PBB: Jumlah orang yang terpaksa mengungsi meningkat di tengah pandemi
Elshinta
Jumat, 18 Juni 2021 - 16:48 WIB |
PBB: Jumlah orang yang terpaksa mengungsi meningkat di tengah pandemi
Gadis pengungsi memakai masker saat mengikuti acara yang diselenggarakan Yayasan Violet, sebagai upaya menyebarkan kesadaran dan menghimbau keamanan ditengan pandemi virus corona (COVID-19), di sebuah kamp di kota Maarat Masrin di bagian utara Idlib, Suriah, Selasa (14/4/2020). REUTERS/Khalil Ashawi/foc/djo

Elshinta.com - Jumlah orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik, penganiayaan dan pelanggaran hak asasi manusia telah meningkat dua kali lipat dalam dekade terakhir menjadi 82,4 juta pada akhir tahun lalu, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Jumat.

“Pada tahun COVID, di tahun di mana pergerakan hampir tidak mungkin bagi sebagian besar dari kita... jumlah orang yang terpaksa mengungsi telah bertambah tiga juta,” kata Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi Filippo Grandi kepada Reuters.

Hampir 70 persen dari mereka yang terkena dampak hanya berasal dari lima negara - Suriah, Venezuela, Afghanistan, Sudan Selatan, dan Myanmar - menurut laporan tahunan tentang pemindahan paksa oleh Badan Pengungsi PBB, UNHCR.

“Sayangnya tren terus berlanjut. Jadi jika kami harus bekerja untuk memperbarui angka ... untuk enam bulan pertama tahun 2021, kami mungkin akan melihat peningkatan lebih lanjut dari 82,4 juta itu," kata Grandi. Sekitar 42 persen dari mereka yang mengungsi adalah anak-anak.

Dia menjelaskan bahwa peningkatan angka mereka yang tergusur dari rumahnya sebagian didorong oleh titik nyala baru, termasuk di bagian utara Mozambik, area Sahel Afrika Barat, dan Tigray di Ethiopia, berbarengan dengan gejolak dalam konflik yang telah berlangsung lama di Afganistan dan Somalia.

PBB juga tengah mempersiapkan kemungkinan pemindahan warga sipil lebih lanjut di Afganistan setelah pasukan Amerika Serikat dan internasional meninggalkan negara itu pada September, kata Grandi pada awal pekan ini.

Di tengah meningkatnya populisme dan nasionalisme dalam politik global, Grandi meminta para pemimpin dunia untuk "berhenti menjelek-jelekkan orang" yang terpaksa pindah.

"Mengatakan bahwa satu-satunya cara untuk mengatasi arus populasi ini adalah dengan membangun tembok atau mendorong orang kembali ke laut adalah sesuatu yang tercela secara moral. Mereka adalah manusia," kata Grandi. "Apa pun motif pelarian atau pergerakannya, manusia berhak mendapatkan martabat penuh seperti orang lain."

Mantan Presiden AS Donald Trump mengambil pendekatan garis keras pada keamanan perbatasan dan imigrasi. Grandi, yang baru-baru ini mengunjungi Washington, memuji janji Presiden baru Joe Biden untuk "memulihkan sistem suaka AS yang efektif dan manusiawi."

"Sangat penting bahwa janji itu dilaksanakan," katanya. "Sikap yang saya dengar di Washington adalah orang-orang yang membutuhkan perlindungan internasional akan diberikan perlindungan internasional, tetapi kita harus membuat sistemnya lebih efektif jika tidak, pelanggaran akan terjadi, jumlahnya akan meroket."

Laporan UNHCR menemukan bahwa pada tahun 2020 hanya 34.400 pengungsi yang secara resmi dimukimkan kembali secara global - sepertiga dari tahun sebelumnya. Mereka dimukimkan kembali di Amerika Serikat, Kanada dan Eropa.

Sumber: Reuters

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kasus COVID melonjak, Vietnam perpanjang penguncian di wilayah selatan
Minggu, 01 Agustus 2021 - 11:30 WIB
Vietnam mulai Senin akan memperpanjang pembatasan ketat terhadap pergerakan di Kota Ho Chi Minh dan ...
AS desak presiden Tunisia segera kembali ke jalur demokrasi
Minggu, 01 Agustus 2021 - 09:00 WIB
Penasihat keamanan nasional AS Jake Sullivan mendesak presiden Tunisia pada Sabtu (31/7) untuk seger...
WHO: Progres penanganan COVID terancam varian Delta
Sabtu, 31 Juli 2021 - 17:00 WIB
Dunia terancam kehilangan progres yang susah didapatkan dalam memerangi COVID-19 ketika varian Delta...
Indonesia terima bantuan Oxygen Concentrator lembaga donor Hong Kong
Jumat, 30 Juli 2021 - 22:19 WIB
Indonesia menerima bantuan Oxygen Concentrator (OC) dari lembaga donor dari Hong Kong dalam rangka m...
AS sebut China intimidasi wartawan asing peliput banjir
Jumat, 30 Juli 2021 - 14:37 WIB
Amerika Serikat (AS) disebut sangat prihatin dengan meningkatnya pengawasan, pelecehan, dan intimida...
Jepang usulkan penambahan empat wilayah ke status darurat COVID
Jumat, 30 Juli 2021 - 13:24 WIB
Pemerintah Jepang pada Jumat mengusulkan penerapan keadaan darurat hingga 31 Agustus di tiga prefekt...
Takut dicurangi, Bolsonaro minta pemilu 2022 pakai kertas
Jumat, 30 Juli 2021 - 12:34 WIB
Presiden Jair Bolsonaro pada Kamis (29/7) meminta agar sistem pemungutan suara elektronik di Brazil ...
Kasus COVID melonjak, Sydney masuki lockdown baru yang ketat
Jumat, 30 Juli 2021 - 11:45 WIB
Jutaan orang di Sydney pada Jumat mulai menjalani penguncian (lockdown) terberat mereka selama pande...
Arab Saudi izinkan wisatawan asing mulai 1 Agustus
Jumat, 30 Juli 2021 - 11:20 WIB
Kementerian Pariwisata Arab Saudi akan kembali menerima warga asing pemegang visa turis per 1 Agustu...
Inggris peringatkan separuh warga Myanmar dapat terinfeksi COVID
Jumat, 30 Juli 2021 - 10:57 WIB
Duta Besar Inggris untuk PBB pada Kamis (29/7) memperingatkan bahwa separuh dari 54 juta penduduk My...
Live Streaming Radio Network