Remdesivir tidak direkomendasikan untuk pasien COVID-19
Elshinta
Jumat, 20 November 2020 - 14:00 WIB |
Remdesivir tidak direkomendasikan untuk pasien COVID-19
Teknisi lab menyusun botol-botol berisi obat virus corona (COVID-19) remdesivir yang dikembangkan di Gilead Sciences, La Verne, California, AS (18/3/2020). (ANTARA/REUTERS/HO-Gilead Sciences Inc/aa)

Elshinta.com - Remdesivir tidak direkomendasikan untuk pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit karena tidak ada bukti bahwa obat produksi Gilead itu dapat semakin menyelamatkan nyawa atau mengurangi kebutuhan penggunaan ventilator, kata panel Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Panel menemukan kurangnya bukti bahwa remdesivir meningkatkan hasil yang penting bagi para pasien, seperti penurunan angka kematian, kebutuhan menggunakan ventilator, waktu untuk perbaikan klinis, dan lain-lain," menurut pedoman yang dirilis WHO pada Jumat.

Anjuran itu adalah kemunduran untuk obat tersebut, yang pada musim panas menarik perhatian dunia sebagai pengobatan yang berpotensi efektif sebagai obat COVID-19 dan setelah beberapa uji coba sebelumnya tampak menjanjikan. 

Pada akhir Oktober, Gilead memangkas perkiraan pendapatan tahun 2020, dengan alasan permintaan lebih rendah daripada perkiraan dan kesulitan dalam memprediksi penjualan remdesivir.

Antiviral adalah satu dari hanya dua obat yang saat ini diizinkan untuk mengobati pasien COVID-19 di seluruh dunia.

Tetapi, uji coba besar yang dipimpin WHO yang dikenal sebagai Uji Solidaritas menunjukkan pada Oktober bahwa antivirus itu hanya memiliki sedikit atau tidak berpengaruh pada kematian atau lamanya masa rawat inap 28 hari di rumah sakit untuk pasien COVID-19.

Obat tersebut adalah salah satu obat yang digunakan untuk mengobati infeksi virus corona Presiden Amerika Serikat Donald Trump, dan telah ditunjukkan dalam penelitian sebelumnya dapat mempersingkat waktu pemulihan.

Remdesivir diizinkan atau disetujui untuk digunakan sebagai pengobatan COVID-19 di lebih dari 50 negara.

Sebaliknya, Gilead mempertanyakan hasil Uji Solidaritas WHO.

"Veklury diakui sebagai standar perawatan untuk perawatan pasien yang dirawat di rumah sakit dengan COVID-19 dalam pedoman dari berbagai organisasi nasional yang kredibel," kata Gilead dalam pernyataan. Ia merujuk pada nama merek obat tersebut.

"Kami kecewa pedoman WHO tampaknya mengabaikan bukti ini pada saat kasus meningkat secara dramatis di seluruh dunia dan dokter mengandalkan Veklury sebagai pengobatan antivirus pertama dan satu-satunya yang disetujui bagi pasien COVID-19."

Panel Kelompok Pengembangan Pedoman (Guideline Development Group/GDG) WHO mengatakan rekomendasinya didasarkan pada tinjauan bukti, yang mencakup data dari empat uji coba acak internasional dengan melibatkan lebih dari 7.000 pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19.

Setelah meninjau bukti, panel mengatakan, disimpulkan bahwa remdesivir, yang harus diberikan secara intravena dan oleh karena itu mahal dan rumit untuk diberikan, tidak memiliki efek yang berarti pada tingkat kematian atau hasil penting lainnya bagi pasien.

"Terutama mengingat implikasi biaya dan sumber daya yang terkait dengan remdesivir [...] panel merasa bertanggung jawab harus menunjukkan bukti kemanjuran, yang tidak ditetapkan oleh data yang tersedia saat ini," tambahnya.

Nasihat WHO terbaru muncul setelah salah satu badan utama dunia yang mewakili dokter perawatan intensif mengatakan antivirus tidak boleh digunakan untuk pasien COVID-19 di bangsal perawatan kritis.

Rekomendasi WHO itu, yang tidak mengikat, adalah bagian dari apa yang disebut proyek "pedoman hidup", yang dirancang untuk menawarkan panduan bagi para dokter untuk membantu mereka membuat keputusan klinis tentang pasien dalam situasi yang dinamis seperti pandemi COVID-19.

Panduan tersebut dapat diperbarui dan ditinjau kembali saat bukti dan informasi baru muncul.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Satgas Covid-19 Sukoharjo sisir kembali kasus isolasi mandiri
Rabu, 20 Januari 2021 - 18:30 WIB
Satuan Tugas Covid-19 Sukoharjo, Jawa Tengah menyisir kembali kasus pasien positif Covid-19 yang mel...
Angka penggunaan tempat tidur di ruang perawatan di Kota Bandung alami penurunan
Rabu, 20 Januari 2021 - 18:10 WIB
Kapasitas ruang perawatan di fasilitas kesehatan di Kota Bandung, Jawa Barat masih menyisakan cukup ...
Nakes RS Bhayangkara Moch Hasan Palembang jalani vaksinasi Covid-19
Rabu, 20 Januari 2021 - 13:35 WIB
Kapolda Sumatera Selatan (Sumsel) Irjen Pol Eko Indra Heri, menyaksikan secara langsung louncing keg...
 DPRD DIY dukung Pemda tak beri sanksi bagi yang menolak vaksin
Rabu, 20 Januari 2021 - 10:37 WIB
Vaksinasi COVID-19 buatan sinovac masih menuai kontroversi. Banyak pihak yang menyatakan menolak unt...
Hewan peliharaan wajib dibersihkan sepanjang pandemi
Selasa, 19 Januari 2021 - 13:40 WIB
Bagi sebagian orang, hewan peliharaan sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam keseharian mereka...
Ancaman penyakit degeneratif di tengah pandemi COVID-19
Selasa, 19 Januari 2021 - 06:00 WIB
Ketika seluruh energi tercurah pada penanganan COVID-19, masyarakat seperti teralihkan pada bahaya d...
Dua RSUD di Kabupaten Tangerang siapkan bangsal khusus untuk vaksinasi
Senin, 18 Januari 2021 - 15:22 WIB
Bangsal khusus di lantai dua RSUD Kabupaten Tangerang, Banten disiapkan untuk melaksanakan penyuntik...
Kemenkes buka registrasi penerima vaksin Covid-19 via WhatsApp 
Minggu, 17 Januari 2021 - 20:10 WIB
Pemerintah telah memulai vaksinasi Covid-19 sebagai langkah penanggulangan penyebaran virus corona. ...
Dinkes Sulbar berupaya hidupkan pelayanan puskemas
Minggu, 17 Januari 2021 - 18:34 WIB
Dinas Kesehatan (Dinkes) Sulawesi Barat kini berupaya menghidupkan kembali pelayanan kesehatan di se...
Pasien RSD Wisma Atlet sembuh COVID-19 capai 42.664 orang
Sabtu, 16 Januari 2021 - 16:24 WIB
Pasien sembuh COVID-19 di Rumah Sakit Darurat (RS) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, hingga 16 Januar...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV