BEI hentikan sementara perdagangan saham Garuda Indonesia
Elshinta
Jumat, 18 Juni 2021 - 12:45 WIB |
BEI hentikan sementara perdagangan saham Garuda Indonesia
Ilustrasi - Pesawat maskapai Garuda Indonesia. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Elshinta.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk di seluruh pasar, terhitung sejak sesi satu perdagangan efek per hari ini.

Emiten berkode saham GIAA itu telah menunda pembayaran jumlah pembagian berkala sukuk yang telah jatuh tempo pada 3 Juni 2021 lalu dan telah diperpanjang pembayarannya dengan menggunakan hak grace period selama 14 hari, sehingga jatuh tempo pada 17 Juni 2021.

Dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat, BEI menilai hal tersebut mengindikasikan adanya permasalahan pada kelangsungan usaha perseroan.

"Dengan mempertimbangkan hal tersebut, bursa memutuskan untuk melakukan penghentian sementara perdagangan efek PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di seluruh pasar terhitung sejak sesi satu perdagangan efek tanggal 18 Juni 2021, hingga pengumuman bursa lebih lanjut," tulis BEI dalam pengumuman resminya.

Keputusan bursa tersebut berdasarkan pada, pertama, surat PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Nomor GARUDA/JKTDF/20625/2021 tanggal 17 Juni 2021 perihal Laporan Informasi atau Fakta Material Penundaan pembayaran Jumlah Pembagian Berkala (Kupon Sukuk) atas 500 juta dolar AS Trust Certificate Garuda Indonesia Global Sukuk Limited (Sukuk).

Selain itu, surat perseroan No.GARUDA/JKTDF/20593/2021 pada 3 Juni 2021 perihal Laporan Informasi atau Fakta Material Pengumuman Penundaan Pembayaran Garuda Indonesia Global Sukuk Limited Trust Certificate.

Saham GIAA terakhir diperdagangkan pada harga Rp222 per saham. Sejak awal tahun hingga kini atau year to date saham GIAA telah anjlok 44,78 persen.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Stafsus Presiden: Pemerintah tetap berhati-hati meski ekonomi membaik
Kamis, 05 Agustus 2021 - 15:07 WIB
Staf Khusus Presiden Arif Budimanta mengatakan pemerintah akan tetap berhati-hati menetapkan kebijak...
Rupiah Kamis pagi melemah 17 poin
Kamis, 05 Agustus 2021 - 10:50 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Kamis pagi...
IHSG Kamis dibuka menguat 15,57 poin
Kamis, 05 Agustus 2021 - 10:38 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis dibuka menguat 15,57 poin
Pembangunan PLTA di Kaltara dukung kawasan industri hijau
Rabu, 04 Agustus 2021 - 21:30 WIB
PT Kayan Hydro Energy (KHE) siap memulai pembangunan fisik Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di K...
Yusril: PN Jakarta Pusat tolak gugatan Serikat Pekerja Pertamina
Rabu, 04 Agustus 2021 - 20:24 WIB
Kuasa hukum Pertamina Profesor Yusril Ihza Mahendra menyebutkan majelis hakim Pengadilan Negeri (PN...
Kemendag angkat rempah andaliman lebih dikenal dunia
Rabu, 04 Agustus 2021 - 18:20 WIB
Kemendag mengangkat andaliman, salah satu jenis rempah asal Sumatera Utara, yang dikembangkan sebaga...
Buruh tani di Klaten kembalikan BST
Rabu, 04 Agustus 2021 - 17:45 WIB
Seorang buruh tani di Desa Kotesan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, bernama Tukul Subagiyono ...
3.322 pekerja Bekasi diusulkan terima subsidi upah pertama
Rabu, 04 Agustus 2021 - 17:21 WIB
Sebanyak 3.322 pekerja di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat diusulkan menerima Bantuan Subsidi Upah (BSU)...
BPTP Gorontalo diseminasi varietas tanaman sorgum
Rabu, 04 Agustus 2021 - 17:10 WIB
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Gorontalo melakukan diseminasi varietas tanaman sorgum u...
Pedagang bendera merah putih di Bandung berharap untung saat pandemi
Rabu, 04 Agustus 2021 - 16:00 WIB
Pedagang bendera merah putih dan umbul-umbul dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-76 Keme...
Live Streaming Radio Network