Raja Arab Saudi ajak negara G20 bersatu lawan virus corona
Elshinta
Jumat, 27 Maret 2020 - 07:24 WIB |
Raja Arab Saudi ajak negara G20 bersatu lawan virus corona
Raja Saudi Salman bin Abdulaziz. (Via Reuters/Saudi Royal Court) - https://bit.ly/33MIdmm

Elshinta.com - Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud menyerukan kepada para pemimpin G20 untuk meningkatkan pendanaan pengembangan vaksin virus corona, menormalisasi pergerakan barang dan jasa dengan segera, serta membantu negara-negara berkembang mengatasi krisis kesehatan global.

Seruan itu disampaikan pada pembukaan konferensi video yang diselenggarakan oleh negara-negara ekonomi utama dunia, pada Kamis (27/3), guna mengoordinasikan tindakan atas wabah dan dampak ekonominya, karena infeksi di seluruh dunia melebihi 470.000 dengan lebih dari 21.000 orang meninggal dunia.

"Kita harus memiliki respons yang efektif dan terkoordinasi menghadapi pandemi ini dan mengembalikan kepercayaan pada ekonomi global," kata Raja Salman.

"Di bidang perdagangan, G20 harus mengirim sinyal kuat untuk mengembalikan kepercayaan pada ekonomi global dengan melanjutkan, sesegera mungkin, pergerakan normal barang dan jasa, terutama pasokan medis yang penting," kepala negara Arab Saudi itu menambahkan.

G20, yang saat ini diketuai oleh Arab Saudi, telah menghadapi kritik atas respons yang lambat terhadap krisis yang memburuk, yang diperkirakan akan memicu resesi global.

Beberapa negara anggota telah mengumumkan paket stimulus ekonomi untuk mengimbangi penangguhan luas perjalanan udara dan penutupan banyak bisnis.

Tetapi ada kekhawatiran yang berkembang tentang langkah-langkah proteksionis yang sedang dibahas atau diadopsi ketika negara-negara berebut untuk merespons pandemi virus corona.

Kamar Dagang AS mendesak para pemimpin G20 untuk mencocokkan janji dengan negara-negara seperti Australia dan Kanada untuk menjaga rantai pasokan tetap terbuka dan menghindari kontrol ekspor.

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus akan berpidato dalam konferensi luar biasa G20 untuk mencari dukungan guna meningkatkan pendanaan dan produksi peralatan perlindungan pribadi bagi para pekerja kesehatan di tengah kurangnya persediaan global.

"Kami memiliki tanggung jawab global sebagai umat manusia dan terutama negara-negara seperti G20," kata Tedros dalam konferensi pers di Jenewa, Rabu (25/3) malam.

"Mereka harus dapat mendukung negara-negara di seluruh dunia," ia melanjutkan.

Raja Salman mendesak kerja sama dalam membiayai penelitian dan pengembangan untuk terapi dan vaksin, memastikan ketersediaan pasokan dan peralatan medis yang vital, serta membantu negara-negara yang kurang berkembang membangun kapasitas.

Meskipun ada seruan kerja sama, pidato yang berlangsung 90 menit itu berisiko terjerat dalam perang harga minyak antara Arab Saudi dan Rusia dan ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok mengenai asal usul virus.

Dalam pertemuan persiapan, Beijing dan Washington sepakat untuk berhenti sejenak saling menyalahkan terkait virus corona, menurut laporan South China Morning Post yang mengutip sumber-sumber diplomatik.

Tetapi pembicaraan di antara negara-negara Dewan Keamanan PBB telah macet karena desakan AS yang meminta pernyataan bersama memasukkan asal-usul virus corona di Tiongkok, NBC News melaporkan. Wabah, yang dimulai di Tiongkok akhir tahun lalu, telah dilaporkan di 196 negara.

"Dinamika hubungan AS-China sangat penting bagi keberhasilan koordinasi G20, karena negara-negara bergulat 24 jam dalam tujuh hari untuk menghadapi dan mengekang pandemi yang belum sepenuhnya kita pahami," kata mantan pelaksana tugas Perwakilan Perdagangan AS Miriam Sapiro.

Sementara itu, Washington dapat menggunakan KTT G20 untuk melancarkan debat tentang mengakhiri perang harga minyak antara Riyadh dan Moskow yang telah mendorong harga minyak mentah mendekati level terendah dalam 20 tahun karena pandemi menghancurkan permintaan global, The Wall Street Journal melaporkan. Demikian Antara melansir Reuters. (Der) 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Jepang pertimbangkan terima pelancong asing
Senin, 01 Juni 2020 - 16:10 WIB
Jepang sedang mempertimbangkan untuk membuka kembali perbatasannya bagi pelancong dari negara-negara...
Kasus COVID-19 turun, Moskow longgarkan karantina wilayah
Senin, 01 Juni 2020 - 15:48 WIB
Warga Moskow pada Senin (1/6) untuk pertama kalinya dalam sembilan minggu dapat meninggalkan rumah m...
Arab Saudi kembali buka masjid dengan aturan ketat
Senin, 01 Juni 2020 - 10:37 WIB
Masjid di Arab Saudi kembali dibuka pertama kalinya untuk jamaah, Minggu (31/5/2020), setelah lebih ...
Michael Jordan turut kecam pembunuhan George Floyd
Senin, 01 Juni 2020 - 08:45 WIB
Legenda bola basket Michael Jordan, Minggu menyuarakan kemarahan terhadap kematian George Floyd, pri...
Rusia berencana uji klinis vaksin COVID-19 dua minggu mendatang
Minggu, 31 Mei 2020 - 15:51 WIB
Sejumlah peneliti di Rusia berencana memulai uji klinis vaksin COVID-19, penyakit yang disebabkan vi...
Australia akan sambut undangan resmi ke G7
Minggu, 31 Mei 2020 - 14:11 WIB
Australia akan menyambut dengan baik undangan resmi ke negara-negara Kelompok Tujuh (G7) dan telah t...
Microsoft PHK puluhan jurnalis yang tugasnya diambil alih AI
Minggu, 31 Mei 2020 - 13:27 WIB
Microsoft memberhentikan puluhan jurnalis dan pekerja editorial di Microsoft News dan organisasi MSN...
Wabah COVID-19 di Brazil memburuk saat total kasus dekati 500.000
Minggu, 31 Mei 2020 - 09:26 WIB
Brazil mencatat rekor kasus baru COVID-19 pada Sabtu (30/5) yang mencapai 33.274 sehingga jumlah kes...
Merkel tolak undangan Trump menghadiri KTT G7 di Washington
Sabtu, 30 Mei 2020 - 14:39 WIB
Kanselir Jerman Angela Merkel menolak undangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk hadir dal...
Jerman hentikan riset hydroxychloroquine untuk COVID-19
Jumat, 29 Mei 2020 - 09:47 WIB
Universitas di Jerman menghentikan riset klinis yang menggunakan obat anti-malaria hydroxychloroquin...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV