Ratusan polisi India positif terinfeksi COVID-19
Elshinta
Kamis, 07 Mei 2020 - 13:37 WIB |
Ratusan polisi India positif terinfeksi COVID-19
Polisi menahan sejumlah pria saat aksi protes oleh pekerja migran menuntut untuk kembali ke negara mereka, saat diperpanjangnya masa karantina (lockdown) untuk menekan penyebaran virus corona (COVID-19), di Surat, India, Senin (4/5/2020). Foto: Antara

Elshinta.com - Ratusan polisi India telah dites positif untuk virus corona dalam beberapa hari terakhir, yang meningkatkan kekhawatiran di lembaga yang dikenal acapkali menggunakan kekuatan berlebihan untuk memastikan penegakan karantina wilayah terbesar di dunia untuk menahan pandemi itu.

Sekitar 3 juta polisi bertugas untuk memastikan bahwa sebagian besar dari 1,3 miliar orang India tinggal di rumah. Tayangan televisi di awal krisis menunjukkan polisi memukuli pekerja migran ketika mereka mencoba naik bus kota untuk mencapai desa mereka dan mengabaikan aturan jarak sosial.

India telah dikunci sejak 25 Maret dan telah mengkonfirmasi hampir 50.000 kasus virus corona dan sekitar 1.694 kematian.

Seorang perwira senior di negara bagian barat Maharashtra mengatakan jumlah kasus meningkat hampir dua kali lipat di kepolisian setempat minggu lalu. Maharashtra, negara yang paling terdampak, telah melaporkan total 15.525 infeksi pada Selasa.

"Lebih dari 450 orang dari kepolisian negara sekarang dinyatakan positif dan empat meninggal karena virus," kata petugas itu, yang berbicara dengan syarat anonim.

Ruang kontrol sedang disiapkan khusus untuk menangani masalah kesehatan yang dihadapi oleh polisi di Maharashtra, menurut menteri dalam negeri negara bagian itu, Anil Deshmukh.

Polisi menembakkan gas air mata ke kerumunan pekerja migran yang menggelar protes di negara bagian Gujarat minggu ini dan memukuli ratusan orang yang mengantri di toko-toko minuman keras di New Delhi, bahkan ketika langkah-langkah pertama pelonggaran aturan karantina untuk menghidupkan kembali perekonomian diambil oleh negara.

Bulan lalu, para dokter harus "memasang kembali" tangan seorang polisi yang terluka ketika diserang saat mencoba menegakkan aturan karantina di negara bagian utara Punjab.

Cuti Sakit

Enam perwira polisi senior di setidaknya enam negara bagian mengatakan lusinan polisi di wilayah hukum mereka meminta cuti sakit, takut kalau-kalau mereka akan terinfeksi.

Seorang pejabat Kementerian Dalam Negeri India mengatakan mereka mengetahui masalah ini dan memantau situasi.

"Patroli dan kontrol massa di daerah yang terkena dampak COVID-19 menjadi lebih berbahaya daripada memerangi para penjahat," kata Salunkhe, seorang polisi Mumbai yang setuju untuk dikutip menggunakan nama belakangnya. "Setidaknya dalam kasus-kasus itu kita bisa melihat musuh."

Di Gujarat, negara bagian asal Perdana Menteri Narendra Modi, setidaknya 155 petugas kepolisian dan beberapa personil paramiliter telah terinfeksi, menurut seorang pejabat senior.

Komisaris polisi kota utama negara bagian itu, Ahmedabad, mengatakan kepada Reuters bahwa 95 anggota polisi dan paramiliter telah dirawat di rumah sakit untuk kasus COVID-19.

Kota itu memerintahkan semua toko, kecuali yang menyediakan susu dan obat-obatan, untuk tutup mulai Rabu tengah malam hingga 15 Mei, menerapkan penguncian yang lebih ketat daripada yang diperintahkan oleh pemerintah pusat sejak 25 Maret, dalam upaya untuk mengendalikan lonjakan infeksi.

Ahmedabad menyumbang lebih dari dua pertiga kasus virus corona di Gujarat dan sekitar tiga perempat kematiannya, menurut data pemerintah.

Lima lagi perusahaan petugas paramiliter akan dikerahkan untuk lebih memperketat keamanan di zona penahanan di Ahmedabad, kata pejabat kepolisian tertinggi Gujarat. Tiga perusahaan sudah beroperasi, katanya.

Seorang pejabat senior kementerian dalam negeri federal mengatakan dia khawatir ribuan polisi lagi dapat terinfeksi dan menyebarkan virus di antara keluarga mereka di perumahan polisi, demikian Antara. (Anj)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Peneliti Tiongkok keluarkan peringatan dini pandemi flu babi
Rabu, 01 Juli 2020 - 21:11 WIB
Para peneliti di Tiongkok mengeluarkan peringatan dini atas kemungkinan terjadinya pandemi lain yang...
Tiongkok sebut langkah India blokir aplikasi Tiongkok langgar aturan WTO
Rabu, 01 Juli 2020 - 13:13 WIB
Tiongkok menyebut langkah India untuk memblokir 59 aplikasi seluler asal Tiongkok dapat melanggar at...
Ledakan di sebuah klinik Teheran menelan belasan korban
Rabu, 01 Juli 2020 - 10:28 WIB
Sebanyak 19 orang tewas dan enam lainnya terluka akibat ledakan di sebuah klinik medis di utara ibu ...
Emas naik lagi, tembus 1.800 dolar AS per ounce
Rabu, 01 Juli 2020 - 09:34 WIB
Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange ditutup pada level tertinggi sejak Septe...
Masjidil Haram dibuka, ini skenario pelaksanaan ibadah haji dan umrah saat COVID-19
Rabu, 01 Juli 2020 - 09:11 WIB
Badan Urusan Masjid Agung di bawah Presidensi Umum untuk Urusan Dua Masjid Suci menyiapkan skenario ...
Virus lebih ganas daripada Wuhan, Beijing perpanjang karantina 28 hari
Selasa, 30 Juni 2020 - 12:35 WIB
Pemerintah Kota Beijing menggandakan masa karantina dari 14 hari menjadi 28 hari atas kekhawatiran k...
Harga emas naik 0,9 dolar, investor tetap khawatir naiknya COVID-19
Selasa, 30 Juni 2020 - 08:46 WIB
Harga emas berjangka sedikit menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), melanjutkan ken...
India blokir TikTok, WeChat dan aplikasi Tiongkok lainnya
Selasa, 30 Juni 2020 - 08:34 WIB
India memblokir 59 aplikasi yang sebagian besar merupakan aplikasi seluler asal Tiongkok, termasuk T...
Orang bersenjata serang gedung bursa efek Pakistan
Senin, 29 Juni 2020 - 16:11 WIB
Sejumlah orang bersenjata menyerang gedung bursa efek Pakistan di kota Karachi pada Senin dan empat ...
Rolling Stones ancam tuntut Trump karena gunakan lagunya di kampanye
Senin, 29 Juni 2020 - 12:56 WIB
The Rolling Stones mengancam Presiden Donald Trump dengan tindakan hukum karena menggunakan lagu-lag...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV