Peraih Nobel Maria Ressa soroti algoritma dalam distribusi berita
Elshinta
Kamis, 14 Oktober 2021 - 20:01 WIB |
Peraih Nobel Maria Ressa soroti algoritma dalam distribusi berita
Tangkapan layar Peraih Hadiah Nobel Perdamaian dan jurnalis asal Filipina, Maria Ressa, dalam acara Bincang-Bincang dengan Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2021 Maria Ressa, yang diselenggarakan oleh IDN Times, Kamis (14/10/2021). ANTARA/Aria Cindyara

Elshinta.com - Peraih Hadiah Nobel Perdamaian dan jurnalis asal Filipina, Maria Ressa, menyoroti algoritma yang digunakan dalam distribusi berita oleh platform-platform media sosial dan news aggregator, yang dapat menciptakan perpecahan dan mengancam perdamaian.

Dalam acara Bincang-Bincang dengan Pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2021 Maria Ressa, yang diselenggarakan oleh IDN Times, jurnalis dan pimpinan media Rappler asal Filipina itu mengatakan bahwa kebanyakan platform media sosial menggunakan algoritma friends of friends dalam mendistribusikan informasi. 

Dengan algoritma seperti itu, informasi yang direkomendasikan terhadap seseorang mengacu pada apa yang biasanya diakses oleh orang itu sendiri.

“Yang mereka lakukan ini adalah distribusi dengan algoritma dan bias algoritma,” ujar Ressa dalam acara yang dipantau dari Jakarta, Kamis.

Menurut dia, algoritma semacam itu menempatkan seseorang di dalam gelembung. Di sana lingkaran itu, informasi yang diterima telah melalui filter tertentu sehingga dapat menciptakan bias dan pandangan yang terdistorsi akan dunia.

“Algoritma menumbuhkan perpecahan yang melebar, kemudian Anda berada di dalam apa yang disebut sebagai filter bubble,” katanya.

Dia pun menambahkan bahwa algoritma seperti itu dapat semakin menyulut kemarahan orang-orang yang mendapatkan informasi yang bias, dan hal itu dapat membuat orang menjadi tidak rasional dan tidak logis.

“Ini adalah permasalahan besar yang kita hadapi karena inilah akhir dari fakta untuk kita semua […] ini merubah pandangan kita terhadap dunia,” kata Ressa. Ia menambahkan bahwa algoritma semacam itu merupakan “manipulasi yang berbahaya”.

Hal itu pun menjadikan para jurnalis dan media sebagai penyaji fakta kehilangan peran sebagai penjaga atau gatekeeper, terutama mengingat banyaknya masyarakat kini yang mengakses platform-platform media sosial dan menjadikannya tempat mereka mendapatkan informasi.

Maria Ressa diberi penghargaan Hadiah Nobel Perdamaian, bersama dengan jurnalis asal Rusia, Dmitry Muratov, “atas perjuangan berani mereka untuk kebebasan berekspresi di Filipina dan Rusia”.

Maria Ressa mengepalai perusahaan media digital Rappler yang ia dirikan bersama tiga orang mitra pada 2012.

Media tersebut tumbuh menonjol melalui pelaporan investigasi, termasuk terkait pembunuhan besar-besaran dalam kampanye polisi melawan narkoba, seperti dikutip dari laporan Reuters.

Pada Agustus, pengadilan Filipina menolak kasus pencemaran nama baik terhadap Ressa, yang merupakan salah satu dari beberapa tuntutan hukum yang diajukan terhadap jurnalis yang mengatakan dia menjadi sasaran karena laporan kritis Rappler tentang Presiden Rodrigo Duterte.

Nasib Ressa, salah satu dari beberapa jurnalis yang dinobatkan sebagai "Person of the Year" Majalah Time tahun 2018 karena memerangi intimidasi media, telah menimbulkan kekhawatiran internasional tentang pelecehan media di Filipina, negara yang pernah dipandang sebagai pembawa standar kebebasan pers di Asia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pasukan keamanan Myanmar serang unjuk rasa di Yangon
Minggu, 05 Desember 2021 - 21:23 WIB
Pasukan keamanan Myanmar menabrakkan sebuah mobil ke arah pengunjuk rasa anti kudeta di Yangon pada ...
Singapura, Malaysia buka perbatasan darat bagi pelancong sudah vaksin
Senin, 29 November 2021 - 13:03 WIB
Singapura dan Malaysia membuka kembali perbatasan daratnya pada Senin dan mengizinkan para pelancong...
Turis datang kembali, Thailand gelar festival monyet lagi
Minggu, 28 November 2021 - 20:46 WIB
Wisatawan dan warga Lopburi, Thailand tengah, menyaksikan ribuan ekor monyet berpesta dengan dua ton...
Surplus nonmigas Indonesia atas Malaysia naik hampir 200 persen
Minggu, 21 November 2021 - 08:15 WIB
Neraca perdagangan nonmigas Indonesia-Malaysia pada periode Januari-September 2021 mencatatkan surpl...
Singapura perlonggar pembatasan ketat COVID-19
Sabtu, 20 November 2021 - 20:55 WIB
Pemerintah Singapura melonggarkan sejumlah pembatasan sosial yang diterapkan secara ketat untuk mene...
Hong Kong izinkan vaksin Sinovac untuk anak 3-17 tahun
Sabtu, 20 November 2021 - 17:07 WIB
Pemerintah Hong Kong menyetujui penurunan batas usia penerima vaksin COVID-19 buatan Sinovac, China,...
Dubes RI ungkap sanksi prokes di Singapura minimal Rp3 juta
Rabu, 17 November 2021 - 06:59 WIB
Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Suryopratomo mengungkapkan sanksi bagi warga yang mela...
Singapura terbuka bagi 19 negara COVID-19 rendah termasuk Indonesia
Selasa, 16 November 2021 - 18:11 WIB
Duta Besar Republik Indonesia untuk Singapura Suryopratomo mengatakan Singapura telah membuka kembal...
Singapura berencana buka perbatasan untuk WNI mulai 29 November
Selasa, 16 November 2021 - 13:00 WIB
Pemerintah Singapura berencana membuka kembali perbatasan negaranya untuk pelaku perjalanan Indonesi...
Malaysia hapus sebagian biaya COVID-19 bagi WNA di KLIA
Minggu, 07 November 2021 - 20:15 WIB
Pemerintah Malaysia menghapus biaya pengoperasian karantina COVID-19 bagi warga negara asing (WNA) ...
InfodariAnda (IdA)