL lepas ribuan benih ikan dan tanam pohon di Boyolali
Kamis, 18 November 2021 - 12:55 WIB
Upaya pemulihan konservasi alam dan juga membangkitkan ekonomi kerakyatan, TNI Angkatan Laut (AL) me...
Kendari akan menutup tempat penampungan sampah di pinggir jalan
Rabu, 17 November 2021 - 12:28 WIB
Pemerintah Kota Kendari di Provinsi Sulawesi Tenggara berencana menutup tempat-tempat penampungan s...
CCFI sebut 60 persen sampah plastik belum terkelola dengan baik
Rabu, 17 November 2021 - 06:23 WIB
Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) Triyono Prijosoesilo menyebutkan sebanyak 61 p...
Kemenhub komitmen atasi tumpahan minyak di laut
Selasa, 16 November 2021 - 16:35 WIB
Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berkomitmen untuk mengatasi tumpahan minyak di laut dengan menera...
Sebanyak 40,6 juta pohon telah ditanam di lahan kritis Jabar
Sabtu, 13 November 2021 - 17:20 WIB
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat (Jabar) Epi Kustiawan mengatakan dari target 50 juta pena...
InfodariAnda (IdA)