MemoRI 12 Januari
12 Januari 1966: Aksi Tritura akibat politik, ekonomi yang kacau, hingga harga naik sampai 1000 persen
Elshinta
Penulis : | Editor : Administrator
12 Januari 1966: Aksi Tritura akibat politik, ekonomi yang kacau, hingga harga naik sampai 1000 persen
Aksi 12 Januari 1966: Tiga tuntutan rakyat pada pemerintah. https://bit.ly/3bByQw1

Elshinta.com - Tri Tuntutan Rakyat atau Tritura adalah tiga tuntutan kepada pemerintah. Tuntutan yang diserukan para mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).

Tiga tuntutan itu berisi, bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta ormas-ormasnya, rombak Kabinet Dwikora, dan turunkan harga.

Kesatuan-kesatuan aksi yang lainnya, Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), dan Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI), ikut menyusul.

Pada 12 Januari 1966 ribuan mahasiswa turun ke jalan, memprotes keadaan negara yang makin memprihatinkan. Dari peristiwa (G30S) 1965 yang menyisakan konflik  yang tak kunjung mereda, hingga kondisi ekonomi yang kacau.

Peristiwa G30S 1965 menempatkan Soekarno pada posisi dilematis, pada peristiwa berdarah itu PKI sebagai salah satu tertuduh utama. Namun, hingga pergantian tahun tak ada tindakan pemerintah yang kondusif.

Sektor ekonomi dan politik yang paling memberi pengaruh. Muhammad Umar Syadat Hasibuan dalam Revolusi Politik Kaum Muda (2008) menyebut keadaan sosial-ekonomi negara sedang terguncang akibat konfrontasi dengan Malaysia dan persoalan Irian Barat. Harga makanan membumbung tinggi.

Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa dari Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI yang terjun langsung pada aksi itu menggambarkan kusutnya kondisi saat itu. Dalam esainya di buku berjudul Zaman Peralihan (2005) ia menulis:

“Terjadi kepanikan yang hebat dalam masyarakat, terlebih kalau diingat pada waktu itu menjelang Lebaran, Natal, dan Tahun Baru Tionghoa. Harga membumbung beratus-ratus persen dalam waktu hanya seminggu. Para pemilik uang melemparkan uangnya sekaligus ke pasar, memborong barang-barang”.

Tak hanya harga barang-barang yang mengalami kenaikan, tarif angkutan umum yang banyak menjadi transportasi para mahasiswa juga naik, 500 sampai 1000 persen. Namun yang paling memukul rakyat adalah kenaikan harga beras. Bahan makanan pokok itu naik dari 300 sampai 500 persen.

Aksi para mahasiswa pada 12 Januari 1966 itu bukan disambut baik-baik, sebaliknya mereka harus berhadapan dengan panser dari senapan pemerintah. Namun, massa mahasiswa tetap bertahan meski pedih mata karena semburan gas air mata. Mereka terus menunggu jawaban dari pemerintah. Para mahasiswa perlu menemui Wakil Perdana Menteri (Waperdam) III, Chairul Saleh, yang saat itu tidak berada di tempat.

Cosmas Batubara, salah seorang pengunjuk rasa yang juga anggota Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), masih terkenang peritiwa itu. Dalam otobiografi yang berjudul Cosmas Batubara, Sebuah Otobiografi Politik (2007) ia mengukapkan,

“Karena Waperdam III belum kembali, mahasiswa pun menunggu sambil duduk di jalan raya dan di halaman Sekretariat Negara. Sembahyang pun termasuk dilakukan di jalan raya itu sehingga lalu lintas macet total,” tutur Cosmas.

Waperdam III akhirnya datang dan menerima para aktivis KAMI. Di depan Chairul Saleh, Cosmas --yang kemudian menjadi menteri Orde Baru-- membacakan Tritura sebelum disampaikan secara tertulis.

Mendengar tuntutan tersebut, Waperdam III berjanji akan menyampaikannya kepada Presiden Soekarno.

Para mahasiswa ingin Soekarno melaksanakan tiga tuntutan tersebut hari itu juga. Namun, presiden perlu waktu sebelum membuat keputusan.

Para pengunjuk rasa akhirnya bubar, namun sesudah itu aksi tetap berlangsung hingga Tritura benar-benar dilaksanakan. (sumber: wikipedia, tirto.id)
 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
28 Februari 2019: Gempa Solok, ratusan rumah rusak
Minggu, 28 Februari 2021 - 06:11 WIB
Gempa bumi mengguncang Solok Selatan dengan magnitudo 5,6. yang terjadi pada Kamis pagi, 28 Februari...
27 Februari 2013: Bus rombongan peziarah hantam tebing di Ciloto
Sabtu, 27 Februari 2021 - 06:12 WIB
Kecelakaan maut kembali terjadi di wilayah Kabupaten Cianjur. Kali ini kecelakaan terjadi pada sebua...
26 Februari 2019: Indonesia juara Piala AFF U-22
Jumat, 26 Februari 2021 - 06:10 WIB
Tim Nasional Indonesia U-22 berhasil menjadi juara Piala AFF U-22 2019. Usai mengalahkan Thailand de...
25 Februari 2020: Dampak banjir, motor boleh lewat jalan tol
Kamis, 25 Februari 2021 - 06:11 WIB
Imbas dari hujan intensitas tinggi yang terjadi di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, da...
24 Februari 1966: Aksi mahasiswa berujung tertembaknya Arif Rahman Hakim 
Rabu, 24 Februari 2021 - 06:12 WIB
Pada tanggal 24 Februari 1966, tepat hari ini 55 tahun lalu. Berbagai kelompok mahasiswa memblokir j...
23 Februari 2018: Tujuh kecamatan di Kabupaten Bandung dilanda banjir
Selasa, 23 Februari 2021 - 06:14 WIB
Hujan deras disertai angin kencang yang melanda kawasan Bandung raya beberapa hari terakhir membuat ...
22 Februari 2013: KPK tetapkan Anas Urbaningrum tersanka Hambalang
Senin, 22 Februari 2021 - 06:15 WIB
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Anas Urbaningrum sebaga...
21 Februari 1949: Akhir hayat Tan Malaka, tewas dieksekusi
Minggu, 21 Februari 2021 - 06:11 WIB
Salah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia, Tan Malaka, mati secara tragis di tangan bangsanya send...
20 Februari 2015: Bus rombongan pengajian terguling, belasan orang tewas
Sabtu, 20 Februari 2021 - 06:11 WIB
Kecelakaan tunggal berujung maut terjadi di Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat 20 Februari 2015. Sebu...
19 Februari 2020: Napi terorisme jaringan Santoso bebas
Jumat, 19 Februari 2021 - 06:13 WIB
Seorang narapidana kasus terorisme (Napiter) bernama Setiawan Hadi Putra alias Ijul (36) dinyatakan ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV