Pohon kayu Tengsek dicoba dikembangkan di lereng gunung Merapi
Elshinta
Minggu, 26 Januari 2020 - 14:19 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Administrator
Pohon kayu Tengsek dicoba dikembangkan di lereng gunung Merapi
Foto: Kurniawati/Radio Elshinta

Elshinta.com - Pohon kayu Tengsek yang diyakini bertuah, kini dicoba dikembangkan di lereng gunung Merapi Kabupaten Magelang. Pohon ini sudah semakin langka karena jarang sekali orang menanam. 

Selain karena harus menunggu bertahun-tahun agar tumbuh besar, bibit pohon ini juga semakin sulit didapat. Padahal, pohon ini memiliki manfaat yang banyak untuk mengobati berbagai penyakit.

Atas dasar itu, seorang pemuda asal lereng gunung Merapi, Sulistyo Wadi mencoba untuk mengembangkan pohon kayu Tengsek. Saat ini, ia sudah memiliki sekitar 18 ribu bibit pohon Tengsek yang siap di tanam di mana saja. Ia mulai mengembangkan pohon ini sejak akhir tahun 2017 lalu atas rekomendasi dari Jatmiko, Ketua Forum Merapi Merbabu.

"Saya mulai mengembangkan akhir tahun 2017 atas rekomendasi pak Jatmiko, ketua Forum Merapi Merbabu Magelang," kata Sulistyo saat ditemui di rumahnya, Babadan I Desa Paten kecamatan Dukun kabupaten Magelang, seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Kurniawati, Minggu (26/1).

Rekomendasi itu sengaja di gulirkan Jatmiko, lantaran pohon Tengsek semakin langka. Padahal, pohon itu merupakan pohon asli dari lereng gunung Merapi.  "Pohon ini juga dikenal dengan nama Tengsek Sulaiman atau bahasa latinnya Rhynchocarpa monophylla backer," kata sulistyo.

Menurutnya, pohon Tengsek di kenal di Asia. Bahkan negara Oman akan mengembangkan pohon yang kaya khasiat ini. "Masak kita yang memiliki pohon asli lereng Merapi ini tidak mengembangkan. Karena itu saya tergerak untuk membudidayakan," jelasnya.

Ia menceritakan, meskipun tidak memiliki ilmu untuk membudidaya pohon ini, namun dirinya tidak segan untuk selalu belajar secara otodidak.Berbagai referensi baik dari buku ataupun internet dibaca, kemudian di coba. Baru 9 bulan kemudian, ia berhasil membudidaya pohon ini.

Bukan hal mudah untuk membudidaya, karena ia harus mencari bibit pohon ini ke hutan lereng Merapi. Ia juga harus naik ke pohon untuk mengambil biji yang mirip biji selasih. 

Dari hasil budidaya itu, sebanyak 30 persen sudah ia sumbangkan untuk dilestarikan ke berbagai gunung seperti Merbabu, Andong, Sumbing, gunung Sari dan Muria. Sedangkan yang 70 persen di jual karena ia tidak memiliki serapan dana dari pemerintah. "Budidaya ini murni swadaya dan menyerap tenaga kerja," terangnya.

Saat paling memprihatinkan ketika budidaya tahun 2019 dimana kamarau sangat panjang. Dana perawatan bertambah banyak mencapai Rp15 juta, untuk membuat 18 ribu polibag.

Kini, bibit pohon Tengsek sudah bisa di beli di tempatnya. Ia menempatkan bibit itu di sebuah perkebunan yang tidak jauh dari rumahnya. Tingginya juga sudah mencapai 1,5 meter. 

Bibit ini juga di jual secara online. Sudah banyak orang yang membeli karena tahu khasiatnya yang beragam. Di negara Arab, Australia dan India, kayu tengsek banyak di buru karena berkhasiat sebagai obat herbal.

Menurut Sulistyo, pohon Tengsek ini bisa hidup sampai ratusan tahun lamanya. Memang butuh waktu yang sangat lama agar pohon Tengsek ini bisa tumbuh besar. Kelebihan dari pohon ini, bisa di tanam dimana saja, bahkandi halaman rumah juga bisa menjadi pohon hias.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Personel Pamtas Yonif 411 Kostrad dan warga Kampung Kondo gelar karya bakti
Rabu, 01 April 2020 - 10:35 WIB
Sebagai wujud kepedulian terhadap keindahan dan kebersihan kampung, personel TNI Satgas Pamtas RI-PN...
Ajak petani ramah lingkungan, Satgas TMMD ajari pembuatan pupuk cair  
Jumat, 27 Maret 2020 - 18:58 WIB
Pelaksanaan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler 107 di Desa Kedungsari kecamatan Gebog K...
Waspada COVID-19, Polsek Soreang bersih-bersih fasilitas umum
Sabtu, 14 Maret 2020 - 12:37 WIB
Jajaran Polsek Soreang Kabupaten Bandung Jawa Barat, melakukan bersih-bersih di sejumlah objek fasil...
Ayo bersama-sama lawan COVID-19!
Jumat, 13 Maret 2020 - 08:06 WIB
 Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan, untuk mencegah penyebaran COVID-19, perlu adanya kesadaran ...
IHCS: Alih fungsi lahan pertanian rusak ekologi pedesaan
Rabu, 11 Maret 2020 - 19:26 WIB
Alih fungsi lahan menjadi ancaman serius bagi ekosistem pertanian di Indonesia. Pasalnya, berubahnya...
Pembangunan jalan lintas Gunung Cikuray, Garut perlu waspada banjir 2016
Senin, 09 Maret 2020 - 15:29 WIB
Pembangunan jalan lintas kecamatan di Garut, Jawa Barat, yang melewati hutan lindung di Gunung Cikur...
Kondisi kawasan hutan pinggir pantai di Sumut memprihatinkan
Selasa, 03 Maret 2020 - 19:11 WIB
Kawasan hutan di Provinsi Sumatera Utara khususnya di kawasan hutan mulai dari Kabupaten Serdang Bed...
Petugas angkat 33 ton sampah dari lokasi banjir Kramat Jati
Minggu, 01 Maret 2020 - 10:25 WIB
Petugas gabungan mengangkat puluhan ton sampah dari lokasi banjir di Kecamatan Kramat Jati, Jakarta ...
Pemerintah diminta serius cegah alih fungsi lahan
Jumat, 28 Februari 2020 - 19:25 WIB
Lahan pertanian di Indonesia setiap tahun terus berkurang, terutama sawah yang sudah banyak berganti...
Di bawah komando Kodam III Siliwangi, empat pemda hijaukan KBU
Rabu, 26 Februari 2020 - 10:18 WIB
Pemerintah Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Cimahi, dan Kota Bandung, serta Sektor 22 Cit...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV