Ketahui faktor risiko penyakit jantung bawaan anak sejak dini
Elshinta
Minggu, 25 Juli 2021 - 11:15 WIB |
Ketahui faktor risiko penyakit jantung bawaan anak sejak dini
Ilustrasi anak sakit (Pexel)

Elshinta.com - Ketua Terpilih Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Dr. Radityo Prakoso, SpJP(K), FIHA, mengatakan orang tua perlu mengetahui faktor risiko Penyakit Jantung Bawaan (PJB) atau Congenital Heart Disease (CHD) lewat skrining premarital.

"Skrining premarital dan konseling genetik dapat mengidentifikasi dan memodifikasi, melalui pencegahan dan manajemen, beberapa kebiasaan, medis dan faktor risiko lainya yang dapat mempengaruhi hasil kehamilan," kata Dr. Radityo dalam seminar daring Heartology Cardiovascular Center, dikutip pada Minggu.

"Ini juga melibatkan promosi kesehatan wanita dan pasangannya sebelum terjadinya sebuah kehamilan, merupakan pencegahan primer dan langkah penting dalam membentuk masyarakat yang sehat," imbuhnya.

Sebagai informasi, Penyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah penyakit jantung yang telah ada sejak lahir akibat pembentukan jantung yang tidak sempurna pada fase awal perkembangan janin di dalam kandungan.

PJB mengakibatkan gangguan aliran darah di dalam ruang jantung sehingga darah yang dipompa tidak mencukupi kebutuhan tubuh, sehingga tanpa kontrol kehamilan yang baik seringkali PJB tidak terdiagnosa sebelum bayi dilahirkan. Pada saat orang tua mengetahui bahwa mereka memiliki bayi, proses perkembangan jantung telah selesai.

Di Indonesia sendiri, menurut data dari PERKI, terdapat 9 dari 1.000 bayi yang lahir dengan PJB.

Ada pun sejumlah faktor risiko yang bisa diketahui melalui skrining tersebut. Pertama adalah gen PJB yang diturunkan pada keluarga dan berhubungan dengan banyak sindroma genetik. Lalu Rubella yang dapat mempengaruhi perkembangan jantung janin, dan diabetes yang meningkatkan risiko PJB. Perlu diketahui, diabetes gestasional tidak meningkatkan risiko PJB.

Lebih lanjut, penggunaan obat-obatan seperti lithium atau isoretinoin berkaitan dengan PJB, diikuti dengan konsumsi alkohol serta merokok.

Kini, sebagian PJB dapat divisualisasi dengan ekokardiografi fetal pada trimester kedua.

"Dokter jantung janin memiliki peranan yang penting yang bukan hanya untuk menegakkan diagnosis, tapi juga memberikan konseling prenatal untuk membantu pasien," jelas Dr. Radityo.

Diagnosis prenatal memberikan kesempatan bagi orang tua untuk berkonsultasi mengenai diagnosis anak dan meningkatkan pemahaman orang tua tentang PJB. Ini juga memberikan waktu bagi orang tua untuk memutuskan tetap dilanjutkannya atau diterminasinya sebuah kehamilan, serta untuk memproses emosi.

Selanjutnya, ada skrining bayi baru lahir untuk PJB kritis, dilakukan dengan oksmetri denyut. Uji ini memperkirakan jumlah oksigen pada darah bayi. Skrining dilakukan ketika bayi berusia minimal 24 jam atau setelat mungkin sebelum bayi dipulangkan jika diukur sebelum berusia 24 jam.

Dr. Radityo mengatakan, saat ini PJB dapat ditangani tanpa pembedahan. Intervensi kateter Zero Fluoroscopy (tanpa radiasi) merupakan teknik mutakhir penanganan PJB tanpa radiasi dan pembedahan.

Diketahui, radiasi dapat menimbulkan efek jangka panjang baik untuk pasien maupun dokter dan tim laboratorium kateterisasi.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pakar sarankan untuk gunakan jenis vaksin yang sama sebagai booster
Selasa, 21 September 2021 - 15:37 WIB
Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Anda...
Mengenal Alzheimer, gejala hingga faktor risiko
Selasa, 21 September 2021 - 12:03 WIB
Penyakit Alzheimer sering dikaitkan dengan demensia atau pikun, padahal kondisi dari dua masalah ini...
Kemenkes: Waspadai pelaku perjalanan dari negara perbatasan
Senin, 20 September 2021 - 16:25 WIB
Indonesia perlu mewaspadai kasus COVID-19 yang berpotensi dibawa oleh sejumlah pelaku perjalanan int...
Dokter RS PON anjurkan pemeriksaan berkala cegah pecah pembuluh otak
Kamis, 16 September 2021 - 14:42 WIB
Kepala Neurosurgeon Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Prof. DR. Dr. Mahar Mardjono, Jakarta,...
Dokter spesialis jiwa: Matikan TV dan HP agar anak konsentrasi belajar
Rabu, 15 September 2021 - 16:46 WIB
Dokter spesialis kedokteran jiwa di Semen Padang Hospital Dr dr Amel Yanis, Sp.KJ (K) menyarankan or...
Cara mudah terhindar dari `sedentary lifestyle` agar tubuh tetap fit
Rabu, 15 September 2021 - 16:27 WIB
Salah satu gaya hidup yang jadi berbahaya di tengah pandemi COVID-19 adalah `sedentary lifestyle` at...
Iklan obat tradisional harus lengkap dan obyektif agar tak menyesatkan
Selasa, 14 September 2021 - 16:06 WIB
Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan Makana...
BPOM sebut herbal untuk terapi tambahan pasien COVID-19 masih diteliti
Selasa, 14 September 2021 - 14:16 WIB
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan M...
Armand Maulana ajak masyarakat untuk vaksinasi COVID-19
Selasa, 14 September 2021 - 11:25 WIB
Musisi Armand Maulana mengajak agar masyarakat melakukan vaksinasi COVID-19 di samping tetap menjaga...
Tips dokter cegah gigi ngilu
Senin, 13 September 2021 - 17:55 WIB
Dokter spesialis konservasi gigi konsultan restorasi di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr...
Live Streaming Radio Network