Pengamat harap kabinet Indonesia Maju mampu wujudkan visi poros maritim dunia
Elshinta
Jumat, 15 November 2019 - 19:46 WIB | Penulis : Sigit Kurniawan | Editor : Sigit Kurniawan
 Pengamat harap kabinet Indonesia Maju mampu wujudkan visi poros maritim dunia
Sumber foto: https://bit.ly/2qRFZmy/elshinta.com.

Elshinta.com - Indonesia kehilangan kesempatan besar untuk menikmati potensi Poros Maritim Dunia, baik dari sektor logistik maupun perikanan, akibat kebijakan pemerintah tidak fokus tanpa target yang jelas.

Bambang Haryo Soekartono, praktisi dan pengamat transportasi logistik, menilai visi Poros Maritim Dunia yang dicanangkan Presiden Joko Widodo tidak mampu diterjemahkan oleh para menterinya dalam Kabinet Kerja yang lalu.

“Kabinet Kerja gagal mewujudkan visi Presiden itu. Kita berharap kegagalan ini tidak terulang dalam Kabinet Indonesia Maju. Indonesia berada di Poros Maritim Dunia tetapi tidak dapat manfaat, ini sama seperti tikus mati di lumbung padi,” ungkap Bambang dalam rilisnya yang diterima redaksi elshinta.com, Jumat (15/11).

Menurut Bambang Haryo, hampir seluruh potensi Poros Maritim Dunia dinikmati oleh negara tetangga yang justru bukan negara kepulauan seperti Indonesia, yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Saat ini, sekitar 90% kapal dunia lalu-lalang di Poros Maritim Dunia yang melalui perairan Indonesia, yakni 80% di Selat Malaka dan 10% lainnya melintasi Selat Makassar.

Di Selat Malaka, jumlah kapal yang melintas lebih dari 100.000 dengan mengangkut 90 juta TEUs kontainer per tahun. Singapura dan Malaysia masing-masing mampu menyedot sekitar 40 juta TEUs, Thailand 10 juta TEUs, sedangkan Indonesia tidak lebih dari 1 juta TEUs.

Bambang Haryo kecewa Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang di Selat Malaka yakni 600 mil tidak mendapat limpahan dari Selat Malaka, sedangkan Singapura dengan garis pantai hanya 15 mil dan Malaysia 200 mil masing-masing bisa meraup Rp300 triliun dari transshipment di lintasan itu.

Dia mengatakan, kapal asing tidak tertarik transshipment di pelabuhan Indonesia di sepanjang Selat Malaka karena belum memiliki fasilitas bongkar muat kontainer yang memadai sehingga pelayanan tidak optimal dan tarif mahal.

Pengembangan pelabuhan dan industri masih terfokus di Pulau Jawa, yang justru tidak dilakui Poros Maritim Dunia. Sebagai contoh, pemerintah membangun Pelabuhan Patimban Subang, sehingga industri makin terkonsentrasi di Jawa.

Kedalaman alur pelabuhan Indonesia di Selat Malaka juga belum memadai untuk sandar kapal besar, sehingga tidak bisa menjadi pelabuhan hub domestik maupun hub internasional. Saat ini, pelayaran masih mengandalkan Singapura sebagai pelabuhan hub domestik untuk Indonesia.

“Pemerintah harusnya menyediakan kawasan industri terintegrasi dengan pelabuhan guna menarik ribuan investasi dari Asia Timur, Eropa, Amerika dan Australia,” ujar mantan Wakil Sekjen Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) ini.

Peluang ini besar karena investasi di Indonesia sebagai pusat Poros Maritim Diunia akan memangkas jarak ke tempat tujuan sehingga ongkos logistik lebih murah. Apalagi Indonesia punya sumber bahan baku untuk industri dan sumber daya manusia melimpah.

Kalau ini dapat diwujudkan, dia yakin devisa dari transshipment dan kegiatan industri akan sangat besar hingga ribuan triliun rupiah serta menyerap jutaan tenaga kerja lokal, sekaligus menumbuhkan ekonomi di kawasan tersebut.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Harga Batubara Acuan kembali naik, capai 66,30 dolar/ton
Minggu, 15 Desember 2019 - 12:38 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menetapkan harga jual pasar untuk komodi...
19 investor berminat kembangkan `Aerocity` Bandara Kualanamu
Minggu, 15 Desember 2019 - 11:27 WIB
PT Angkasa Pura II (Persero) akan mengembangkan Kawasan Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Ut...
Sambut Natal dan Tahun Baru, Pemkot Medan buka 53 titik pasar murah
Sabtu, 14 Desember 2019 - 16:16 WIB
Jelang Hari Natal dan Tahun Baru 2020, Pemerintah Kota Medan menggelar 53 titik pasar murah yang ter...
Pasca evaluasi anak cucu usaha, BUMN diharapkan bisa `go global`
Sabtu, 14 Desember 2019 - 15:57 WIB
BUMN diharapkan memperbaiki kinerja agar bisa go global atau meningkatkan daya saing di tingkat inte...
RI-India sepakat tingkatkan perdagangan sebesar 50 miliar dolar AS
Sabtu, 14 Desember 2019 - 11:39 WIB
Dalam pertemuan ke-6 Joint Commission Meeting (JCM) di New Delhi, Jumat (13/12), Menteri Luar Negeri...
OJK imbau masyarakat selektif dalam berinvestasi
Jumat, 13 Desember 2019 - 20:55 WIB
Sejak November 2019 lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi bersama deng...
IHSG ditutup naik 0,94%, ikuti keceriaan pasar regional di akhir pekan
Jumat, 13 Desember 2019 - 18:55 WIB
Laju penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tiga hari beruntun terhenti pada perdagangan, Juma...
Rupiah akhir pekan menguat seiring kesepakatan dagang AS-Tiongkok
Jumat, 13 Desember 2019 - 18:07 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan ini menguat seir...
Jelang Natal dan Tahun Baru, harga bahan pokok di Kabupaten Bandung normal
Jumat, 13 Desember 2019 - 17:26 WIB
Harga bahan pokok di pasar tradisional di wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, saat ini tercukupi ...
Rupiah kian perkasa, dipicu makin dekatnya kesepakatan dagang AS-Tiongkok
Jumat, 13 Desember 2019 - 12:19 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Jumat (13/12) pagi tadi, menguat...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)