Memandang masalah sebagai proses spiritual
Elshinta
Rabu, 11 Agustus 2021 - 13:25 WIB |
Memandang masalah sebagai proses spiritual
Arsip Foto. Seorang warga membaca Al Quran di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (4/5/2021). (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)

Elshinta.com - Sesungguhnya modal dasar untuk menjalani kehidupan ini adalah pada kerangka berpikir atau paradigma tentang bagaimana jiwa kita menyikapi realitas.

Paradigma ini yang akan memandu seseorang harus bersikap apa ketika menghadapi kenyataan yang biasanya dianggap sebagai masalah karena tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Agama mengajak kita untuk selalu bersyukur atas setiap peristiwa yang kita alami. Masih dalam kaitan ini, dalam khazanah bijak Nusantara, kita selalu diajarkan untuk berbaik sangka. Kalau kita jatuh, kemudian lutut luka, itu bukan masalah, apalagi dimaknai sebagai celaka. Orang Nusantara mengajak kita untuk bersyukur. Syukur hanya lutut yang luka, tidak semuanya terluka. Syukur kejadian itu tidak menjadikan hidup kita berakhir.

Peristiwa yang kita alami bersama saat ini, yakni pandemi COVID-19, seharusnya menjadi momen terbaik untuk menangkap pesan Ilahi di dalamnya. Bahasa populernya bagaimana menyibak hikmah di balik keadaan yang membuat manusia sedunia saat ini heboh itu.

Secara umum, kita akan memaknai keadaan ini sebagai masalah. Dengan paradigma ini, maka muncullah diksi "perang" melawan COVID-19 dan lain-lainnya. Sementara yang terekspresi dalam bentuk tindakan, kita melihat bagaimana masyarakat menjadi panik, misal memborong susu merek tertentu, vitamin, termasuk masker, untuk dijadikan modal senjata dalam rangka berperang dengan virus.

Menyikapi persoalan dengan tenang dengan terus mematuhi aturan atau protokol kesehatan adalah pilihan tepat untuk saat ini, seraya tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama, yakni jika Allah berkehendak atas segala sesuatu, maka tidak ada siapapun yang mampu menolaknya. Allah juga tidak menguji hamba-Nya di luar kemampuan hamba-Nya itu.

Pengampu pembelajaran tentang ilmu kesadaran diri Aswar yang sering menyosialisasikan ilmu ini di kalangan kampus dan masyarakat umum, mengemukakan bahwa semua orang memang memulai kehidupan dari nol atau level 1, yakni memandang keadaan sebagai masalah, sehingga kondisi jiwa terjebak dalam kepanikan dan keruwetan.

Sejarah Nabi Adam ketika diturunkan dari surga untuk menghuni Bumi juga menggambarkan bagaimana awal kehidupan ini dimulai dari level 1, yakni semua dimaknai sebagai masalah.

Menurut Aswar, ketika pertama kali berada di Bumi, Nabi Adam menjadi murung. Bapak moyang dari seluruh manusia di kolong jagat ini kemudian merenung dan bertanya kepada Allah, apakah semua yang terjadi ini murni karena kesalahan dia bersama Ibu Hawa yang telah melanggar larangan Allah agar tidak mendekati pohon khuldi saat berada di alam surga. Allah kemudian menjawab keresahan Nabi Adam itu dengan menegaskan bahwa semua yang terjadi itu adalah kehendak-Nya juga.

Maka, ketika itu Nabi Adam menjadi bahagia dan dia optimistis bahwa semua yang dialami itu bukan masalah, melainkan proses spiritual. Paradigma Nabi Adam inilah merupakan cikal bakal paradigma holistik.

Sedangkan yang menganggap berbagai keadaan sebagai masalah, mereka terjebak dalam pandangan kaum reduksionis.

Manusia yang menyandang status sebagai khalifah fil ardl atau khalifah di muka Bumi harus menjalani proses evolusi jiwa yang terus menerus. Evolusi jiwa itu merupakan hukum alam agar manusia nantinya betul-betul layak menyandang predikat agung tersebut.

Namun reduksionisme dalam memaknai kehidupan bisa "meracuni" manusia, termasuk orang beragama, yang dalam teks kitab suci sudah diberi bekal pengetahuan bahwa semua alur kehidupan yang mereka jalani seharusnya dimaknai sebagai proses spiritual.

Proses spiritual itu, dalam pandangan Islam adalah minadzdzulumaati ilan nuur, perjalanan dari kegelapan menuju cahaya.

Dengan mengubah paradigma ke proses spiritual seperti itu, maka mereka yang menghadapi keadaan sedang sakit, miskin, jomblo, sedih, atau keadaan lain yang biasanya diratapi, bisa menjadi lebih optimistis dalam memandang dan menjalani hidup.

Ketika paradigma reduksionis kita geser ke proses spiritual, maka makna Tuhan Maha Adil mendapatkan pembuktiannya. Semua keadaan tidak dimaknai hanya sebagai fakta, melainkan ada pesan yang sama dari Ilahi bahwa bentuk penderitaan yang berbeda-beda itu, muaranya pada memperjalankan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Al Quran Surah Al Insyirah Ayat 5 dan 6 menyampaikan optimisme secara berulang. Ahli tafsir terkemuka Prof Dr Quraish Shihab memaknai dua ayat yang diulang dengan terjemahan "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." Jadi kesulitan dengan kemudahan itu adalah satu paket. Ibarat dua sisi dalam sekeping mata uang.

Agama juga memberikan panduan lanjutan setelah kita mengubah paradigma tadi, yakni agar bersabar menghadapi keadaan yang tidak kita kehendaki itu. Sabar itu, menurut Aswar, yang dikenal sebagai pengamal tarekat ini, ditunjukkan dengan dua hal, yakni tobat dan mengilmui.

Makna tobat tentunya menyadari kekeliruan dan kemudian memperbaikinya. Sementara mengubah paradigma reduksionis dalam memaknai kehidupan itu adalah mengilmui.

Manusia sebagai khalifah di muka Bumi memiliki kewajiban untuk terus belajar. Dengan bertobat dan menaruh perhatian pada ilmu pengetahuan itu, maka kita terbebas dari peringatan Allah dalam kitab suci sebagai "ghafilin" (orang yang lalai).

Sebaliknya, reduksionisme bisa membawa kepada kedudukan sebagai asfala saafiliin, yang terendah dari yang rendah. Mereka adalah manusia yang tertutup jiwanya untuk menangkap pesan-pesan cinta Ilahi atas suatu peristiwa kehidupan, termasuk pandemi akibat SARS-CoV-2 ini. Mereka menganggap dirinya cacat di mata Tuhan, sekaligus sifat rahman rahim-nya Allah "tertutupi", berganti dengan seolah-olah Tuhan itu "pendendam".

Pada suasana Tahun Baru Islam ini, makna hijrah juga menjadi momentum kita untuk mawas, apakah hijrah itu dimaknai dalam paradigma holistik atau justru reduksionis.

Jika hijrah hanya dimaknai secara material, maka yang terjadi hanya pada perubahan atribut atau pakaian, bukan filosofi mengenai perubahan itu sendiri.

Menurut Aswar, proses kehidupan itu bukan perjalanan horisontal sehingga antara hari ini dengan kemarin, nilainya sama. Seharusnya proses kehidupan dimaknai sebagai perjalanan vertikal, sehingga setiap saat terjadi pertumbuhan kualitas pada jiwa seseorang.

Selamat Tahun Baru Hijriah. Mari kita memaknai momen ini sebagai waktu yang tepat untuk tidak terjebak dalam pandangan reduksionis, yang bisa membawa kita ke tingkat terendah.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Cuci tangan dengan benar demi cegah penularan penyakit
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 12:01 WIB
Bertepatan dengan peringatan Global Hand Washing Day oleh Global Handwashing Partnership sejak 2008 ...
Respirator bisa bantu kurangi risiko terkena pajanan polusi udara
Jumat, 15 Oktober 2021 - 15:06 WIB
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), FAPSR, FISR, ...
Tangani dini AMD agar penglihatan tak semakin memburuk
Jumat, 15 Oktober 2021 - 11:34 WIB
Sama seperti penyakit lainnya yang membutuhkan pengobatan dini, begitu juga AMD atau degenerasi maku...
Terapi atasi kecemasan remaja pada masa pandemi
Kamis, 14 Oktober 2021 - 20:17 WIB
Aktivitas fisik dan latihan fisik bisa menjadi strategi terapi yang efektif mengatasi gejala depresi...
Trigeminal neuralgia bisa disembuhkan dengan tindakan PRFR
Rabu, 13 Oktober 2021 - 23:01 WIB
Dokter spesialis bedah saraf dr. Mustaqim Prasetya, Sp.BS FINPS mengatakan trigeminal neuralgia-kon...
Olahraga dua jam sebelum tidur dapat membantu lebih nyenyak
Rabu, 13 Oktober 2021 - 11:58 WIB
 Olahraga dengan intensitas tinggi yang dilakukan dua jam sebelum tidur dapat membantu tidur lebih ...
Mengenal hipoglikemia, penyakit yang diderita Dorce Gamalama
Senin, 11 Oktober 2021 - 11:56 WIB
Lemas, pusing, bahkan susah konsentrasi merupakan ciri-ciri dari seseorang mengalami hipoglikemia, p...
Mengenal `toxic positivity` dari sudut pandang `mindfulness`
Senin, 11 Oktober 2021 - 09:52 WIB
Praktisi Mindfulness dan Emotional Healer Adjie Santosoputro mengingatkan bahwa seseorang perlu ...
Psikolog: Mitos dan stigma kendala tangani masalah kesehatan mental
Senin, 11 Oktober 2021 - 06:01 WIB
Psikolog Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta, Widya S. Sari, M.Psi mengatakan permasalah...
Jaga kualitas udara dari paparan asap rokok di dalam rumah
Minggu, 10 Oktober 2021 - 16:30 WIB
Menjaga kualitas udara di dalam hunian merupakan hal penting guna meningkatkan kualitas kesehatan, t...
Live Streaming Radio Network