Sejarawan tidak setuju generasi muda disebut kurang pahami sejarah
Elshinta
Senin, 09 November 2020 - 15:11 WIB |
Sejarawan tidak setuju generasi muda disebut kurang pahami sejarah
Sumber foto: Antara/elshinta.com

Elshinta.com - Sejarawan senior Anhar Gonggong mengatakan tidak setuju apabila banyak pihak saat ini berpandangan generasi muda kurang, bahkan tidak memahami nilai-nilai sejarah, termasuk tentang kepahlawanan karena faktor mereka sendiri.

"Kenapa? Sebab kebijakan pemerintah sendiri sudah salah," kata dia saat menjadi pembicara pada kegiatan webinar Hari Pahlawan yang dipantau di Jakarta, Senin (9/11).

Sebagai contoh kesalahan kebijakan tersebut terletak dari kekeliruan pemerintah dalam memberikan mata pelajaran sejarah bagi anak didik.

Saat ini, ujar Anhar, mata pelajaran sejarah tidak lagi berdiri sendiri, seperti sebelumnya, melainkan tergabung dengan mata pelajaran lain yang menjadi satu kesatuan.

"Keliru jika terjadi sesuatu lalu anak muda yang disalahkan, saya tidak sepakat dengan itu," kata dia.

Contoh lainnya, kata dia, yakni setiap terjadi tawuran antarpelajar di Tanah Air, maka anak muda lah yang selalu disalahkan. Dalam hal ini, peneliti Pusat Penelitian Sejarah dan Antropologi Yogyakarta periode 1970- 1976 tersebut berpandangan yang salah atau paling bertanggung jawab ialah kepala sekolah.

Tawuran antarpelajar tersebut, ujarnya, bisa terjadi karena adanya faktor yang membuat mereka tidak tenang di sekolah sehingga keluar dan berkelahi dengan pelajar lain.

Bahkan, sejarawan yang selamat dari tragedi pembantaian Westerling tersebut menyandingkan praktik korupsi di Tanah Air yang dilakukan oleh para pejabat, namun tidak pernah dicap tidak nasionalis atau tidak mengamalkan nilai-nilai sejarah.

"Yang korupsi itu orang tua, bukan anak muda," katanya mengutip Antara.

Selain itu, menurut dia, minimnya pengetahuan anak muda saat ini tentang sejarah juga terjadi karena terbatas atau bahkan tidak diberikannya pelajaran tentang sejarah itu sendiri. Hal itu bisa dibandingkan antara materi pelajaran sejarah yang diperoleh generasi terdahulu dengan generasi saat kini.

Terakhir, lulusan Universitas Leiden, Belanda, tersebut mengatakan jika setiap individu ingin mengenal Indonesia lebih luas, maka ada tiga hal yang harus dipahami dengan baik.

Pertama, geografis. Seseorang tidak akan pernah mengenal Indonesia secara menyeluruh apabila tidak mengetahui geografisnya yang begitu luas. Kedua, yakni pengetahuan antropologis.

"Terakhir, Anda tidak akan memahami Indonesia apabila tidak mempelajari sejarah," ujar sejarawan kelahiran 14 Agustus 1943 tersebut.(Sik)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Inovasi perguruan tinggi harus bisa dirasakan oleh masyarakat
Kamis, 21 Januari 2021 - 11:55 WIB
Perguruan tinggi harus hadir memberikan inovasi yang bisa dilihat oleh masyarakat. Sebab di tengah k...
Lima dosen berdedikasi terima penghargaan
Rabu, 20 Januari 2021 - 14:37 WIB
Lima orang tenaga Dosen di Lingkungan STIE STMY Majalengka, Jawa Barat mendapat Penghargaan Kinerja ...
Satgas Pamtas Yonif 642 tanamkan nilai-nilai Pancasila pada anak-anak di perbatasan 
Kamis, 14 Januari 2021 - 15:56 WIB
Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 642/Kapuas mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada a...
Jelang HUT ke-52, ITN Malang terus berbenah 
Kamis, 14 Januari 2021 - 15:38 WIB
Tantangan ITN Malang sebagai sebuah institusi pendidikan tinggi tidak semakin ringan ,apalagi di ten...
Rektor IBIK nilai perkuliahan tatap muka harus tetap dilakukan
Sabtu, 09 Januari 2021 - 18:10 WIB
Rektor Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan (IBIK) Bogor Moermahadi Soerja Djanegara mengatakan...
15 mahasiswa ikuti program pertukaran mahasiswa ITN-UTHM Malaysia
Jumat, 08 Januari 2021 - 15:33 WIB
Sekitar 15  orang mahasiswa  Institut Tehnologi Nasional ( ITN) Malang ikuti program pertukaran  ...
Bantul bersiap melaksanakan pembelajaran tatap muka secara terbatas
Rabu, 06 Januari 2021 - 10:10 WIB
Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, bersiap-siap un...
 Akibat Covid-19 capaian target SDIT Nuris Klakah Lumajang merosot
Selasa, 05 Januari 2021 - 19:47 WIB
 Gairah belajar di tengah bencana non alam berupa Covid-19 Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nurul...
97% orang tua siswa di Subang inginkan belajar tatap muka
Selasa, 05 Januari 2021 - 19:10 WIB
Berdasarkan survei dari Dinas Pendidikan Kabupaten Subang, sebanyak 97% orang tua siswa menginginkan...
Belajar tatap muka di Subang masih dipertimbangkan
Selasa, 05 Januari 2021 - 16:11 WIB
Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Subang, Jawa Barat masih perlu mempertimbangan kesiapan sekolah...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV