UB Malang kembali kukuhkan dua profesor di masa pandemi Covid-19
Elshinta
Rabu, 28 Oktober 2020 - 11:48 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
 UB Malang kembali kukuhkan dua profesor di masa pandemi Covid-19
Sumber foto: El Aris/elshinta.com.

Elshinta.com - Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur kembali  mengukuhkan dua profesor baru di masa pandemi Covid-19. Kedua orang profesor tersebut adalah Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP (K), Ph.D, dari Fakultas Kedokteran dan Prof. Dr. Ir. Sucik Maylinda, MS dari Fakuktas Peternakan (Fapet).

“Keduanya dikukuhkan dalam sidang senat terbuka universitas. Namun karena masih di masa pandemi Covid-19 maka kita lakukan dengan menerapkan protokol kesehatan serta digelar dengan cara online,” ungkap Kotok Guritno, Kepala Bagian Humas dan Ke-Arsipan UB kepada Kontributor Elshinta, El-Aris, Rabu (28/10).

“Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP (K), Ph.D, sebagai Profesor aktif ke 11 dari Fakultas Kedokteran (FK), Profesor aktif ke-189 di UB, dan ke-267 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan oleh UB. Kedua, Prof. Dr. Ir. Sucik Maylinda, MS sebagai Profesor aktif ke-16 dari Fakultas Peternakan (Fapet), Profesor aktif ke-188 dari UB, serta Profesor ke-268 dari seluruh Profesor yang telah dihasilkan UB,” jelasnya.

Sementara itu Prof. dr. Mohammad Saifur Rohman, Sp.JP (K), Ph.D dalam pidato ilmiahnya berjudul “Pendekatan Sistematik dan Integratif untuk Menurunkan Angka Kesakitan dan Kematian Akibat Penyakit Jantung Koroner” , lebih menekankan pada Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan masalah kesehatan yang utama, tidak hanya di Indonesia, namun juga di seluruh dunia.”Tingginya angka kesakitan dan kematian PJK juga mempunyai dampak yang besar terutama terhadap pembiayaan dan kualitas hidup sumber daya manusia usia produktif di Malang.“ ungkapnya. 

Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk masalah ini. Salah satu langkah yang efektif dan efisien dalam menyelesaikan masalah PJK ini adalah pendekatan berbasis penelitian, pengabdian masyarakat dan pendidikan secara integratif yaitu dengan membentuk kelompok kajian/research group kardiovaskuler yang anggotanya terdiri dari multi disiplin ilmu. 

“Anggota kelompok kajian ini terdiri dari berbagai profesi dan keahlian, seperti dokter, perawat, farmakologi, ahli biologi, ahli teknologi dan informasi, ahli teknologi pertanian dan keahlian lain yang tertarik untuk menyelesaikan masalah jantung dan pembuluh darah bersama-sama,” ujarnya.

Kelompok kajian tersebut melakukan serangkaian penelitian untuk mencari akar permasalahan dan mencari solusinya secara terintegrasi, mulai dari preventif, kuratif dan rehabilitatif PJK. Identifikasi masalah dan penyelesaiannya dilakukan berdasar hasil penelitian dan menjadi umpan balik untuk memperbaiki layanan atau pengabdian masyarakat dan pendidikan,” tandasnya.

Sedangkan Prof. Dr. Ir. Sucik Maylinda, MS pada pidato ilmiahnya bertema “Strategi Seleksi Ternak Ruminansia Melalui Model Pyramidal Breeding Structure” menonjolkan pada masih kesulitannya Indonesia  memenuhi kebutuhan daging. Seperti yang dilaporkan BPS (2019) bahwa terjadi peningkatan impor daging dari Australia (pengekspor terbesar) tahun 2018 ke 2019 adalah 85,192,1 ton menjadi 100,623 ton. Dengan demikian terjadi kesenjangan antara supply dan demand yang semakin lebar. Kesenjangan ini diperkirakan akan terus meningkat. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang cerdas dalam memenuhi permintaan daging secara cepat.

“Permasalahan sehubungan dengan upaya peningkatan produksi daging antara lain siklus reproduksi sapi termasuk lama, sehingga peningkatan populasi sapi termasuk lambat, permintaan akan daging sapi cukup tinggi, budidaya sapi potong sebagai produsen daging kurang didukung oleh manajemen yang baik, dan budidaya sapi potong perlu dikelola dengan sistem yang sesuai dengan kondisi peternakan dan tujuan usahanya,” ujarnya. 

Dalam rangka meningkatkan kemampuan penyediaan daging dan menuju ke Swa Sembada Daging,  maka sudah waktunya Indonesia melaksanakan pembibitan ternak khususnya sapi. Pemenuhan kebutuhan akan daging sapi yang selama ini merupakan tolok ukur keberhasilan pembibitan ternak, merupakan primadona bahan pangan yang sudah seharusnya sebagai produsen utama yaitu peternak rakyat (small holder) mendapatkan income yang cukup untuk kehidupannya.

“Untuk itu perlu dilakukan seleksi, yaitu program untuk memilih pejantan/ induk yang nantinya akan menghasilkan anak-anak dengan performans seperti yang diinginkan oleh manusia. Peternak rakyat sebagai pelaku usaha pemeliharaan sapi dengan kondisi manajemen yang masih tradisional, membutuhkan strategi  yang tepat untuk mampu menghasilkan ternak potong secara efisien dan berbobot potong yang tinggi,” katanya. 

Dengan menerapkan Pyramidal breeding structure, yaitu struktur pembagian tugas berpola piramida, dimana terdapat hubungan dan regulasi antara breeder sebagai penyedia bibit (dalam hal ini dapat berupa lembaga pemerintah, lembaga penelitian atau peternak pembibit, ataupun koperasi) yang berada di posisi puncak, kemudian berhubungan dengan multiplier dengan fungsi dalam reproduksi yaitu penghasil anakan ataupun bakalan (dalam hal ini perusahaan, UPT), yang menyediakan sapi untuk produksi atau digemukkan.”Multiplier dalam menghasilkan bakalan, dapat dikombinasikan dengan manajemen Cow-calf operation, yaitu suatu mekanisme kerja yang menghasilkan sapi bakalan dengan efisien dan low input. Dengan pengaturan yang baik maka model ini diharapkan dapat merupakan terobosan dalam peningkatan produktivitas ternak ruminansia khususnya sapi dan meningkatkan produksi daging,” jelasnya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Psikolog: Guru dan orang tua berperan penting kuatkan karakter anak
Sabtu, 05 Desember 2020 - 10:30 WIB
Psikolog RSUP Sanglah Denpasar, Bali, Lyly Puspa Palupi mengingatkan guru dan orang tua memiliki...
75 orang terpapar, 12 meninggal akibat Covid-19, Rektor UB keluarkan instruksi rektor
Jumat, 04 Desember 2020 - 18:55 WIB
Banyaknya sivitas akademika dan tenaga didik Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur yang ter...
Kemendikbud selenggarakan KIBM 2020 lahirkan wirausaha baru
Jumat, 04 Desember 2020 - 17:00 WIB
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Pusat Prestasi Nasional (Pupsresnas) menyelenggarakan ...
Jumlah guru SMP 3 Jekulo Kudus meninggal karena COVID-19 bertambah
Kamis, 03 Desember 2020 - 17:45 WIB
Jumlah guru SMP 3 Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang meninggal dunia akibat terpapar penyaki...
Komite sekolah-orang tua murid di Penajam izinkan belajar tatap muka
Kamis, 03 Desember 2020 - 08:30 WIB
Sejumlah komite sekolah dan orang tua murid memberikan izin agar sekolah dibuka kembali atau melakuk...
Bupati Nagan Raya ajak siswa patuhi protokol kesehatan
Kamis, 03 Desember 2020 - 06:45 WIB
Bupati Nagan Raya Provinsi Aceh HM Jamin Idham mengajak kepada seluruh pelajar dan siswa di daerahny...
FTHMI Subang minta Pemda bantu tambahan honor
Rabu, 02 Desember 2020 - 23:12 WIB
Sejumlah anggota Forum Tenaga Honorer Madrasah Indonesia (FTHMI) Kabupaten Subang, Jawa Barat mengaj...
Kemendikbud : Banyak sekolah peroleh kenaikan dana BOS pada 2021
Rabu, 02 Desember 2020 - 16:45 WIB
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyebut banyak sekolah yang memeroleh kenaikan...
IAIN Palu: Dosen perlu mengabdi pada masyarakat berbasis riset
Rabu, 02 Desember 2020 - 06:45 WIB
Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, Dr Fatimah Saguni, m...
Dandim 0201/BS siap jadi orang tua asuh mahasiswa asal Papua
Rabu, 02 Desember 2020 - 05:55 WIB
Komandan Kodim 0201/BS Letkol Inf Agus Setiandar mengungkapkan bahwa dirinya siap menjadi orang tua ...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV