Sama-sama batasi asupan karbohidrat, apa beda Diet Keto dan Diet Atkins?
Elshinta
Senin, 28 Juni 2021 - 15:58 WIB | Penulis : Calista Aziza | Editor : Calista Aziza
Sama-sama batasi asupan karbohidrat, apa beda Diet Keto dan Diet Atkins?
Ilustrasi

Elshinta.com - Diet keto maupun diet atkins keduanya adalah dua metode diet yang terkenal. Keduanya sama-sama menerapkan diet dengan mengurangi atau membatasi asupan karbohidrat dalam tubuh. Selain itu, baik diet keto maupun diet atkins keduanya juga dianggap efektif dalam menurunkan berat badan sehingga sangat populer di internet beberapa tahun belakangan ini.

Meski tampak serupa, ternyata keduanya memiliki perbedaan. Nah, supaya tidak bingung lagi, yuk simak penjelasan mengenai beda diet keto dan diet atkins berikut ini yang dilansir dari laman sociolla!

 

Perbedaan pembatasan asupan karbohidrat

Perbedaan paling mendasar adalah diet keto membatasi karbohidrat sama sekali, sedangkan dalam melakukan diet atkins kamu bisa meningkatkan asupannya secara bertahap. Saat menjalani diet keto, pembagiannya adalah 70-90% lemak, 5-20% protein, dan 5-10% karbohidrat. Selain itu, kamu benar-benar harus konsisten dalam membatasi asupan karbohidrat.

Berbeda dengan diet atkins, kamu hanya perlu membatasi asupan karbohidrat selama 2 minggu saja. Setelah mendekati berat badan ideal, kamu sudah bisa mulai meningkatkan asupan karbohidrat secara perlahan. Intinya, diet keto lebih ketat dibandingkan dengan diet Atkins. 

 

Asupan yang masuk ke dalam tubuh

Menurut Amy Miskimon Goss, asisten profesor ilmu nutrisi di University of Alabama di Birmingham, diet atkins secara tradisional merekomendasikan makan protein untuk mengatasi rasa lapar, sedangkan diet ketogenik yang diformulasikan dengan baik membatasi protein dan menggunakan lemak untuk menenangkan perut. Karena diet atkins lebih holistik, terutama dalam fase "pemeliharaan", tidak ada persentase pasti untuk konsumsi protein.

Diet keto, di sisi lain, sangat ketat dalam konsumsi lemak tinggi. Untuk menjaga ketosis, diet keto mengharuskan pelaku diet untuk mengonsumsi makanan yang kebanyakan mengandung lemak. Faktanya, kamu harus mengonsumsi sekitar 60-75 persen kalori harian dari lemak sehat yang ditemukan dalam makanan, seperti alpukat, keju, kacang-kacangan, dan yogurt.

 

Keto menganjurkan makanan utuh, atkins tidak

Beda diet keto dan diet atkins selanjutnya terletak pada jenis makanan yang dipilih untuk dikonsumsi. Goss menjelaskan juga bahwa diet ketogenik juga harus didasarkan pada makanan utuh. Ini berarti makan biji-bijian utuh, bukan biji-bijian olahan, makanan yang tidak diproses daripada makanan kalengan atau dikemas, dan juga menjauhi makanan berpengawet.

Sedangkan saat melakukan diet atkins, kamu tidak diharuskan melakukan batasan tersebut. Perusahaan diet atkins mendorong orang untuk makan bar merek Atkins, shake, dan makanan kemasan lainnya yang dirancang khusus untuk mendukung gaya hidup.

 

Durasi melakukan diet yang berbeda

Ahli diet yang berbasis di New York City, Kristen Mancinelli, RD, dan penulis buku ‘The Ketogenic Diet: A Scientifically Proven Approach to Fast, Healthy Weight Loss’, mengungkapkan bahwa diet keto dilakukan maksimal selama 2-3 minggu saja. Kristen juga tak merekomendasikan melakukan keto secara permanen, karena bisa berakibat tidak baik untuk tubuh.

Sedangkan untuk diet atkins, kamu bisa dilakukan dalam jangka waktu sekitar 3-6 bulan. Setelah melakukan 4 fase dalam melakukan diet atkins, kamu bisa melanjutkan diet dengan memperhatikan asupan karbohidrat, protein, lemak hingga serat yang dikonsumsi. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Pakar sarankan untuk gunakan jenis vaksin yang sama sebagai booster
Selasa, 21 September 2021 - 15:37 WIB
Kepala Laboratorium Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Anda...
Mengenal Alzheimer, gejala hingga faktor risiko
Selasa, 21 September 2021 - 12:03 WIB
Penyakit Alzheimer sering dikaitkan dengan demensia atau pikun, padahal kondisi dari dua masalah ini...
Kemenkes: Waspadai pelaku perjalanan dari negara perbatasan
Senin, 20 September 2021 - 16:25 WIB
Indonesia perlu mewaspadai kasus COVID-19 yang berpotensi dibawa oleh sejumlah pelaku perjalanan int...
Dokter RS PON anjurkan pemeriksaan berkala cegah pecah pembuluh otak
Kamis, 16 September 2021 - 14:42 WIB
Kepala Neurosurgeon Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (PON) Prof. DR. Dr. Mahar Mardjono, Jakarta,...
Dokter spesialis jiwa: Matikan TV dan HP agar anak konsentrasi belajar
Rabu, 15 September 2021 - 16:46 WIB
Dokter spesialis kedokteran jiwa di Semen Padang Hospital Dr dr Amel Yanis, Sp.KJ (K) menyarankan or...
Cara mudah terhindar dari `sedentary lifestyle` agar tubuh tetap fit
Rabu, 15 September 2021 - 16:27 WIB
Salah satu gaya hidup yang jadi berbahaya di tengah pandemi COVID-19 adalah `sedentary lifestyle` at...
Iklan obat tradisional harus lengkap dan obyektif agar tak menyesatkan
Selasa, 14 September 2021 - 16:06 WIB
Direktur Registrasi Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan Makana...
BPOM sebut herbal untuk terapi tambahan pasien COVID-19 masih diteliti
Selasa, 14 September 2021 - 14:16 WIB
Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan M...
Armand Maulana ajak masyarakat untuk vaksinasi COVID-19
Selasa, 14 September 2021 - 11:25 WIB
Musisi Armand Maulana mengajak agar masyarakat melakukan vaksinasi COVID-19 di samping tetap menjaga...
Tips dokter cegah gigi ngilu
Senin, 13 September 2021 - 17:55 WIB
Dokter spesialis konservasi gigi konsultan restorasi di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), dr...
Live Streaming Radio Network