Kisah Sunisa Lee: dari pengungsi, COVID-19 hingga emas Olimpiade 2020
Elshinta
Jumat, 30 Juli 2021 - 06:00 WIB |
Kisah Sunisa Lee: dari pengungsi, COVID-19 hingga emas Olimpiade 2020
Pesenam Amerika Serikat Sunisa Lee mencium medali emas Olimpiade Tokyo 2020 yang diraih dari nomor semua alat (all-around) individual putri di Ariake Gymnastics Centre, Tokyo, Jepang, pada 29 Juli 2021 (ANTARA/REUTERS/LINDSEY WASSON)

Elshinta.com - Air mata pesenam putri Amerika Serikat, Sunisa Lee tidak terbendung ketika dia menghubungi keluarganya melalui panggilan telepon, persis setelah seremoni penyerahan medali emas Olimpiade 2020, Kamis (29/7).

"Kami semua menangis di telepon. Itu momen yang luar biasa, saya sangat bahagia," ujar Lee, yang baru berusia 18 tahun dan merupakan atlet termuda di tim nasional senam AS, dikutip dari Reuters.

Air mata Lee tumpah begitu melihat wajah-wajah orang yang selalu ada untuknya dalam situasi apapun. Dan, memang, perjuangannya untuk sampai ke Olimpiade 2020 tidaklah mudah.

Orang tua Sunisa Lee merupakan pengungsi beretnis Hmong yang datang dari Laos ke Negeri Paman Sam demi mengubah peruntungan hidup.

Besar di komunitas Hmong-Amerika, Sunisa Lee tumbuh sebagai putri yang cenderung aktif. Hobinya jumpalitan di sofa rumah. Namun, alih-alih marah dan melarangnya, kedua orang tuanya justru melihat bakat tersembunyi dan mengarahkan anaknya itu untuk berlatih senam mulai umur enam tahun.

Dengan upaya keras dan dukungan dari keluarganya, Lee akhirnya bisa tampil di turnamen senam junior bergengsi AS, US Classic, pada tahun 2016.

Catatan-catatan baik di setiap turnamen yang diikuti membuat dia dilirik oleh Federasi Senam AS, USA Gimnastics. Dia lalu diikutkan ke turnamen tingkat senior, Kejuaraan Senam Nasional AS pada tahun 2019.

Akan tetapi, perjalanan tak semulus rencana. Beberapa saat sebelum mencatatkan debut di tim senam senior, Lee menyaksikan ayahnya lumpuh setengah badan, dari dada ke bawah, akibat jatuh dari tangga.

Meski begitu, Sunisa Lee tampil fokus dan berhasil merebut medali emas di nomor palang bertingkat dan perak di nomor 'all-around' perorangan putri. Dari sisi prestasi di kejuaraan ini, Lee masih berada di bawah jagoan senam AS Simone Biles yang merebut empat medali emas dari lima nomor yang dipertandingkan di sektor putri.

Kemampuan Sunisa Lee mengantarnya lolos ke Olimpiade 2020 di Tokyo. Dia pun menjadi keturunan Hmong-Amerika pertama yang mewakili AS di Olimpiade.

Sayangnya, dalam persiapan menuju ke pesta olahraga empat tahunan tersebut, Lee kembali diterpa kabar buruk. Paman dan bibinya meninggal dunia akibat COVID-19.

Dunianya hampir runtuh. Lee tidak bisa lupa bagaimana paman dan bibinya rutin membuatkannya teh herbal panas dan memijitnya setelah selesai berlatih.

Masih berbalut duka, Lee malah didera cedera. Pikiran untuk berhenti dari dunia senam melintas, tetapi mental juara membawanya bangkit.

Tak diunggulkan
Keberadaan Simone Biles di tim senam putri AS seakan menenggelamkan Sunisa Lee. Dia sama sekali tidak diunggulkan untuk menjadi yang terbaik di Olimpiade 2020.

Akan tetapi, Biles ternyata membuat keputusan yang mengejutkan yakni mundur dari nomor beregu dan semua alat (all-around) Olimpiade 2020. Mau tak mau, beban medali emas berpindah ke pundak Lee, salah satu pesenam muda putri paling berbakat di AS.

Dan, saat waktunya tiba, Lee seolah memang dilahirkan untuk menonjol dalam situasi genting dan penuh tekanan.

Berlaga di nomor all-around perorangan putri, nomor di mana seharusnya Simone Biles sangat dikedepankan untuk juara, Lee tampil nyaris tanpa cela dan berhasil merengkuh keping emas.

Tugas itu dituntaskan Lee di hadapan Biles yang duduk menonton di baris depan.

"Saya merasakan banyak tekanan karena pada dasarnya saya selalu berada di urutan kedua di belakang Biles sepanjang musim. Jadi saya mengetahui orang-orang mengandalkan saya untuk merebut peringkat kedua atau medali emas. Saya lalu mencoba untuk tidak fokus ke sana supaya tak gugup," tutur Lee.

Sebelum itu, Lee sudah menyumbangkan perak Olimpiade 2020 bersama tim senam beregu putri AS.

Sunisa Lee pantas merayakan keberhasilannya bersama sosok-sosok yang disayanginya, terutama ibu dan ayahnya.

Sang ayahlah yang awalnya membawa dia klub senam lokal pada usia enam tahun.

"Menjengkelkan melihat ayah tak ada di sini bersama saya. Ini adalah mimpi kami, yang selalu kami bicarakan. Ayah pernah bilang, kalau saya dapat emas, dia akan berdiri di lantai dan menyambut saya. Dia selalu menguatkan dan meminta saya untuk tidak terlalu memerhatikan perolehan poin dan semacamnya karena di dalam hati orang tua saya, saya sudah menjadi juara," kata Lee.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Cabor eksibisi esports PON XX Papua 2021 mulai digelar 
Selasa, 21 September 2021 - 17:56 WIB
Tonggak sejarah baru ditorehkan esports nasional melalui penyelenggaraan Eksibisi Esports PON XX Pap...
Tim paralayang Jabar andalkan Milawati Sirin curi emas PON Papua
Senin, 20 September 2021 - 22:45 WIB
Tim Paralayang Jawa Barat mengandalkan atlet senior putri Milawati Sirin untuk dapat mencuri satu me...
Atlet PON XX asal Sumut mulai diberangkatkan, dikawal puluhan personel Brimob
Senin, 20 September 2021 - 10:48 WIB
Kontingen Pekan Olahraga Nasional 2020, Sumatera Utara mulai hari Senin ini (20/9) diberangkatkan m...
DIY berangkatkan kontingen terbesar pertama ke Papua
Minggu, 19 September 2021 - 22:01 WIB
Kontingen terbesar pertama dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang akan berlaga di PON Papua dibe...
Ragam akses masyarakat dapatkan informasi PON dan Peparnas Papua
Minggu, 19 September 2021 - 17:16 WIB
Perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) serta Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) Papua semakin ...
Kontingen resmi pertama PON Papua mendapat sambutan spesial
Minggu, 19 September 2021 - 11:48 WIB
Rombongan pertama kontingen resmi Pekan Olahraga Nasional (PON) Papua tiba di Bandara Sentani, Mingg...
Pemerintah akan bangun pemusatan latihan untuk atlet disabilitas
Minggu, 19 September 2021 - 10:58 WIB
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali menyatakan bahwa Presiden Joko Widodo telah men...
 Atlet PON Kalsel diminta tetap jaga nama.baik daerah
Sabtu, 18 September 2021 - 14:36 WIB
Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor  melepas kontingen atlet yang mengikuti Pekan Olahraga ...
Kelompok mahasiswa dilibatkan dalam persiapan pelaksanaan PON
Sabtu, 18 September 2021 - 12:39 WIB
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Provinsi Papua melibatkan 25 kelompok mahasiswa dalam pelak...
Indonesia imbangi Barbados pada hari pertama Davis Cup 2021
Sabtu, 18 September 2021 - 11:39 WIB
Indonesia meraih hasil imbang saat berhadapan dengan Barbados pada dua laga pembuka babak pertama Gr...
Live Streaming Radio Network