10 narapidana di Sulteng berulah terlibat pencurian dan narkoba
Elshinta
Minggu, 24 Mei 2020 - 17:49 WIB |
10 narapidana di Sulteng berulah terlibat pencurian dan narkoba
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2TzC6xR

Elshinta.com - Sebanyak 10 orang narapidana yang bebas melalui program asimilasi di wilayah Sulawesi Tengah kembali berulah melakukan tindak pidana pencurian dan terlibat narkoba.

“Dari 847 napi yang dapat asimilasi, 10 orang mengulang tindak pidana, sembilan pidana umum seperti pencurian dan satu narkoba,” kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Sulawesi Tengah Lilik Sujandi kepada wartawan di Lapas Petobo Kota Palu, Minggu(24/5) siang.

Sementara yang lain, kata Lilik, sudah melaksanakan aktivitas normal atau melakukan pekerjaan di tengah masyarakat. “Dari data yang kita peroleh, sebagian besar kembali pada pekerjaan sebelumnya. Artinya ada beberapa narapidana asimilasi yang diterima kembali pada pekerjaan semula,” ujarnya.

Kemudian, katanya ada juga napi asimilasi yang masih mencari pekerjaan, seperti pekerjaan informal. “Yang jelas dari laporan pembimbing kemasyarakatan banyak dari tempat-tempat pekerjaan yang menerima kembali kehadiran warga binaan itu,” ujarnya.

Kakanwil Kemenkumham Sulteng ini katakan, napi asimilasi yang kembali berulah diduga karena desakan ekonomi, sementara ada kebutuhan yang harus dipenuhi. “Motifnya macam-macam, bisa karena narkoba atau karena pemakai atau motif ekonomi sementara mungkin butuh makan,” katanya.

Mengantisipasi tindakan napi yang berulah setelah bebas, Lilik kembali ingatkan petugas untuk lebih lagi melatih napi selama dibina agar memiliki ketrampilan. “Sehingga ketika bebas tidak lagi melakukan kejahatan, dan saya telah instruksikan kepada petugas untuk mulai merekam life skill saat berada dalam pembinaan, sehingga masyarakat juga bisa mengetahui skill mereka dan bisa diterima di tengah-tengah masyarakat,” katanya.

Dikutip Antara, ia mengatakan, napi yang dikembali di tengah masyarakat juga memiliki tanggungjawab, baik kepada keluarga dan masyarakat. “Kalau mereka kembali kepada keluarga ya harus bertanggungjawab. Misalnya, suami harus menghidupkan keluarganya, anak juga harus demikian,” katanya.

“Nah tugas kami untuk membimbing kepada masyarakat, juga mendekatkan asimilasi ini dengan peran sosial ekonomi, sehingga tidak saja mengawasi tentang resiko mereka untuk mengulang tidak pidana tetapi sisi lain ada mitigasi untuk menyiapkan mereka pada prikehidupannya,” ujarnya.

Lilik katakan, persoalan napi bukan hanya persoalan hari ini saja, dan bukan hanya persoalan warga binaan semata, tetapi ada respek dari masyarakat dan pemerintah setempat. “Kalau tidak memberi ruang kehiduapan yang layak tentu mereka bisa kembali lagi, apalagi situasi saat ini resiko yang cukup tinggi,” tegasnya.

Olehnya, kata dia, masalah ini tidak hanya dipundak Kemenkumham saja, namun membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah, masyarakat dan pelaku-pelaku ekonomi. “Asimilasi adalah membangun melawan stigma, agar orang tidak anggap bekas napi dan sebagainya yang tidak bisa dipercaya,” katanya. (Ank)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Polda Metro Jaya bongkar produsen cairan vape isi narkoba
Selasa, 30 Juni 2020 - 10:24 WIB
Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya membongkar diduga sindikat lintas provinsi produsen dan ...
Bea Cukai Kepri gagalkan penyelundupan 10 ton pasir timah
Selasa, 30 Juni 2020 - 09:59 WIB
Tim patroli laut Direktorat Jenderal Bea Cukai 30004 Kantor Wilayah Khusus Kepulauan Riau (Kepri) me...
Polda Metro sebut 11 WNA penyerang polisi tidak punya izin tinggal
Selasa, 30 Juni 2020 - 09:23 WIB
Polda Metro Jaya menyebutkan 11 warga negara asing (WNA) yang terlibat pengeroyokan terhadap lima pe...
LPSK dorong kasus pemalsuan sertifikat ABK dikembangkan ke TPPO
Minggu, 28 Juni 2020 - 18:14 WIB
Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) mendorong kasus pemalsuan sertifikat anak buah kapal (A...
Kasus malware Indonesia lebih tinggi dari rata-rata di Asia Pasifik
Minggu, 28 Juni 2020 - 16:39 WIB
Microsoft menemukan kasus malware dan ransomware pada dunia siber Indonesia sepanjang 2019 masih tin...
Kejaksaan NTT masih kejar tiga tersangka korupsi dana Bank NTT
Minggu, 28 Juni 2020 - 15:29 WIB
Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih mengejar tiga dari tujuh tersangka yang terlibat da...
Karantina Pertanian Lampung gagalkan penyelundupan ratusan ekor burung
Minggu, 28 Juni 2020 - 13:28 WIB
Sebanyak 400 ekor burung jenis Kacer yang akan diselundupkan menuju Jakarta berhasil digagalkan oleh...
Polisi tindaklanjuti kasus perawat dianiaya keluarga pasien COVID-19
Minggu, 28 Juni 2020 - 10:38 WIB
Polresta Pulau Ambon dan PP Lease telah menindaklanjuti laporan seorang perawat RSUD dr M Haulussy d...
22 napi asimilasi Riau kembali terlibat berbagai tindak pidana
Sabtu, 27 Juni 2020 - 14:29 WIB
Kepolisian Daerah Riau mencatat sedikitnya 22 narapidana yang dibebaskan melalui program asimilasi k...
Dua kapal nelayan kasus bom ikan di Flores Timur dimusnahkan
Kamis, 25 Juni 2020 - 13:35 WIB
Kepala Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan Perikanan (PSDKP) Kupang Mubarak mengatakan dua kapal...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV