Pemerintah alokasikan 36.810 hektar bagi Orang Rimba di TNBD
Elshinta
Minggu, 13 Juni 2021 - 23:02 WIB |
Pemerintah alokasikan 36.810 hektar bagi Orang Rimba di TNBD
Dokumentasi. Warga Suku Anak Dalam (SAD) yang juga dikenal sebagai Orang Rimba, Sarolangun, Jambi, Kamis (10/6/2021). ANTARA/Muhamad Hanapi/aa.

Elshinta.com - Kepala Balai Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Haidir, mengatakan, secara formal administrasi pemerintah telah mengalokasikan ruang yang cukup untuk kehidupan Orang Rimba di kawasan TNBD.

Menurut Haidir melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu, berdasarkan keputusan Pemerintah, selain kawasan konservasi, KLHK telah membagi kawasan TNBD sebagai tempat bermukim serta memenuhi kebutuhan Orang Rimba.

"Di dalam TNBD terdapat zona tradisional atau yang disebut sebagai Tanoh Behuma. Wilayah ini merupakan bagian dari kawasan taman nasional yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara tradisional untuk memenuhi sekaligus mengakomodasi kebutuhan hidup Orang Rimba dengan memegang prinsip kelestarian," katanya.

Zona ini, kata Hadir merupakan wilayah yang paling luas yaitu 36.810,7 ha atau 67,19% dari total luas kawasan.

Menurut Haidir, Tano Behuma terbagi menjadi dua bagian, yaitu tapak keluarga yang merupakan areal garapan keluarga dan tapak komunal sebagai areal cadangan kelompok yang dikenal dengan istilah Tano Pesako.

“Kedua kawasannya ini, punya pola dan program pengembangan yang berbeda,” kata Haidir dalam penjelasan tertulis Minggu 13 Juni 2021.

Orang Rimba hidup secara berkelompok dengan jumlah puluhan hingga ratusan keluarga dalam satu kelompok. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang ketua bergelar Temenggung.

Saat ini ada 13 kelompok yang hidup dan bermukim di dalam kawasan TN Bukit Duabelas. Mereka terdiri dari 718 keluarga dan 2.960 jiwa .

Setiap kelompok memiliki teritori yang mereka sebut sebagai wilayah adat. Oleh karena itu, kawasan TNBD seluas 54.780,40 ha telah terbagi habis menjadi 13 wilayah adat dari 13 kelompok tersebut.

Menurut Haidir, pembagian wilayah adat bukan untuk penguasaan sumberdaya alam karena setiap anggota kelompok bebas kemana saja di dalam kawasan tersebut.

Hanya saja, di tengah kemajuan zaman saat ini pola hidup meramu dan berburu tidak bisa lagi diandalkan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Akhirnya sebagian Orang Rimba terpaksa harus mencari penghidupan di luar kawasan hutan.

“Hal itulah yang kerap menimbulkan konflik,” kata Haidir.

Di sisi lain, fakta juga menunjukkan bahwa Orang Rimba hingga kini masih sulit melakukan transformasi nilai-nilai sosio kultural dari masyarakat meramu-berburu menjadi masyarakat bercocok tanam.

Menurut Haidir, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah mengajak semua pemangku kepentingan untuk mendampingi komunitas Orang Rimba untuk melanjutkan kehidupan dengan pola kehidupan sosial budaya yang lebih maju yaitu bercocok tanam.

Upaya tersebut diharapkan mampu menjadikan Tanoh Behuma sebagai sumber produksi dan ketahanan pangan bagi Orang Rimba.

Haidir mengatakan, selama ini cukup banyak pihak yang membantu. Selain pemerintah pusat, Pemerintah daerah, LSM serta perkebunan sawit PT Sari Aditya Loka (SAL).

“Ini menjadi tanggung jawab semua pihak agar Orang Rimba dapat hidup dengan mengelola tanah yang ada secara lestari selain tetap bisa memanfaatkan hasil hutan yang ada,” kata Haidir.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Masyarakat diimbau waspadai munculnya buaya di Sungai Mentaya
Kamis, 05 Agustus 2021 - 13:06 WIB
Masyarakat Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, yang beraktivitas di Sungai Ment...
Indonesia akan terima 3 juta dosis vaksin COVID-19 dari Prancis
Kamis, 05 Agustus 2021 - 12:21 WIB
Indonesia akan menerima dukungan 3 juta dosis vaksin COVID-19 dari pemerintah Prancis, yang merupaka...
Wakil Ketua MPR dukung `marketplace` tutup akses barang impor
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:32 WIB
Wakil Ketua MPR RI Syarief Hasan dukung langkah \"marketplace\" yaitu Lazada Indonesia yang menutup ...
BMKG ingatkan tetap waspada karhutla meski Riau hujan
Kamis, 05 Agustus 2021 - 09:21 WIB
Badan Meteoroligi dan Klimatologi (BMKG) Pekanbaru tetap mengingatkan kepada Satgas Karhutla Riau u...
Pemkot Tangerang luncurkan bantuan tunai Rp300.000 per KK
Kamis, 05 Agustus 2021 - 08:59 WIB
Pemerintah Kota Tangerang, Banten akan meluncurkan bantuan tunai sebesar Rp300 ribu setiap kepala ke...
Dosen kebidanan: Vaksinasi COVID-19 aman untuk ibu hamil
Kamis, 05 Agustus 2021 - 08:37 WIB
Dosen Poltekkes Kemenkes Malang, Kampus IV Prodi Kebidanan Kediri Susanti Pratamaningtyas mengungkap...
Pengawasan prokes di 10 pasar tradisional di Tangerang ditingkatkan selama PPKM
Kamis, 05 Agustus 2021 - 08:15 WIB
PD Pasar Kota Tangerang Banten meningkatkan pengawasan protokol kesehatan (prokes) pada sepuluh pas...
Satgas TNI perbaiki saluran pipa sumber air bersih warga perbatasan
Kamis, 05 Agustus 2021 - 07:45 WIB
Personel TNI Satgas Pamtas RI-PNG Yonif 131/Brs Pos Kotis membantu perbaiki pipa sumber air bersih u...
Kominfo bahas tata kelola data digital dengan OECD
Kamis, 05 Agustus 2021 - 07:30 WIB
Kementerian Komunikasi dan Informatika bertemu secara virtual dengan delegasi Organisasi Kerja Sama ...
Bogor cairkan biaya tak terduga Rp3 miliar untuk pengadaan bansos
Kamis, 05 Agustus 2021 - 07:15 WIB
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, Jawa Barat, mencairkan dana biaya tak terduga senilai Rp3 milia...
Live Streaming Radio Network