Mengenal `toxic positivity` dari sudut pandang `mindfulness`
Elshinta
Senin, 11 Oktober 2021 - 09:52 WIB |
Mengenal `toxic positivity` dari sudut pandang `mindfulness`
Ilustrasi meditasi mindfulness.

Elshinta.com - Praktisi Mindfulness dan Emotional Healer Adjie Santosoputro mengingatkan bahwa seseorang perlu berhati-hati terhadap jebakan pahit dari berpikir positif atau toxic positivity dan lebih menyadarinya dari sudut pandang kesadaran penuh (mindfulness).

“Di awal perjalanan, kita perlu berlatih berpikir positif daripada kita berpikir negatif. Tetapi kita cenderung seolah-olah selalu memberi gula [terhadap berpikir positif] dan itu malah berbahaya karena kita tidak mempersiapkan worst case-nya, kita optimis bias,” kata Adjie dalam diskusi "World Mental Health Day: 24 Hours" yang diadakan oleh Mental Health Matters di platform Clubhouse pada Minggu (10/10).

Ia mengatakan pada dasarnya seseorang hanya perlu melatih untuk menyadari pikiran saja, bukan malah mengendalikan pikiran, baik itu pikiran positif maupun pikiran negatif. Menurutnya, dikotomi antara pikiran positif dan negatif hanyalah permainan pada ranah “think” atau “thought” yang bersifat sekejap dan akan segera berlalu.

“Berpikir (think) dan kesadaran (awareness) itu sesuatu yang berbeda. Selama kita masih terjebak dalam "thinking", kita akan terus saja berkelahi antara pikiran positif dan negatif, atau optimis-pesimis. Untuk lebih sehat dari sudut pandang mindfulness, kita ambil jarak dengan think dan thought itu,” ujarnya.

Adjie mengatakan perasaan sedih yang dialami orang lain dapat memicu ketidaknyamanan pada diri sendiri sehingga seseorang menjadi cenderung untuk mengajak dan menarik orang lain agar menjauhi perasaan sedih hingga tidak menyadari dirinya dapat terjebak dengan pikiran positif yang beracun (toxic positivity).

“Oleh karena itu, agar mengurangi kemungkinan kita untuk menjadi pelaku toxic positivity harus dimulai dari diri kita sendiri. Kita perlu berlatih menerima rasa sedih dengan cara berlatih be mindful to our sadness, jadi embrace the sadness,” katanya.

Ia mengatakan perasaan sedih tidak seharusnya dibenci dan dihindari, baik itu rasa sedih yang dialami oleh diri sendiri maupun orang lain. Dengan begitu, seseorang akan lebih bijak untuk memberi ruang kepada perasaan sedih serta tidak tergesa-gesa untuk menuntut dan mengubah perasaan itu dengan perasaan gembira.

“Sedih itu tidak sepenuhnya buruk. Dalam obrolan kesehatan mental, rasa sedih, kecewa, dan marah, itu ada kalanya perlu diberi ruang di dalam diri kita agar dia bisa dicerna oleh diri kita,” ujarnya.

Adjie juga mengingatkan bahwa perasaan kegembiraan dan kebahagiaan merupakan dua hal yang berbeda. Sebagai contoh, orang kerap menyangka bahwa kesuksesan secara material yang selalu dikejar dalam hidup diasosiasikan sebagai kebahagiaan, padahal sebetulnya itu adalah kegembiraan.

“Kegembiraan itu ketika kita mendapatkan yang kita inginkan, sedangkan kebahagiaan itu lebih ke rasa berkecukupan. Dan karenanya happy is about letting go,” tutur Adjie.

Dari sudut pandang mindfulness, kata Adjie, kebahagiaan sejatinya sudah tersedia di dalam diri manusia dan tak perlu susah payah mencari-cari kebahagiaan sejauh mungkin. Ia menekankan yang perlu dilakukan hanyalah menyadarinya saja.

“Menurutku, keindahan dari mindfulness adalah yang aku rasakan, hanya dengan menyadari itu saja maka pelan-pelan ketegangan batin di dalam diri kita menjadi mereda, dan di situlah malah kita akan mengalami proses healing atau kesembuhan,” katanya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kurangi risiko penyakit kardiovaskuler dengan berhenti merokok
Selasa, 07 Desember 2021 - 14:56 WIB
Dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit Jantung Pembuluh Darah Harapan Kita, dr Ade Meidian Ambari, Sp....
Manfaat makan es krim di pagi hari
Selasa, 07 Desember 2021 - 06:01 WIB
Es krim kerap kali dicap sebagai dessert yang harus dihindari karena sifatnya yang dingin dan rasany...
Kiat atasi kecemasan pada munculnya varian Omicron
Senin, 06 Desember 2021 - 09:19 WIB
Tak cukup pada Delta, varian baru COVID-19 yakni Omicron muncul, menyebabkan sebagian orang berada d...
Risiko penyakit akibat letusan gunung berapi dan pencegahannya
Minggu, 05 Desember 2021 - 10:59 WIB
Asap dan debu vulkanik dari letusan gunung berapi salah satunya Semeru yang terletak di Lumajang dan...
Satgas Pamtas TNI berikan pelayanan kesehatan warga perbatasan RI-PNG 
Sabtu, 04 Desember 2021 - 14:25 WIB
Personel Satgas Pamtas Yonif 126/Kala Cakti Pos Waris kembali beraksi dengan memberikan pelayanan ke...
Keju yang baik kandung zat gizi seperti susu
Jumat, 03 Desember 2021 - 22:55 WIB
Ketua Indonesia Sport Nutrition Association Dr. Rita Ramayulis DCN, M.Kes mengatakan, keju yang baik...
Remaja perlu lewati masa pubertas tanpa `baper`
Jumat, 03 Desember 2021 - 09:35 WIB
Psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Tara de Thouars, BA, M.Psi berpendapat, penting bagi par...
Dokter sarankan konsumsi serat dan Jangan mengejan agar tak kena wasir
Kamis, 02 Desember 2021 - 21:35 WIB
Dokter spesialis bedah dari Universitas Udayana, dr. Heru Sutanto K, SpB menyarankan Anda tidak meng...
Dalam setahun, ODHA di Sukoharjo bertambah 47 kasus
Rabu, 01 Desember 2021 - 20:37 WIB
Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah mencatat terjadi penambahan kasus orang dengan HIV dan Aids (ODHA) ...
Panel FDA beri dukungan terbatas pemakaian pil COVID-19 Merck
Rabu, 01 Desember 2021 - 09:11 WIB
Sebuah panel penasihat ahli Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (FDA) AS pada Selasa (30/11) dala...
InfodariAnda (IdA)