Laporan iklim PBB gambarkan laju cepat pemanasan dunia
Elshinta
Rabu, 11 Agustus 2021 - 08:07 WIB |
Laporan iklim PBB gambarkan laju cepat pemanasan dunia
Valerio Rojas dan istrinya Cristina Mamani beristirahat di Danau Poopo, danau terbesar kedua di Bolivia yang mengering akibat pengalihan air untuk irigasi dan iklim yang lebih hangat dan kering, menurut keterangan warga dan ilmuwan lokal di Isla de Panza, Bolivia, Sabtu (24/7/2021). Gambar diambil pada 24 Juli 2021. ANTARA FOTO/REUTERS/Claudia Morales/FOC/djo

Elshinta.com - Sebuah laporan ilmiah utama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dikeluarkan pada Senin (9/8) menunjukkan bahwa tak ada yang aman dari efek percepatan perubahan iklim dan terdapat kebutuhan mendesak untuk mempersiapkan dan melindungi orang-orang ketika cuaca ekstrem dan naiknya permukaan laut menghantam lebih keras dari yang diperkirakan.

Laporan dari Panel Antar-Pemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC), yang ditulis oleh 234 ilmuwan, mengatakan bahwa pemanasan global sebesar sekitar 1,1 derajat Celcius telah membawa banyak perubahan di berbagai kawasan, mulai dari kekeringan dan badai yang lebih parah hingga naiknya permukaan laut.

Semua itu akan terus meningkat dengan pemanasan lebih jauh, namun belum terlambat untuk mengurangi emisi pemanasan iklim untuk menjaga kenaikan suhu ke tujuan yang disepakati secara internasional yakni “jauh di bawah” 2 derajat Celsius dan idealnya 1,5 derajat Celsius - yang akan membantu menghentikan atau memperlambat beberapa dampak, kata laporan tersebut.

Para pejabat PBB mengatakan bahwa IPCC semakin membunyikan alarm dalam laporan regulernya selama tiga dekade terakhir, namun itu tidak mendorong adanya tanggapan kebijakan yang memadai.

“Dunia mendengar tetapi tidak mendengarkan; dunia mendengar tetapi tidak bertindak cukup kuat- dan akibatnya, perubahan iklim adalah masalah yang ada di sini sekarang,” kata Inger Andersen, direktur eksekutif Program Lingkungan PBB.

“Tak ada yang aman dan ini semakin memburuk dengan cepat,” katanya pada para wartawan pada peluncuran laporan secara daring.

Ketua IPCC, Hoesung Lee, mengatakan laporan itu memberikan pemahaman yang lebih baik tentang perubahan iklim dan bagaimana hal itu telah terjadi di seluruh dunia.

"Ini memberi tahu kita bahwa tidak dapat disangkal bahwa aktivitas manusia menyebabkan perubahan iklim dan membuat peristiwa cuaca ekstrem lebih sering dan parah," katanya, menggambarkannya sebagai "kotak peralatan yang berharga" bagi para negosiator pada pembicaraan iklim COP26 November.

Semua bagian dunia terpengaruh, tambahnya, mencatat bahwa laporan tersebut berisi informasi terperinci tentang dampak berdasarkan wilayah, serta pengetahuan yang berkembang pesat tentang menghubungkan peristiwa cuaca ekstrem dengan perubahan iklim.

Laporan itu juga menawarkan atlas interaktif yang memungkinkan orang untuk memeriksa perubahan iklim di tempat mereka tinggal.

Petteri Taalas, sekretaris jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), yang menjadi tuan rumah IPCC, mengatakan bahwa jika dikonfirmasi dan dilaksanakan, rencana pemerintah saat ini untuk mengurangi emisi dapat membatasi pemanasan global hingga 2,1 derajat Celcius.

Tetapi tingkat kenaikan suhu itu masih akan membawa banyak masalah, termasuk kekurangan pangan, panas yang ekstrem, kebakaran hutan, kenaikan permukaan laut, potensi "krisis pengungsi" dan dampak negatif bagi ekonomi global dan keanekaragaman hayati, tambahnya.

Selain pengurangan emisi, "sangat penting untuk memperhatikan adaptasi iklim karena tren negatif dalam iklim akan berlanjut selama beberapa dekade dan dalam beberapa kasus selama ribuan tahun", katanya dalam peluncuran laporan.

Salah satu cara ampuh untuk beradaptasi, katanya, adalah berinvestasi dalam layanan peringatan dini untuk ancaman seperti kekeringan dan banjir - tetapi hanya setengah dari 195 negara anggota WMO yang saat ini memilikinya, memicu kerugian manusia dan ekonomi.

Terdapat pula kesenjangan parah dalam sistem meteorologi dan prakiraan cuaca di Afrika, sebagian Amerika Latin, Karibia, dan Pasifik, tambahnya.

Infrastruktur tangguh

Youba Sokona, wakil ketua IPCC dan penasihat khusus untuk pembangunan berkelanjutan di lembaga South Center, mengatakan laporan itu akan membantu para pembuat kebijakan di Afrika meningkatkan kemampuan mereka untuk memahami perubahan iklim dan mengantisipasi apa yang mungkin terjadi.

Laporan tersebut akan memungkinkan mereka untuk merancang infrastruktur yang lebih tangguh, seperti bendungan yang lebih besar di daerah rawan kekeringan atau pertahanan banjir yang lebih kuat di kota-kota, dan mencari pendanaan untuk proyek semacam itu, katanya kepada Thomson Reuters Foundation melalui panggilan video dari Bamako, ibu kota Mali.

Laporan tersebut mencakup informasi ilmiah spesifik tentang wilayah kutub, mengatakan bahwa sangat mungkin area Arktik telah menghangat lebih dari dua kali tingkat global selama 50 tahun terakhir.

Hal itu telah menyebabkan peristiwa panas yang lebih ekstrem, pencairan lapisan es dan musim kebakaran yang lebih lama, sementara Arktik bisa bebas es di musim panas setidaknya sekali pada tahun 2050, katanya.

Penulis utama laporan IPCC Dirk Notz, yang mengepalai penelitian tentang es laut di Universitas Hamburg Jerman, mengatakan Arktik adalah "sistem peringatan dini planet kita", dengan perubahan iklim yang terwujud lebih awal dan lebih kuat di sana.

Dia mengatakan pembuat kebijakan harus menggunakan laporan baru untuk membuat rencana terkait permukaan laut yang berpotensi melampaui kisaran yang diproyeksikan sebelumnya.

Sebagai contoh, jika membangun tanggul pantai untuk melindungi dari air setinggi 1 meter abad ini, akan masuk akal untuk membiarkannya dinaikkan untuk mengatasi peningkatan 2 meter  jika diperlukan.

"Saya berharap ... baik masyarakat dan pembuat kebijakan benar-benar memahami apa yang dipertaruhkan di sini - bahwa kita meninggalkan zona nyaman sistem iklim kita yang telah kita tinggali selama ribuan tahun terakhir dan pindah ke wilayah yang sama sekali belum dipetakan,” tambahnya.

Sumber: Thomson Reuters Foundation

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Cuci tangan dengan benar demi cegah penularan penyakit
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 12:01 WIB
Bertepatan dengan peringatan Global Hand Washing Day oleh Global Handwashing Partnership sejak 2008 ...
Respirator bisa bantu kurangi risiko terkena pajanan polusi udara
Jumat, 15 Oktober 2021 - 15:06 WIB
Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Agus Dwi Susanto, SpP(K), FAPSR, FISR, ...
Tangani dini AMD agar penglihatan tak semakin memburuk
Jumat, 15 Oktober 2021 - 11:34 WIB
Sama seperti penyakit lainnya yang membutuhkan pengobatan dini, begitu juga AMD atau degenerasi maku...
Terapi atasi kecemasan remaja pada masa pandemi
Kamis, 14 Oktober 2021 - 20:17 WIB
Aktivitas fisik dan latihan fisik bisa menjadi strategi terapi yang efektif mengatasi gejala depresi...
Trigeminal neuralgia bisa disembuhkan dengan tindakan PRFR
Rabu, 13 Oktober 2021 - 23:01 WIB
Dokter spesialis bedah saraf dr. Mustaqim Prasetya, Sp.BS FINPS mengatakan trigeminal neuralgia-kon...
Olahraga dua jam sebelum tidur dapat membantu lebih nyenyak
Rabu, 13 Oktober 2021 - 11:58 WIB
 Olahraga dengan intensitas tinggi yang dilakukan dua jam sebelum tidur dapat membantu tidur lebih ...
Mengenal hipoglikemia, penyakit yang diderita Dorce Gamalama
Senin, 11 Oktober 2021 - 11:56 WIB
Lemas, pusing, bahkan susah konsentrasi merupakan ciri-ciri dari seseorang mengalami hipoglikemia, p...
Mengenal `toxic positivity` dari sudut pandang `mindfulness`
Senin, 11 Oktober 2021 - 09:52 WIB
Praktisi Mindfulness dan Emotional Healer Adjie Santosoputro mengingatkan bahwa seseorang perlu ...
Psikolog: Mitos dan stigma kendala tangani masalah kesehatan mental
Senin, 11 Oktober 2021 - 06:01 WIB
Psikolog Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Jakarta, Widya S. Sari, M.Psi mengatakan permasalah...
Jaga kualitas udara dari paparan asap rokok di dalam rumah
Minggu, 10 Oktober 2021 - 16:30 WIB
Menjaga kualitas udara di dalam hunian merupakan hal penting guna meningkatkan kualitas kesehatan, t...
Live Streaming Radio Network