Twitter uji coba fitur Komunitas mirip Grup Facebook
Elshinta
Kamis, 09 September 2021 - 09:27 WIB |
Twitter uji coba fitur Komunitas mirip Grup Facebook
Ilustrasi - Orang yang memegang iPhone Apple baru dengan logo Twitter di layar. (ANTARA/elshinta.com)

Elshinta.com - Twitter menguji coba fitur komunitas secara global yang mirip dengan Grup Facebook, di mana pengguna bisa mengunggah cuitan yang dibagikan khusus ke orang-orang dengan minat yang sama.

Mengutip Reuters, Kamis, Twitter mengatakan saat ini pengguna tertentu dapat membuat Komunitas dan akan menyasar lebih banyak pengguna dalam beberapa bulan mendatang. Mereka akan bertindak sebagai moderator Komunitas dan menetapkan standar untuk grup mereka.

Twitter tidak mengungkapkan jumlah pengguna yang dapat membuat Komunitas dalam uji coba ini. Namun, seluruh pengguna dapat masuk ke dalam grup jika mendapat undangan.

Komunitas dapat dilihat oleh publik, meskipun pada tahap ini orang perlu diundang untuk bergabung oleh moderator atau anggota lain.

"Saat ini, beberapa Komunitas awal yang kami uji berkaitan dengan percakapan populer di Twitter seperti anjing, cuaca, sepatu kets, perawatan kulit, astrologi, dan akan lebih banyak di masa yang akan datang," kata David Regan selaku Staff Product Manager Twitter.

Twitter mengatakan akan menyesuaikan aturan untuk menjaga keamanan pengguna di dalam Komunitas, termasuk mengembangkan cara untuk mengidentifikasi kelompok yang bermasalah.

Seorang juru bicara Twitter mengatakan perusahaan telah melakukan penelitian dan berkonsultasi dengan para ahli selama setahun terakhir untuk mengantisipasi penyalanggunaan fitur.

Sebelumnya, Twitter juga meluncurkan beberapa fitur baru termasuk Super Follows yang memungkinkan pengguna mendapatkan penghasilan bulanan lewat konten yang dibagikan khusus untuk pelanggan mereka.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Lima mahasiswa FTP UB Malang ciptakan aplikasi marketplace 
Senin, 25 Oktober 2021 - 17:10 WIB
Lima orang mahasiswa Fakultas Tehnik Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) Malang menciptakan ...
Facebook diminta lebih transparan soal kebijakan akun tokoh terkenal
Senin, 25 Oktober 2021 - 11:54 WIB
Dewan pengawas independen meminta Facebook lebih transparan tentang kebijakan mereka untuk akun mili...
Bhayangkari Jatim luncurkan aplikasi balanjha.com untuk dongkrak UMKM
Selasa, 19 Oktober 2021 - 15:44 WIB
Upaya dalam mendongkrak perekonomian di Jawa Timur, Pengurus Daerah Bhayangkari Jatim dalam rangka H...
Apple Music Voice Plan meluncur, maksimalkan fitur Siri
Selasa, 19 Oktober 2021 - 11:14 WIB
Perusahaan teknologi Apple mengumumkan Apple Music Voice Plan, paket layanan musik berlangganan baru...
Facebook akan `jauhkan` remaja dari konten berbahaya
Senin, 11 Oktober 2021 - 14:47 WIB
Seorang eksekutif Facebook Inc mengatakan bahwa perusahaan akan memperkenalkan langkah-langkah baru ...
Kronologi lengkap tumbangnya layanan Facebook, WhatsApp dan Instagram
Rabu, 06 Oktober 2021 - 13:15 WIB
Layanan Facebook, WhatsApp dan Instagram sudah kembali normal setelah sempat tumbang selama berjam-j...
Penyebab gangguan global WhatsApp dan Facebook ditemukan
Selasa, 05 Oktober 2021 - 14:27 WIB
Facebook mengeluarkan pernyataan mengenai penyebab gangguan layanan, termasuk WhatsApp dan Instagram...
Aplikasi PLN mobile mudahkan layanan pelanggan listrik 
Kamis, 30 September 2021 - 15:57 WIB
Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah memberikan berbagai pelayanan kepada konsumen terkait dengan k...
Ketua DPR resmikan aplikasi TangkalCovid-19 buatan BIN
Rabu, 29 September 2021 - 20:34 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani meresmikan aplikasi dan laman `TangkalCovid-19` buatan Badan Intelijen Ne...
CORE: PeduliLindungi berpotensi raih untung jika jadi alat pembayaran
Minggu, 26 September 2021 - 15:48 WIB
Peneliti ekonomi senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy mengatakan aplika...