Ekstensifikasi garam NTT untuk ganti impor
Elshinta
Senin, 26 Juli 2021 - 17:36 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
Ekstensifikasi garam NTT untuk ganti impor
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2K2SuSb

Elshinta.com - Mayoritas potensi produksi garam di Nusa Tenggara Timur belum dimanfaatkan. Padahal, provinsi itu salah satu lokasi terbaik untuk produksi garam dan hasilnya berpeluang menjadi pengganti garam impor. 

Dekan Fakultas Perikanan Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) Kupang, Umbu Paru Lowu Dawa, mengatakan bahwa potensi produksi garam di seluruh NTT sedikitnya 1,4 juta ton per tahun. Adapun lahan yang bisa dipakai mencapai 20.438 hektar. "Sekarang, baru sebagian terpakai," kata dia dalam Webinar oleh SBE UISC 2021 beserta Forum Diskusi Ekonomi dan Politik, Senin (26/7).

Dari seluruh lahan potensial untuk produksi garam, baru 10.140 hektar dipakai. Sisanya masih menjadi lahan tidur. 

Umbu menyebut, perluasan lahan garam di NTT diperlukan jika NTT ingin menjadi pemasok substitusi garam impor. Meski tidak semua kebutuhan garam bisa dipenuhi NTT, setidaknya sebagian bisa memakai produk NTT.

Ia membenarnya, ada sejumlah tantangan produksi garam di NTT. Di lahan yang terpakai untuk produksi, cara produksinya masih menggunakan sistem tradisional.

Selama bertahun-tahun, sistem tradisional terbukti menjadi salah satu penyebab kuantitas dan kualitas garam nasional sulit bersaing.
Di NTT, menurut Umbu, sebenarnya sudah dikenal sistem geomembran dan sistem portugis untuk produksi garam. Cara produksi itu memang membutuhkan waktu lebih lama. Akan tetapi, kualitas garamnya lebih baik.

Penerapan teknik produksi yang lebih baik ditambah kondisi alam bisa membuat NTT menjadi produsen garam berkualitas. NTT salah satu daerah terbaik di Indonesia untuk produksi garam. Sebab, periode kemaraunya bisa sampai 7 bulan per tahun, kecepatan angin rata-rata 40 kilometer per jam, dan kelembaban nisbi 60 persen. Tidak kalah penting, pencemaran laut amat rendah sehingga bahan baku garam menjadi lebih bersih.

Pada kesempatan yang sama Presiden Direktur PT Cheetham Garam Indonesia,  Arthur Tanudjaja, menyebut bahwa pihaknya menggunakan sistem portugis untuk memproduksi garam di Malaka. Seperti disampaikan Umbu, sistem Portugis menghasilkan garam lebih baik.

Sistem Portugis lebih dulu membuat lapisan garam sebagai alas untuk produksi selanjutnya. Setelah lapisan dasar selesai dan mengeras, baru mulai pembuatan garam untuk dipanen. Sistem ini memang membutuhkan waktu lebih lama.  

Dalam sistem tradisional, garam langsung dipanen setelah lapisan pertama mengering. Metode itu membuat garam bersentuhan dengan tanah. Sementara di sistem Portugis, garam yang dipanen tidak bersentuhan dengan tanah.

Di sisi lain, Arthur menyinggung fakta impor garam di Indonesia dapat dikatakan sangat kecil, karena industri pengguna garamnya belum besar seperti negara lain. Dia membandingkan dengan negara Amerika Serikat sebagai produsen garam terbesar ke dua di dunia. “Amerika mengimpor garam sebanyak 18 miliar  ton dalam satu tahun," ujarnya.

Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Tony Tanduk mengatakan nilai ekspor hasil industri pengguna garam pada tahun 2020 sebanyak 51 milyar USD. Sedangkan impor garam pada tahun 2020 senilai 97 juta USD. Nilai ekspor tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019 sebesar 47,9 milyar USD. “Walaupun pademi, industri pengguna garam terus berproduksi,” ucapnya pada kesempatan yang sama.

Toni merincikan industri makanan minuman menyumbangkan nilai ekspor terbesar yakni 31,1 milyar USD pada tahun 2020, sedangkan nilai impor garam industri ini sebesar 19,2 juta USD. Industri petrokimia khor-alkali menyumbang nilai ekspor sebesar 12,5 milyar USD, nilai impor garam oleh industri CAP senilai 54,8 juta USD. “Total nilai impor garam pada tahun 2020 senilain 97 juta USD,” terangnya.

Dia menambahkan industri aneka pangan dan petrokimia khor-alkali terus tumbuh 6-7% pertahun. “Industri ini menjadi sumber perolehan devisa serta penyerapan tenaga kerja,” ujarnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
BUMN diminta optimalkan lahan produktif untuk ekonomi rakyat
Minggu, 19 September 2021 - 15:56 WIB
Arus Baru Indonesia (ARBI) meminta BUMN seperti Pertamina dan Perhutani untuk mengoptimalkan lahan-l...
 Profesionalitas dan ketaatan pajak krusial dalam menjalankan usaha ekspor
Sabtu, 18 September 2021 - 21:45 WIB
Profesionalitas dan ketaatan hukum, termasuk dalam hal perpajakan, sangat krusial dalam menjalankan ...
 Jufry Lumintang: UMKM bangkit lebih cepat dengan dua syarat ini!
Sabtu, 18 September 2021 - 19:10 WIB
Dalam acara deklarasi, Ketua Umum Gerakan Restorasi Pedagang dan UMKM (GARPU), Jufri Lumintang menga...
Wamendes Budi Arie: Masa depan Indonesia ada di desa
Sabtu, 18 September 2021 - 17:47 WIB
Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Budi Arie Setiadi menyambangi BUM...
Satu setengah tahun berjalan, Program Kartu Prakerja jangkau 10,6 juta penerima manfaat
Sabtu, 18 September 2021 - 16:36 WIB
Dalam usianya yang baru 1,5 tahun, Program Kartu Prakerja telah memberikan dampak signifikan di teng...
 BAZNAS sukses pertahankan sertifikasi manajemen anti penyuapan
Sabtu, 18 September 2021 - 15:14 WIB
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kembali menerima Sertifikasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan ISO ...
Bupati Sukoharjo bujuk keluarga terlantar pindah rusunawa
Sabtu, 18 September 2021 - 15:07 WIB
Bupati Sukoharjo, Jawa Tengah Etik Suryani membujuk satu keluarga terlantar di Kartasura menempati ...
Ubi Jalar Jabar berhasil tembus pasar Singapura
Sabtu, 18 September 2021 - 00:01 WIB
Ubi jalar asal Jabar berhasil menembus pasar ekspor Singapura untuk pertama kali.
BP Batam siapkan aplikasi IBOSS untuk permudah perizinan
Jumat, 17 September 2021 - 22:45 WIB
Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam melakukan penyempurnaan p...
 Musim kemarau, 2800 hektar sawah di Undaan Kudus ditanami kacang hijau
Jumat, 17 September 2021 - 21:57 WIB
Pada musim kemarau kali ini ada kabar yang mengembirakan bagi para petani di Kecamatan Undaan, Kabup...
Live Streaming Radio Network