Hati-hati, sikap orangtua yang seperti ini bisa membuat anak menjadi tidak percaya diri
Elshinta
Selasa, 19 Mei 2020 - 09:46 WIB | Penulis : Ervina Rias Palupi | Editor : Dewi Rusiana
 Hati-hati, sikap orangtua yang seperti ini bisa membuat anak menjadi tidak percaya diri
Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2Ti7ctE

Elshinta.com - Cara orang tua mendidik dan bersikap bisa sangat memengaruhi perkembangan anak. Terkadang secara tidak sadar, sikap orangtua terhadap anak kurang tepat. Sikap orangtua bisa membentuk anak menjadi tidak percaya diri.

Hal terpenting dalam membangun rasa percaya diri anak adalah adanya kepercayaan yang diberikan orangtua kepada anak. Dihimpun dari berbagai sumber, berikut sikap orangtua terhadap anak yang secara tidak sadar bisa menurunkan rasa kepercayaan diri anak:

Ikut campur 
Sejak anak masih kecil, terkadang orangtua cemas jika ia melakukan segala sesuatu sendiri, termasuk hal-hal kecil. Pada momen itulah, orangtua kerap mencampuri urusan anak dengan maksud agar anak tidak gagal pada hal-hal yang dilakukannya.

Padahal, kegagalan itu adalah hal yang wajar. Anak pun perlu tahu bahwa sedih, cemas, dan marah ketika kegagalan itu terjadi adalah hal yang normal. Dengan kegagalan tersebut maka anak belajar mengatasi masalahnya sendiri.

Bila orangtua terlalu ikut campur, anak akan merasa bahwa dirinya gagal dan hanya orangtuanya yang bisa menyelesaikan masalah tersebut.

Sikap orangtua terhadap anak inilah yang bisa membuat anak tidak percaya diri hingga besar nanti dan hanya akan mengandalkan orangtuanya setiap ada masalah.

Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/36fKyrd

Berteriak dan memukul
Orangtua perlu mengingat, berteriak dan memukul anak berarti menunjukkan kemarahan dan hal ini bisa melemahkan anak. Bahkan, psikolog menyamai perilaku ini dengan penindasan (bullying) pada anak.

Hal tersebut bisa menggangu kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah dan mengatasi konflik. Sehingga membuat anak tidak percaya diri hingga besar nanti.

Mengungkit masalah
Terkadang, orangtua selalu membahas kesalahan anak yang telah lalu ketika sedang marah. Bila sikap seperti ini terus dilakukan, maka orangtua mengajarkan anak untuk memendam emosi dan menyimpan dendam. Anak pun sulit untuk memperbaiki perilakunya menjadi lebih positif. Padahal, dengan perilaku yang positif, anak cenderung bisa mengembangkan kepercayaan dirinya.

Membuat anak merasa bersalah
Saat melakukan kesalahan, tak jarang orangtua memarahi dan menekan anak sehingga anak merasa bersalah. Padahal dengan membuatnya merasa bersalah, anak akan merasa diasingkan oleh orangtua.

Anak akan merasa dirinya gagal dan tidak bisa mengelola dirinya sendiri sehingga sikap orangtua tersebut justru bisa membuat anak tidak percaya diri.

Seharusnya orangtua menunjukkan sikap pengertian terhadap anak, membimbing, dan memberi tahu apa yang mungkin bisa dilakukan untuk mengatasi kesalahannya.

Berbicara kasar
Saat marah, orang tua sering berbicara dengan kasar kepada anak. Padahal, hal ini bisa menyakiti hati sekaligus membuat malu dan anak menjadi merasa tidak percaya diri. Berbicara dengan kasar pun dapat mengganggu hubungan antara orangtua dan anak. 

Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2WG5jJv

Meremehkan
Saat anak sedang berusaha melakukan sesuatu, orang tua mungkin melihatnya sedang melakukan hal yang mudah. Tak jarang orangtua mengatakan bahwa hal tersebut sangat mudah dikerjakan.

Padahal kata-kata yang menggampangkan tersebut bisa diartikan berbeda oleh anak. Karena anak justru akan merasa, dirinya bodoh karena tidak bisa melakukannya. Sehingga ingin segera menyerah dan rasa percaya dirinya pun menurun.

Sering dimarahi
Anak yang sering dimarahi orangtua akan lebih rentan memiliki sikap minder. Anak yang serba salah di mata orangtua juga akan tertekan dan merasa rendah diri di hadapan orang lain termasuk teman-temannya.

Selain itu terlalu berlebihan melarang anak melakukan segala sesuatu bisa membuat anak rentan minder atau rendah diri.

Tidak dibiasakan memilih
Orangtua yang tidak memberi kesempatan pada anak untuk menentukan pilihannya sendiri juga memungkinkan anak merasa minder.

Anak yang terbiasa dipilihkan orangtua untuk berbagai hal dalam hidupnya, besar kemungkinan akan sangat bergantung pada orangtua.

Saat anak dewasa dan harus memutuskan pilihannya sendiri, anak ini akan merasa kesulitan. Ia merasa minder saat harus berada di lingkungan baru tanpa orangtuanya. Termasuk sangat sulit membuat keputusan sendiri.

Dituntut sempurna
Anak yang dituntut untuk melakukan segala hal dengan sempurna oleh orangtua juga rentan minder. Anak ini bahkan berisiko berbohong jika tidak bisa menjadi seperti yang orangtua harapkan. Orangtua yang tak bisa menjadi pendengar baik akan membuat anak menjadi stres, depresi dan rendah diri. 

Ilustrasi. Sumber foto: https://bit.ly/2WJiCc5

Lepas tanggung jawab 
Banyak orang tua yang membiarkan anaknya lepas dari tanggung jawab di rumah gara-gara kasihan PR dari sekolah sudah menumpuk. Padahal, melakukan tugas yang sesuai dengan usia membantu mereka merasakan penguasaan dan pencapaian.

Memberikan tanggung jawab  merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk melihat diri mereka, apakah mereka mampu dan kompeten menyelesaikan tugasnya. 

Terlalu protektif
Menjaga mereka terisolasi dari tantangan menghambat perkembangan mereka. Orangtua harus bisa menempatan diri sebagai pemandu, bukan pelindung.

Biarkan anak-anak mengalami kehidupan, bahkan ketika itu menakutkan untuk dihadapi. Berikan kesempatan untuk mendapatkan kepercayaan pada kemampuan mereka untuk menghadapi apa pun yang terjadi.


 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Psikolog UI jelaskan pentingnya waktu luang ayah untuk anak meski WFH
Minggu, 11 April 2021 - 14:11 WIB
Psikolog anak dan keluarga dari LPT Universitas Indonesia Mira Damayanti Amir mengatakan bahwa penti...
Tips dekorasi ruangan agar lebih meriah sambut Ramadan
Sabtu, 10 April 2021 - 11:47 WIB
Tahun ini menjadi tahun kedua warga muslim Indonesia harus menjalani ibadah puasa Ramadhan di rumah ...
Pentingnya `me time` bagi orang tua dengan anak autisme
Jumat, 09 April 2021 - 09:47 WIB
Psikolog lulusan Magister Psikologi Terapan Universitas Indonesia Diah A. Witasari mengatakan bahwa ...
Pastikan kecukupan asupan vitamin D dan kalium pada anak
Minggu, 04 April 2021 - 14:23 WIB
Ahli nutrisi Emilia Achmadi mengatakan sebagian besar anak-anak berhenti mengonsumsi susu di usia du...
 BKKBN mulai mendata 11,4 juta keluarga di Jateng
Jumat, 02 April 2021 - 19:58 WIB
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Perwakilan Jawa Tengah mulai melakukan pr...
Tips ibu tangguh fisik dan keuangan di masa pandemi
Rabu, 31 Maret 2021 - 13:11 WIB
Para ibu agar menjadi tangguh situasi pandemi saat ini selain bahagia juga harus sehat sekaligus mem...
Literasi Gizi Untuk Orang Tua Lintas Generasi
Selasa, 23 Maret 2021 - 15:34 WIB
Sudahkah Anda memperhatikan isi piring anak-anak kita? Literasi gizi masyarakat Indonesia saat ini m...
Kekuatan mental orang tua diuji saat rawat anak down syndrome
Minggu, 21 Maret 2021 - 13:16 WIB
Persatuan Orang Tua Anak Down Syndrome (POTADS) membagikan tips dalam merawat anak- anak yang memili...
Stimulasi kunci anak `down syndrome` berkembang dengan baik
Sabtu, 20 Maret 2021 - 19:38 WIB
Ahli sitogenetika Dr. dr. Lydia Pratanu, MS menyatakan bahwa stimulasi menjadi kunci untuk pertumb...
NIPT cara baru cek kelainan kromosom pada usia awal kehamilan
Sabtu, 20 Maret 2021 - 17:14 WIB
Non-Invasive Prenatal Test (NIPT) yang sekarang sudah berkembang bisa menjadi cara baru untuk menge...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV