Buruh tani di Klaten kembalikan BST
Elshinta
Rabu, 04 Agustus 2021 - 17:45 WIB |
Buruh tani di Klaten kembalikan BST
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo bertemu dengan seorang buruh tani yang mengembalikan BST di Kabupaten Klaten bernama Tukul Subagiyono saat pembagian BST di Desa Kotesan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Rabu (4/8/2021). ANTARA/elshinta.com

Elshinta.com - Seorang buruh tani di Desa Kotesan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, bernama Tukul Subagiyono mengembalikan bantuan sosial tunai (BST) karena telah menerima bantuan dari Dana Desa.

Hal itu terjadi ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengecek pembagian BST di Kabupaten Klaten, Rabu, setelah mendapat banyak laporan terkait dengan penyaluran bantuan yang tidak tepat sasaran. Saat pembagian BST di Desa Kotesan yang disaksikan orang nomor satu di Jateng itu, Tukul Subagiyono mengangkat tangan dan memanggil Ganjar, serta dengan tegas ia mengatakan akan mengembalikan BST yang diterimanya.

"Ini punya saya mau saya kembalikan,Pak, 'wong' saya sudah dapat bantuan kok dapat lagi. Kasihan yang lain Pak, biar untuk yang lain saja," katanya.

Mendengar hal itu, Ganjar kemudian mendekat dan bertanya alasan Tukul mengembalikan BST serta pekerjaannya sehari-hari.

"Saya cuma buruh tani Pak. Ini saya kembalikan, 'wong' saya sudah dapat. Satu bantuan saja sudah cukup Pak, masa mau dapat lagi. Ya walaupun saya butuh sebenarnya, tapi kan saya sudah dapat. Yang lain masih banyak yang butuh dan tidak dapat," ujar Tukul yang langsung diacungi dua jempol oleh Ganjar.

Ternyata yang mengembalikan BST tidak hanya Tukul, ada dua warga lain di tempat itu yang melakukan hal serupa. Kedua orang itu adalah seorang ibu rumah tangga bernama Jannah yang suaminya bekerja sebagai kuli bangunan, dan mahasiswa Yoga Pratama.

"Suami saya sudah dapat bantuan dari Dana Desa Pak, jumlahnya juga sama Rp300 ribu per bulan. Gak tahu kok ini dapat bantuan lagi, makanya saya kembalikan. Mudah-mudahan dapat orang lain yang membutuhkan," kata Jannah.

Sementara itu, Yoga mengatakan bantuan Dana Desa sudah diterima ayahnya, sedangkan BST diterima atas namanya.

"Kan menurut aturan undang-undang, satu kepala keluarga dapat satu bantuan saja, tapi kok di keluarga saya dapat dua, makanya saya berinisiatif mengembalikan. Mungkin bisa digunakan ke masyarakat yang membutuhkan," ujarnya.

Menanggapi hal itu, Ganjar menyatakan bangga kepada warganya yang mau mengembalikan bantuan itu karena memang tidak berhak. Menurut dia, hal itu contoh moralitas yang harus menjadi teladan masyarakat lainnya sekaligus menjadi acuan pemerintah untuk melakukan perbaikan data.

"Dari sisi moralitasnya, ini sangat bagus. Ini konkret, mereka datang dengan moralitas bagus, mau mengembalikan karena merasa sudah menerima," katanya.

Banyak orang, lanjut Ganjar, tidak memiliki moralitas sebagus empat orang itu. Bahkan, dirinya sendiri melihat, beberapa penerima bantuan yang memakai jam tangan bagus, ponsel bagus, dan sepatu bagus. Ganjar juga mendapat fakta, ada penerima yang masih bekerja di pabrik dan ada juga yang punya usaha sendiri.

"Jadi ini soal moralitas, ada yang lebih mampu tapi tak berkeinginan mengembalikan. Mohon maaf, dengan segala hormat bapak dan ibu yang hari ini mengembalikan. Meskipun hanya buruh tani, tapi moralitasnya luar biasa. Ini ada juga ibu rumah tangga dan mahasiswa. Dia kritis karena merasa tidak berhak, ya dikembalikan," ujarnya.

Ganjar berharap apa yang dilakukan Tukul, Jannah, Yoga ini menjadi inspirasi banyak orang sebab saat ini, bantuan memang banyak yang tak tepat sasaran sehingga menimbulkan kecemburuan.

Karena kejujurannya, tiga warga Kabupaten Klaten yang mengembalikan bantuan itu langsung mendapat hadiah uang tunai dari Ganjar.

"'Rezeki 'wis ono sing ngatur nggih' (sudah ada yang mengatur) karena 'sampeyan' (anda) jujur, tak kasih hadiah," kata Ganjar.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rupiah Selasa pagi melemah 10 poin
Selasa, 21 September 2021 - 09:47 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Selasa pagi melemah 10 poin
IHSG Selasa dibuka melemah 26,52 poin
Selasa, 21 September 2021 - 09:36 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa dibuka melemah 26,52 poin
Geliat bisnis payung promosi sambut musim hujan
Selasa, 21 September 2021 - 07:30 WIB
Saat ini banyak perusahaan yang semakin peduli  mempersiapkan strategi bisnisnya dengan berpromosi ...
Indonesia perkuat interaksi bisnis dengan Eropa Tengah, Eropa Timur
Senin, 20 September 2021 - 23:30 WIB
Pemerintah Indonesia berupaya memperkuat interaksi bisnis dengan kawasan Eropa Tengah dan Eropa Timu...
Presiden: Fasum Rusun Pasar Rumput permudah aktivitas ekonomi
Senin, 20 September 2021 - 15:08 WIB
Presiden RI Joko Widodo menyebut keberadaan fasilitas sosial dan fasilitas umum di Rumah Susun (Rusu...
Pemkot Bandung kembali gelar Pasar Kreatif Bandung 2021
Senin, 20 September 2021 - 14:35 WIB
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat kembali menggelar Pasar Kreatif Bandung 2021 hingga Nov...
Pertamina Patra Niaga: Informasi harga solar industri resmi dapat dicek melalui PCC 135
Senin, 20 September 2021 - 12:55 WIB
Terkait adanya website yang mencantumkan daftar harga produk Solar Industri Pertamina, PT Pertamina ...
Rupiah Senin pagi melemah 35 poin
Senin, 20 September 2021 - 10:13 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi...
IHSG Senin dibuka melemah 1,21 poin
Senin, 20 September 2021 - 10:02 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin, dibuka melemah 1,21 poin
BUMN diminta optimalkan lahan produktif untuk ekonomi rakyat
Minggu, 19 September 2021 - 15:56 WIB
Arus Baru Indonesia (ARBI) meminta BUMN seperti Pertamina dan Perhutani untuk mengoptimalkan lahan-l...
Live Streaming Radio Network