Kurangi asupan makanan olahan demi sehat
Elshinta
Jumat, 29 Januari 2021 - 19:23 WIB |
Kurangi asupan makanan olahan demi sehat
Sumber foto: Antara/elshinta.com.

Elshinta.com - Makanan olahan apalagi masuk kategori ultra proses seperti minuman dan makanan ringan dalam kemasan mengandung pengawet, pemanis, pewarna buatan, perisa dan umumnya mengandung tinggi gula dan garam yang bisa berdampak buruk untuk kesehatan.

Di Brazil misalnya, angka obesitas meningkat dari 7,5 persen pada 2002 menjadi 17,5 persen pada 2013 akibat pola makan masyarakat di sana yang tinggi makanan olahan, menurut temuan Prof. Carlos Monteiro dan tim dari Universitas SAO Paulo.

Tak hanya obesitas, makanan olahan juga dikaitkan dengan risiko terkena diabetes tipe-2, penyakit jantung, terlepas pada kenyataan orang membeli produk dengan kandungan lebih sedikit gula dan minyak.

Sebuah studi yang melibatkan hampir 20.000 orang dewasa, seperti dikutip dari Medical News Today menemukan, konsumsi lebih dari empat porsi makanan olahan setiap hari berhubungan dengan peningkatan risiko semua penyebab kematian (akibat penyakit).

Sebenarnya apa itu makanan olahan?

Merujuk pada dokumen terbitan dari Breastfeeding Promotion Network of India (BPNI) yang menjadi mitra kerja Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) di International Baby Food Action Network (IBFAN), produk olahan diproses dengan cara diawetkan, diasinkan, diasamkan atau difermentasi untuk meningkatkan daya tahan.

Beberapa contoh makanan ini antara lain asinan, terasi, keripik buah dan sayur, minuman beralkohol seperti bir dan anggur yang masuk kelompok tiga berdasarkan klasifikasi NOVA.

Lebih lanjut, apabila produk makanan diolah melalui cara karbonasi, pemadatan, pengocokan, penambahan massa, pemipihan, pengurangan pembentukan busa dan sebagainya, menjadikannya masuk kategori empat atau makanan ultra proses.

Umumnya di dalam produk ini terdapat lima atau lebih kandungan dan zat tambahan yang tidak pernah digunakan di dapur rumah tangga seperti penstabil, pengawet, maltodekstrin, protein hidrosilat ataupun pewarna dan pemanis non-gula.

Nia mengatakan, ciri mudah mengetahui makanan ultra proses biasanya dikemas, bisa dikonsumsi kapan saja dan di mana saja dan dipromosikan melalui iklan.

"Ciri paling penting juga biasanya makanan ini yang mengandung sekitar lima atau lebih kandungan bahan pangan. Biasanya kalau kita masak tiga atau empat bahan," kata dia. 

Beberapa contoh produk ultra proses ini merujuk pada kategori usia konsumennya antara lain: susu formula atau susu bubuk (yang bisa diberikan pada anak usia 0-6 bulan); sereal instan, cokelat, es krim dan biskuit (diberikan umumnya pada anak usia 6 bulan-3 tahun); mi instan, minuman energi dan minuman bersoda, roti dan (umum diberikan pada anak usia 3-8 tahun) serta burger, pizza dan sebagainya untuk mereka yang berusia di atas 8 tahun.

Satu studi besar yang melibatkan lebih dari 100.000 orang dewasa, menemukan makan 10 persen lebih banyak makanan ultra-olahan dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, dan gangguan serebrovaskular di atas 10 persen.

Para peneliti mencapai kesimpulan ini setelah memperhitungkan lemak jenuh, natrium, gula, dan asupan serat dalam produk makanan itu.

Lalu, apa yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi konsumsi produk makanan olahan?

"Jadikan kelompok satu sebagai bahan pangan pokok sehari-hari, mulai dari bayi, anak-anak dan seluruh anggota keluarga. Bayi baru lahir rawat gabung inisiasi menyusui dini (IMD) agar dia tidak perlu mendapat makanan ultra proses susu bubuk," kata Ketua Umum AIMI, Nia Umar dalam "Peluncuran Dokumen Bahaya Terselubung Makanan Ultra Proses" via daring, Jumat.

Makanan termasuk kelompok satu yakni tidak diproses atau diproses minimal antara lain: bagian tumbuhan yang bisa dimakan seperti biji-bijian, buah-buahan, berasal dari hewan yang dikonsumsi dengan cara direbus, didinginkan, disangrai, dibakar, ditumbuk, digoreng dan lainnya.

Di Indonesia, makanan termasuk kelompok ini misalnya nasi liwet, nasi kuning, nasi uduk, aneka sup, soto, berbagai hidangan kukus dan lainnya yang tidak melalui proses industri.

Saran lainnya, memanfaatkan makanan kelompok dua yakni yang dihasilkan dari kelompok satu atau dari bahan alam yang diproses misalnya garam, gula, minyak, rempah-rempah bubuk dalam jumlah kecil.

Anda juga disarankan membatasi konsumsi makanan olahan semisal bir, buah yang dilarutkan dalam larutan sirup, sayur yang diawetkan dalam air asin atau acar.

Selain itu, Anda perlu menghindari makanan yang melalui tahap ultra proses misalnya dengan cara karbonasi, pemadatan, pengocokan dan lainnya.

Sementara khusus untuk makanan yang melalui tahap ultra proses, sebaiknya Anda hindari. Walau menurut Nia saat ini promosi makanan kategori ini kian masif sehingga banyak orang tak tahu cara memasak bahan pangan. 

"Makanan ultra proses sebaiknya tidak perlu ada (dikonsumsi) karena memiliki efek negatif pada kesehatan dan bumi kita. Kenali makanan ultra proses, tidak membeli dan berhati-hatilah dengan promosi," tutur Nia.

Peneliti dari Helen Keller Indonesia (HKI) dr. Dian Nurcahyati Hadihardjono menyarankan Anda terbiasa membaca label kemasan produk untuk mengetahui kandungannya.

"Dari kandungan gula saja dari makanan ultra proses, bayangkan satu produk saja kandungan gula yang kita konsumsi sudah melewati batas yang sehat tetapi kita masih makan yang lain, misalnya es krim, susu," kata dia.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Makanan pesan antar praktis tapi harus tetap jaga kesehatan
Sabtu, 17 April 2021 - 17:23 WIB
Makanan pesan antar jadi salah satu solusi praktis untuk mengenyangkan perut, tapi ada hal-hal yang ...
Strategi pilih menu buka-sahur agar tetap sehat saat Ramadan
Minggu, 11 April 2021 - 12:45 WIB
Dokter spesialis gizi klinik RSUI, Wahyu Ika Wardhani memberikan tips untuk Anda agar tetap sehat se...
Menparekraf harap kuliner Jambi bisa bangkitkan ekonomi kreatif
Sabtu, 27 Maret 2021 - 16:35 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Sandiaga Uno berharap kuliner di Jambi bi...
Ahli gizi jelaskan cara membuat sayur jadi menggiurkan untuk anak
Minggu, 21 Februari 2021 - 07:36 WIB
Dokter spesialis gizi klinik Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RSCM, Lu...
Malang jadi tuan rumah FSI 2021
Rabu, 17 Februari 2021 - 14:30 WIB
Setelah sukses tahun lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif /Badan Pariwisata dan Ekonomi ...
Kurangi asupan makanan olahan demi sehat
Jumat, 29 Januari 2021 - 19:23 WIB
Makanan olahan apalagi masuk kategori ultra proses seperti minuman dan makanan ringan dalam kemasan ...
 Mie sumpit terbang, bikin penasaran warga Majalengka
Selasa, 22 Desember 2020 - 12:26 WIB
Memanfaatkan kreatifitas untuk menarik pelanggan, salah satu kedai Mie di Majalengka viral karena me...
Taco Bell resmi buka gerai di Indonesia
Jumat, 18 Desember 2020 - 19:45 WIB
Taco Bell resmi membuka gerai perdananya di Indonesia dengan konsep moderen, artistik dan Instagram...
Inilah jumlah asupan vitamin C harian yang dibutuhkan tubuh
Senin, 07 Desember 2020 - 13:05 WIB
Vitamin C yang juga dikenal sebagai asam askorbat, punya banyak khasiat untuk tubuh, seperti antioks...
Menu serba cokelat, Nutella buka pop-up cafe di sekitar Jakarta
Sabtu, 05 Desember 2020 - 05:59 WIB
Nutella membuka 10 pop-up cafe dengan masa berlaku yang terbatas di sekitar Jakarta via aplikasi GoF...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV