Pulihkan ekonomi, Indef minta pemerintah lebih fokus turunkan kasus COVID-19
Elshinta
Rabu, 03 Juni 2020 - 08:39 WIB |
Pulihkan ekonomi, Indef minta pemerintah lebih fokus turunkan kasus COVID-19
Ilustrasi - Petugas memeriksa suhu tubuh pengunjung pusat perbelanjaan Plaza Indonesia di Jakarta, Kamis (5/3/2020). Sumber foto: https://bit.ly/3cqEOwj

Elshinta.com - Lembaga kajian ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) meminta pemerintah untuk fokus terlebih dahulu menurunkan angka kasus COVID-19 agar pemulihan ekonomi dapat berjalan lancar.

"Jika ekonomi ingin tumbuh maka pandemi harus diatasi terlebih dahulu," ucap peneliti Indef Media Wahyudi Askar dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (2/6).

Ia mengatakan, dalam menurunkan angka kasus COVID-19, dibutuhkan kolaborasi yang kuat lintas profesi hingga sektor.

"Tentu bukan hanya pekerjaan untuk ahli kesehatan untuk menurunkan kasus COVID-19, tetapi juga ahli kebijakan publik, politik bahkan pengusaha," kata dia.

Ia menyampaikan bahwa, dalam jangka pendek ini beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menurunkan jumlah kasus COVID-19 yakni pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengambil keputusan dengan mempertimbangkan indikator epidemiologis dan sains.

Lalu, lanjut dia, memperpanjangan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) pada daerah dengan tingkat penyebaran yang masih tinggi. Kemudian, tidak membuka sekolah sebelum ada penurunan kasus secara konsisten

"Jadi, berlakukan new normal pada di daerah area hijau atau aman saja," jelasnya, dikutip Antara.

Kemudian, Media Wahyudi Askar menambahkan, memperbanyak alat tes, perkuat data kontak tracing disertai perlindungan terhadap tenaga medis dan penunjang infrastruktur kesehatan, terutama di daerah.

"Penentuan threshold terhadap daerah aman harus dijelaskan secara spesifik dan terbuka," katanya.

Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga harus lebih memperkuat sistem bantuan sosial mengingat masih banyak kendala di lapangan.

Sementara untuk jangka panjang, Media Wahyudi Askar mengharapkan agar pemerintah fokus melindungi masyarakat rentan, baik dari segi usia, profesi hingga finansial.

"Kita semua terdampak pada COVID-19, tapi siapa yang perlu diselamatkan terlebih dahulu, yakni yang rentan terkena virus seperti pekerja pelayanan publik yakni sopir taksi, ojek, pedagang tradisional hingga perawat. Inilah yang perlu diselamatkan lebih awal," katanya.

Di pasar tradisional, menurut dia, pergerakan masyarakat cukup sulit dibatasi dan kebanyakan dari mereka merupakan pekerja informal yang tidak memiliki banyak alternatif pekerjaan.

"Jadi pasar tradisional harus menjadi fokus pemerintah ke depan. Pasar tradisional juga cukup menentukan geliat para petani. Diharapkan ada pemanfaatan teknologi di pasar tradisional untuk mengurangi kontak fisik," katanya.

Dalam jangka panjang, ia mengatakan, juga akan terjadi shifting jenis pekerjaan secara masif dan percepatan proses otomasisasi dan digitalisasi, sehingga penyesuaian sumber daya manusia (SDM) harus terus diakselerasi.

"Masyarakat yang terdampak COVID-19 atau terkena PHK, butuh waktu recovery sehingga pendampingan dan lapangan pekerjaan alternatif harus diperkuat," pungkasnya. (Der) 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
KKP dorong pemda dan pelaku usaha kembangkan budi daya ikan sidat
Minggu, 12 Juli 2020 - 13:58 WIB
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendorong berbagai pihak termasuk pemda  dan pelaku usaha ...
Menparekraf dorong pengembangan ekonomi kreatif di sekitar Danau Toba
Minggu, 12 Juli 2020 - 09:39 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio berkomitmen meningkatkan ...
Di tengah pandemi COVID-19, produsen baja nasional tambah investasi Rp12 triliun
Sabtu, 11 Juli 2020 - 13:41 WIB
Di tengah melemahnya permintaan pasar sebagai dampak pandemi COVID-19, produsen baja nasional PT Gun...
Harga CPO di Jambi naik jadi Rp7.070 per kilogram
Sabtu, 11 Juli 2020 - 12:26 WIB
Harga minyak sawit mentah (CPO) di Provinsi Jambi pada periode 10-16 Juli 2020 mengalami kenaikan Rp...
Mendag sebut IA-CEPA berpotensi kurangi defisit perdagangan RI
Sabtu, 11 Juli 2020 - 07:40 WIB
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menyebutkan bahwa perjanjian ekonomi komprehensif Indonesia-Aust...
Bamsoet: Perlu evaluasi dari stimulus petani-nelayan belum berdampak
Jumat, 10 Juli 2020 - 18:46 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendorong pemerintah untuk mengevaluasi pemberian stimulus dan bantuan...
BAZNAS raih fundraising digital terbaik di IFA 2020
Jumat, 10 Juli 2020 - 18:38 WIB
 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) kembali menorehkan prestasi khususnya di dunia filantropi, sete...
Akhir pekan, Kurs rupiah melorot ke Rp 14.435 per dolar AS 
Jumat, 10 Juli 2020 - 18:11 WIB
Menguat dalam empat hari perdagangan sejak awal pekan, kurs rupiah spot hari ini melemah. Jumat (10/...
Akhir perdagangan Jumat sore, IHSG turun 0,43% ke 5.031
Jumat, 10 Juli 2020 - 17:46 WIB
 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lagi di hari terakhir pekan ini. Pada perdagangan di Burs...
Ada kekhawatiran eskalasi kasus corona, nilai tukar rupiah terkoreksi
Jumat, 10 Juli 2020 - 10:32 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat (10/7) pagi, terkoreksi se...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV