Kasus kekerasan terhadap perempuan disabilitas di DIY tertinggi di Kabupaten Sleman
Elshinta
Kamis, 09 Januari 2020 - 20:55 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
Kasus kekerasan terhadap perempuan disabilitas di DIY tertinggi di Kabupaten Sleman
Kasus kekerasan terhadap perempuan disabilitas di DIY tertinggi di Kabupaten Sleman. Foto: Izan Raharjo/elshinta.com.

Elshinta.com - Kasus kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih banyak terjadi. Kasus kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas tersebut banyak yang tidak tertangani secara hukum karena masih banyak keluarga dan masyarakat yang enggan menjadi saksi.

Center for Improving Qualified Activity in Life Of people with disabilities (CIQAL) Yogyakarta melakukan pendampingan dan penanganan kasus pada tahun 2019 sebanyak 29 kasus. Kasus tersebut terdiri dari 6 kasus kekerasan seksual, 19 kasus KDRT, 4 kasus diskriminasi oleh masyarakat. Perempuan disabilitas yang menjadi korban kekerasan pada tahun 2019 banyak terjadi pada ragam disabilitas mental (Grahita).

"Tren kasus kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas di DIY pada tahun 2018 dan 2019 tidak jauh berbeda. Hal ini dapat dilihat dari sebaran wilayah terjadinya kasus kekerasan terbanyak adalah di Kabupaten Sleman," kata Divisi Advokasi CIQAL, Ibnu Sukaca pada Launching Data Catatan Tahunan Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan (Disabilitas) di Hotel Grand Dafam Rohan Syariah Yogyakarta, Kamis (9/1) seperti dilaporkan Kontributor Elshinta, Izan Raharjo.

Selama tahun 2019, CIQAL mencatat sebaran kasus berdasar wilayah/ domisili korban yang terjadi di DIY meliputi di kabupaten Sleman sebanyak 13 kasus, kabupaten Bantul sebanyak 9 kasus dan kota Yogyakarta 1 kasus. Bentuk kekerasan yang terjadi diantaranya kekerasan fisik sebanyak 13 kasus, kekerasan psikis sebanyak 19 kasus, kekerasan seksual sebanyak 6 kasus dan penelantaran ekonomi 14 kasus. Ranah kasus terjadi seperti di ranah domestik sebanyak 25 kasus dan ranah publik sebanyak 4 kasus.

Pendamping lapangan, Bonni Kertareja mengakui pendampingan terhadap perempuan disabilitas korban kekerasan mengalami hambatan dan kendala karena keterbatasn mereka. Seperti kesulitan komunikasi sehingga membuat pendamping butuh waktu lama bahkan sampai 2 tahun. 

"Kebanyakan memang tidak melapor karena kesulitan untuk melapor. Dari kasus KDRT dan kekerasan seksual itu yang sampai ke ranah hukum baru ada 6," katanya.

Masih banyaknya pelaku yang tidak di hukum karena keluarga korban tidak melaporkan kasusnya, masyarakat enggan menjadi saksi, dan juga masih menganggap kasus kekerasan merupakan aib yang harus ditutupi. 

Keterangan saksi dan alat bukti belum cukup mmebuktikan sehingga kasusnya tidak terselesaikan secara hukum. Suport keluarga dan masyarakat masih rendah untuk menyelesaikan secara hukum, sehingga kasus berhenti pada perdamaian.

Biaya perkara tinggi, sedangkan suport anggaran dari pemerintah masih minim sehingga banyak perkara yang ditarik kembali oleh korban karena tidak memiliki biaya. 

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Alasan wanita lebih rentan kena penyakit kardiovaskular
Minggu, 19 Januari 2020 - 10:58 WIB
Usia pembuluh darah termasuk arteri besar dan kecil pada wanita lebih cepat menua ketimbang pria dan...
Kasus kekerasan terhadap perempuan disabilitas di DIY tertinggi di Kabupaten Sleman
Kamis, 09 Januari 2020 - 20:55 WIB
Kasus kekerasan terhadap perempuan penyandang disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih ...
Kapan harus cuci bra?
Rabu, 08 Januari 2020 - 14:38 WIB
Pakaian dalam termasuk bra juga perlu dicuci rutin agar terjaga kebersihannya. Namun, ada pendapat y...
Menteri PPA katakan perempuan tidak bisa dipisahkan dari sejarah  
Senin, 23 Desember 2019 - 20:55 WIB
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, I Gusti Ayu Bintang Darmawati mengatakan, p...
Berat badan turun, risiko kena kanker payudara lebih rendah
Kamis, 19 Desember 2019 - 08:46 WIB
Wanita dengan obesitas (atau kelebihan berat badan) yang berat badannya turun setelah usia 50 tahun ...
Budaya menghargai dan memperlakukan wanita dengan baik perlu ditingkatkan
Selasa, 03 Desember 2019 - 16:15 WIB
Ketua Umum Gerakan Bukti Cinta (Gerbukcin), Aris Wahyudi menyampaikan data mengejutkan, bahwa sebany...
Singkirkan 2.300 karya, tiga designer menangkan ajang design pattern hijab
Senin, 02 Desember 2019 - 12:02 WIB
Setelah berhasil menyisihkan sebanyak 2.300 karya design pattern hijab yang masuk ke pihak panitia, ...
Menlu: Tak ada perdamaian tanpa keterlibatan perempuan
Jumat, 29 November 2019 - 17:29 WIB
Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyatakan tidak akan ada perdamaian atau stabilitas tanpa keterli...
Komnas Perempuan sambut baik wacana sertifikasi pranikah
Sabtu, 16 November 2019 - 14:14 WIB
Komisi Nasional (Komnas) Perempuan menyambut baik wacana Pemerintah tentang aturan sertifikasi prani...
Kanker Payudara Sebabkan 22.000 Kematian pada 2018
Selasa, 29 Oktober 2019 - 17:39 WIB
Menteri Kesehatan (Menkes) Republik Indonesia (RI) Dr. Terawan Agus Putranto mengatakan kanker payud...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)