MemoRI 26 Januari
26 Januari 1949: lahirnya Indonesian Airways lalu berubah jadi GIA
Elshinta
Penulis : | Editor : Administrator
26 Januari 1949: lahirnya Indonesian Airways lalu berubah jadi GIA
Pesawat Garuda Indonesia-foto shutterstock.com/expose

Elshinta.com -  Berawal dari KLM Interinsulair Bedrijf maskapai penerbangan Belanda. Maskapai ini dibuat oleh Belanda untuk menfasilitasi daerah jajahan mereka. Semuanya ada 20 unit pesawat Dakota bekas pakai KLM.

Namun pada 28 Desember 1949 sebagai konsekuensi pelaksanaan perjanjian KMB (Konferensi Meja Bundar di Den Haag, oleh Belanda KLM IIB diserahkan pada Indonesia.

Sebelumya pada 25 Desember 1949, wakil dari KLM yang juga teman Presiden Soekarno, Dr. Konijnenburg mengabari Presiden Soekarno di Yogyakarta, kalau KLM Interinsulair Bedrijf akan diserahkan pada Indonesia.

Menanggapi kabar itu, Presiden Soekarno menjawab dengan mengutip sajak berbahasa Belanda ciptaan Raden Mas Noto Suroto, “Ik ben Garuda, Vishnoe's vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden” yang artinya “Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu".

Maka pada tanggal 28 Desember 1949, penerbangan bersejarah menggunakan pesawat DC-3 dengan registrasi PK-DPD milik KLM Interinsulair terbang membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Jakarta.

Rencananya Soekarno menghadiri upacara pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan menggunakan pesawat milik maskapai penerbangan bernama Garuda Indonesian Airways. Nama yang ia diberikan pada perusahaan penerbangan pertama ini.

Terkait tanggal 26 Januari 1949, diperingati lahirnya Garuda Indonesia, laman tirto.id membeberkan kisah yang berbeda. Pesawat RI-001 bernama Seulawah itu milik Indonesian Airways yang menjalani rute pertama Kalkuta – Rangon.

Wiweko yang ditugasi mencari pesawat. Ia pergi ke Filipina membeli pesawat Dakota dari AS dengan uang dari Fond Dakota yang dibentuk oleh Komodor Udara Suryadi Suryadarma yang melakukan penggalangan dana.  

Sejarawan Asvi Warman Adam dalam artikel Hari Lahir Garuda yang terbit di harian Kompas, 23 Oktober 2009, menyebut Wiweko membeli pesawat Dakota bukan di Filipina, melainkan di Singapura. 

Sejak awal pesawat dioperasikan AURI sebagai alat transportasi bagi pejabat negara, sesuai nomor registrasinya yang menggunakan kode “RI”. Tugas pertamanya membawa Hatta dalam kunjungan kerja ke Sumatera (Yogyakarta-Jambi-Payakumbuh-Kutaraja-Payakumbuh-Yogya).

Awal Desember 1948 pesawat harus diservis dan kapasitas bahan bakarnya juga perlu ditambahi. Perawatan dikerjakan di Calcutta. Pekerjaan ini memakan banyak waktu dan baru selesai 20 Januari 1949.

Saatnya harus kembali ke Indonesia, kondisi negara sedang tidak memungkinkan. Waktu itu meletus Agresi Militer Belanda II. Daripada nganggur, pesawat pun dioperasikan di luar negeri. Seulawah dikomersilkan sekaligus untuk biaya hidup para awaknya selama di sana.

Wiweko Soepomo, Sutarjo Sigit, dan Sudaryono pun berinisiatif membuat maskapai penerbangan komersial. Ide ini didukung oleh Duta Besar Indonesia untuk India saat itu, Dr. Sudarsono. Indonesian Airways pun terbentuk dan Myanmar menjadi pengguna jasanya.

Seulawah mengudara pertama kali dalam status sebagai pesawat komersial pada 26 Januari 1949, dari Kalkuta ke Rangon.

Laman Dispenau menulis, “RI-001 Seulawah yang dioperasikan dengan nama perusahaan Indonesian Airways sebagai pesawat komersial tidak seperti perusahaan penerbangan air line lainnya. RI-001 Seulawah tidak mengangkut penumpang perorangan. Pesawat RI-001 dicharter oleh pemerintah Birma sebagai pesawat dalam oprasi militer.” 

Wiweko Soepono menjadi direktur utama Garuda Indonesia periode 1968 hingga 1984.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
28 Februari 2019: Gempa Solok, ratusan rumah rusak
Minggu, 28 Februari 2021 - 06:11 WIB
Gempa bumi mengguncang Solok Selatan dengan magnitudo 5,6. yang terjadi pada Kamis pagi, 28 Februari...
27 Februari 2013: Bus rombongan peziarah hantam tebing di Ciloto
Sabtu, 27 Februari 2021 - 06:12 WIB
Kecelakaan maut kembali terjadi di wilayah Kabupaten Cianjur. Kali ini kecelakaan terjadi pada sebua...
26 Februari 2019: Indonesia juara Piala AFF U-22
Jumat, 26 Februari 2021 - 06:10 WIB
Tim Nasional Indonesia U-22 berhasil menjadi juara Piala AFF U-22 2019. Usai mengalahkan Thailand de...
25 Februari 2020: Dampak banjir, motor boleh lewat jalan tol
Kamis, 25 Februari 2021 - 06:11 WIB
Imbas dari hujan intensitas tinggi yang terjadi di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, da...
24 Februari 1966: Aksi mahasiswa berujung tertembaknya Arif Rahman Hakim 
Rabu, 24 Februari 2021 - 06:12 WIB
Pada tanggal 24 Februari 1966, tepat hari ini 55 tahun lalu. Berbagai kelompok mahasiswa memblokir j...
23 Februari 2018: Tujuh kecamatan di Kabupaten Bandung dilanda banjir
Selasa, 23 Februari 2021 - 06:14 WIB
Hujan deras disertai angin kencang yang melanda kawasan Bandung raya beberapa hari terakhir membuat ...
22 Februari 2013: KPK tetapkan Anas Urbaningrum tersanka Hambalang
Senin, 22 Februari 2021 - 06:15 WIB
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebaga...
21 Februari 1949: Akhir hayat Tan Malaka, tewas dieksekusi
Minggu, 21 Februari 2021 - 06:11 WIB
Salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka, mati secara tragis di tangan bangsanya send...
20 Februari 2015: Bus rombongan pengajian terguling, belasan orang tewas
Sabtu, 20 Februari 2021 - 06:11 WIB
Kecelakaan tunggal berujung maut terjadi di Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat 20 Februari 2015. Sebu...
19 Februari 2020: Napi terorisme jaringan Santoso bebas
Jumat, 19 Februari 2021 - 06:13 WIB
Seorang narapidana kasus terorisme (Napiter) bernama Setiawan Hadi Putra alias Ijul (36) dinyatakan ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV