Orang obesitas tak pasti kena diabetes, tapi aman dari penyakit lain?
Elshinta
Minggu, 07 Februari 2021 - 17:10 WIB |
Orang obesitas tak pasti kena diabetes, tapi aman dari penyakit lain?
Ilustrasi (Pixabay)

Elshinta.com - Pakar penyakit dalam sub-spesialis endokrinologi lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang berpraktik di Rumah Sakit MRCCC Siloam Semanggi, dr. Johanes Purwoto mengatakan, orang yang mengalami obesitas dengan pola makan tak sehat belum pasti terkena diabetes.

"Ada orang yang gemuk, makannya tidak sehat tetapi kalau dia diperiksa darahnya dia sehat. Dia tidak diabetes, jantung (kemudian disebut metabolically healthy obesity)," kata dia dalam bincang interaktif yang digelar INSISI belum lama ini.

Pola makan tak sehat memang tak serta menjadikan seseorang terkena diabetes tetapi penyakit lain seperti kolesterol tinggi, tekanan darah tinggi yang berefek pada pembuluh darah dan jantung.

"Obesitas dari pola makan tidak sehat itu memang memudahkan diabetes tapi tidak selalu obesitas pasti jadi diabetes. (Orang gemuk) beberapa tahun kemudian, dia akan timbul penyakit," tutur Johanes.

Mengutip laman Medical News Today, apabila seseorang mengalami obesitas tetapi terkena kurang dari tiga faktor sindrom metabolik, maka bisa disebut sehat secara metabolik. Namun, jika dia tidak menurunkan berat badan, gejala sindrom metabolik lainnya mungkin mulai muncul.

Sindrom metabolik mencakup ukuran pinggang lebih dari 80 cm (untuk perempuan) dan 90 cm (untuk pria), lemak atau trigliserida kadar dalam darah 150 mg/dl) atau lebih, kolesterol baik di bawah 40 mg/dl (pada pria) atau di bawah 50 mg/dl (pada wanita), glukosa darah puasa 100 mg/dl atau lebih dan tekanan darah 130/85 atau lebih.

Para ahli kesehatan berpendapat faktor genetik mungkin menjadi alasan beberapa orang dengan obesitas tidak mengembangkan sindrom metabolik.

Sementara untuk tercetusnya diabetes, menurut Johanes, gen saja tidak cukup melainkan perlu faktor lingkungan seperti pola makan tidak sehat, lalu tidak aktif secara fisik misalnya terlalu banyak duduk dan tidur.

"Interaksi antara gen-gen dengan aktivitas fisik tidak aktif, pola makan tidak sehat menjadi kegemukan, interaksi lagi dengan sistem imun menyebabkan seseorang menjadi diabetes," kata dia.

Pakar kesehatan, dr. Vito A. Damay menyebut diabetes sebagai silent killer, karena penderita baru mengetahui penyakitnya jika sudah memunculkan gejala, bahkan saat diharuskan cuci darah.

Agar tak terkena obesitas apalagi diabetes, Kementerian Kesehatan sudah memberi panduan antara lain:tidak mengonsumsi makanan tidak tinggi lemak, gula dan garam, kurang asupan sayur dan buah, memiliki jadwal makan tidak teratur, banyak mengemil dan mengonsumsi berlebihan makanan mengandung minyak, santan kental dan gula.

Khusus pola makan, panduan "Isi Piringku" bisa membantu Anda mencegah kelebihan berat badan hingga obesitas. Isi Piringku ini berarti membagi 1/3 dari setengah piring untuk lauk pauk, 1/3 dari setengah piring buah, 2/3 dari setengah piring sayuran dan 2/3 dari setengah piring makanan pokok.

"Intinya makanan sehat, sederhananya kalau mengemil lebih sehat, hindari tergoda makanan manis seperti cokelat, permen, roti manis sirup apalagi dikompilasi seperti es teler, makan berlebihan," kata Johanes.

Untuk aktivitas fisik, orang-orang bisa mulai bertahap misalnya 15-30 menit per hari. Di masa pandemi COVID-19 ini sebenarnya orang-orang cenderung lebih banyak waktu melakukan aktivitas fisik ketimbang sebelumnya.

Pilihannya beragam, mulai dari di dalam rumah misalnya memanfaatkan alat treadmill atau sepeda statis hingga sambil mencontoh gerakan dansa dari YouTube.

Lalu di luar rumah seperti berjalan, berlari, bersepeda dengan menerapkan protokol kesehatan 5M (yakni mengenakan masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas).

Johanes mengingatkan, terlalu banyak kalori masuk ke tubuh tanpa olahraga sehingga menimbun lemak, menyebabkan orang mudah terkena diabetes dan saat gula naik lalu kalau terpapar virus SARS-CoV-2 maka kondisinya lebih mudah ke arah berat atau kritis.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Ahli: Hindari asupan gula berlebih agar tidak dehidrasi saat puasa
Selasa, 20 April 2021 - 21:10 WIB
Ahli nutrisi dari Herbalife Nutrition Indonesia Aria Novitasari mengingatkan masyarakat untuk menghi...
Indonesia waspadai lonjakan kasus seperti di India
Selasa, 20 April 2021 - 19:55 WIB
Pemerintah Indonesia sedang mewaspadai sejumlah hal terkait lonjakan kasus COVID-19 seperti yang ter...
11.101.291 penduduk Indonesia sudah divaksinasi COVID-19
Selasa, 20 April 2021 - 19:46 WIB
Sebanyak 11.101.291 penduduk Indonesia sudah menjalani vaksinasi atau menerima suntik vaksin COVID-1...
Presiden Joko Widodo dukung penelitian COVID-19
Selasa, 20 April 2021 - 18:26 WIB
Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pihaknya mendukung segala bentuk penelitian untuk penanganan ...
Dimas Beck targetkan 500 reseller bisnis kuliner selama Ramadan
Senin, 19 April 2021 - 09:30 WIB
Bisnis kuliner makanan rumah siap saji dari Dimas Beck, Laukita, memantapkan langkahnya di industri ...
MUI: Makan sahur dan iftar secukupnya agar sampah organik tak menumpuk
Senin, 19 April 2021 - 09:15 WIB
Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia (MUI), Hayu P...
Dokter: Imunitas tubuh saat puasa dan tidak tak berbeda
Sabtu, 17 April 2021 - 17:56 WIB
Pelaksanaan vaksinasi COVID-19 diperbolehkan meski penerima sedang berpuasa Ramadhan karena tidak ad...
Kemenhub resmikan GeNose sebagai syarat penumpang di Tanjung Perak
Sabtu, 17 April 2021 - 16:48 WIB
Kementerian Perhubungan resmi menerapkan alat tes GeNose C-19 di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya h...
Cara mengenalkan puasa kepada anak dengan autisme
Sabtu, 17 April 2021 - 16:36 WIB
Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dr. Adriana Soekandar Ginanjar mengatakan bahwa ...
 Cegah malaria, TNI `fogging` Kampung Yowong Papua
Sabtu, 17 April 2021 - 14:11 WIB
Sebagai upaya mencegah perkembangbiakan nyamuk yang dapat menyebabkan sakit malaria dan demam berdar...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV