MemoRI 03 Juli
`Kudeta` pertama, peristiwa 3 Juli 1946
Elshinta
Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Administrator
`Kudeta` pertama, peristiwa 3 Juli 1946
Sjahrir sedang melakukan jumpa pers pascapenculikannya oleh kelompok Persatuan Perjuangan.Foto: https://bit.ly/2YHLVgb/elshinta.com.

Elshinta.com - Sikap kelompok Persatuan Perjuangan yang menjadi oposisi sangat menentang politik diplomasi yang dijalankan Kabinet Sjahrir. Kelompok Persatuan Perjuangan menuntut RI 100 persen merdeka atau berdaulat penuh. Sementara Sjahrir hanya menuntut pengakuan kedaulatan RI secara de facto atas Jawa dan Madura dengan alasan menghindari terjadinya pertumpahan darah. 

Persatuan Perjuangan merupakan kelompok yang diinisiasi oleh Tan Malaka yang merupakan aliasi dari 141 organisasi politik dan melakukan kongres pertama pada 15 Maret 1946 di Madiun.

Ketegangan yang semakin meruncing antara Kabinet Sjahrir dan kelompok Persatuan Perjuangan memicu sebuah rencana `kudeta` kelompok oposan. Kelompok Persatuan Perjuangan melakukan penculikan para menteri di Kabinet Sjahrir. Pemerintah mengendus rencana kudeta tersebut dan menangkap Tan Malaka. Mr. Subardjo dan Sukarni, serta beberapa tokoh lainnya pada 23 Maret 1946.

Kudeta terus berjalan, hingga pada 27 Juni 1946, terjadi penculikan atas diri Perdana Menteri Sjahrir, Menteri Kemakmuran Darmawan Mangunkusum dan beberapa tokoh kabinet lainnya. Keadaan ini sangat membahayakan negara hingga pada 28 Juni 1946, Indonesia dinyatakan dalam bahaya. 

Pada 29 Juni 1946, seluruh kekuasaan pemerintahan kemudian diserahkan sepenuhnya kepada Presiden Soekarno. 

Lewat radio, Soekarno pun berpidato menuntut pembebasan Sjahrir dan menteri-menterinya.

"Ini Presidenmu! Kalau engkau cinta kepada proklamasi dan Presidenmu, engkau cinta kepada perjuangan bangsa Indonesia yang insya Allah, de jure akan diakui oleh seluruh dunia.

Tidak ada jalan kecuali. Hai, pemuda-pemudaku, kembalikanlah Perdana Menteri Sutan Sjahrir yang engkau tawan di Negara Republik Indonesia yang kita cintai. Sadarlah bahwa perjuangan tidak akan berhasil dengan cara-cara kekerasan!,” kata Soekarno. 

Berkat imbauan Presiden Sukarno dengan pidatonya, kelompok yang menculik tokoh-tokoh Kabinet Sjahrir dibebaskan. Meskipun demikian, usaha kudeta terus saja terjadi.

Tanggal 3 Juli 1946, pelaku utama kudeta, Mayor Jenderal Sudarsono yang bersimpati terhadap perjuangan kelompok Persatuan perjuangan datang menghadap Presiden Soekarno. Ia beserta rekan-rekannya menyodorkan empat naskah berisi maklumat kepada presiden untuk ditandatangani. Isinya menyebutkan agar: (1) Presiden memberhentikan Kabinet Sjahrir; (2) Preslden menyerahkan pimpinan politik, sosial, dan ekonomi kepada Dewan Pimpinan Politik; (3) Presiden mengangkat 10 anggota Dewan Pimpinan Politik (yang nama-namanya tercantum dalam naskah); (4) Presiden mengangkat 13 menteri negara (yang nama-namanya tercantum dalam naskah).

Maklumat pada hakikatnya menuntut agar pimpinan pemerintahan diserahkan kepada para pengikut kelompok Persatuan Perjuangan yang dipimpin oleh Tan Malaka. Tetapi Presiden Sukarno tidak menerima maklumat tersebut. Pada saat itu juga Mayor Jenderal Sudarsono beserta rekannya ditangkap. Empat belas orang yang diduga terlibat dalam usaha kudeta diajukan ke depan Mahkamah Tentara Agung. Tujuh terdakwa dibebaskan dari tuntutan. Dalam persidangan pengadilan tersebut, selain Mayor Jenderal Sudarsono, Mr. Muhammad Yamin juga dipersalahkan memimpin percobaan kudeta. Mereka kemudian dijatuhi hukuman empat tahun. Lima terdakwa lainnya dihukum 2-3 tahun. Tetapi mereka semuanya dibebaskan dengan grasi Presiden Sukarno pada tanggal 17 Agustus 1948, pada peringatan hari proklamasi yang ketiga.


 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Bamsoet ajak AHY gotong-royong atasi persoalan bangsa
Kamis, 06 Agustus 2020 - 20:35 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono senantias...
 KPU Pandeglang sebut tahapan Pilkada ikuti protokol kesehatan
Kamis, 06 Agustus 2020 - 18:56 WIB
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pandeglang menggelar sosialisasi pemilihan ...
Pembentukan Kabinet pasca bubarnya RIS
Kamis, 30 Juli 2020 - 08:47 WIB
Setelah dibubarkannya Republik Indonesia Serikat (RIS) beberapa kabinet telah bekerja untuk menjalan...
Menteri ATR/BPN RI hadiri rakor penyelesaian sengketa tanah di Sumut
Rabu, 29 Juli 2020 - 21:56 WIB
Wakil Bupati Langkat Syah Afandin menghadiri Rapat Koordinasi penanganan dan penyelesaian masalah pe...
 Kader parpol di Subang bantu kabupaten tetangga di Pilkada 2020   
Selasa, 28 Juli 2020 - 15:46 WIB
Dalam proses pemilihan kepala daerah setiap calon akan berusaha untuk memenangkan pemilihan umum ter...
Kabinet Ampera I di masa Orde Baru 
Selasa, 28 Juli 2020 - 08:13 WIB
Pada awal berdirinya, Masa Orde baru menjadi titik kebangkitan bangsa Indonesia, karena memang pada ...
PDIP respon soal Gibran akan melawan kotak kosong di Pilkada Solo
Jumat, 24 Juli 2020 - 21:48 WIB
 Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto angkat bicara terkait tudingan bahwa bakal ca...
 Pelantikan pertama pejabat Subang dilakukan secara virtual
Selasa, 21 Juli 2020 - 20:56 WIB
Bupati Subang, H. Ruhimat melakukan pelantikan secara virtual kepada 137 orang pejabat dari eselon ...
 KPU berlakukan WFH setelah satu pegawai positif COVID-19
Selasa, 21 Juli 2020 - 20:27 WIB
Komisi Pemilihan Umum memberlakukan work from homeatau bekerja dari rumah untuk sebagian besar pega...
 Koalisi Nasdem, Demokrat dan PKB usung Dadang dan Sahrul Gunawan
Selasa, 21 Juli 2020 - 20:11 WIB
 Isu calon Bupati dan Wakil Bupati Bandung pada Pilkada serentak 2020 yang diusung Parpol kian mema...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV