Kiri Kanan
OJK dan IFC sepakat lanjutkan pengembangan program keuangan berkelanjutan
Elshinta
Minggu, 20 Oktober 2019 - 07:28 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Administrator
OJK dan IFC sepakat lanjutkan pengembangan program keuangan berkelanjutan
Foto: Istimewa

Elshinta.com - OJK dan International Finance Corporation (IFC) berkomitmen untuk melanjutkan kerja sama pengembangan program Keuangan Berkelanjutan (Sustainable Finance) yang sudah terjalin sejak tahun 2018 sehingga diharapkan dapat mempercepat upaya menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dengan menyelaraskan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan hidup. 

Demikian kesimpulan pertemuan OJK dan IFC yang digelar di sela-sela IMF World Bank Annual Meetings 2019 di Washington D.C. Amerika Serikat Kamis waktu setempat. 

Hadir dalam pertemuan itu Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana, Nena Stoiljkovic, Vice President IFC Asia and Pacific, yang didampingi oleh Ethiopis Tafara (Vice President, Multilateral Investment Guarantee Agency, World Bank Group) dan Azam Khan (Country Manager, IFC Indonesia, Malaysia and Timor-Leste). 

Dalam pertemuan itu, IFC menyatakan Indonesia sudah dinilai telah mencapai maturing stage di bidang Sustainable Finance (SF) sehingga tahapan berikutnya akan difokuskan pada implementasi prinsip SF melalui Roadmap Sustainable Finance phase II, guna memperkuat implementasi manajemen risiko dari “Environmental, Social, and Governance (ESG)” oleh institusi jasa keuangan
.
Dalam pertemuan itu, OJK juga mendapatkan komitmen IFC dalam pengembangan lebih lanjut penerapan Sustainable Finance di Indonesia, termasuk komitmen IFC menggalang investor global masuk di pasar greenbonds/green sukuk Indonesia. Saat ini IFC tengah merealisasikan komitmen di sektor keuangan di Indonesia senilai kurang lebih 150 juta dolar AS. 

Dalam kunjungan kerjanya di Washington DC, Wimboh juga berkesempatan menjadi pembicara dalam pertemuan OECD - Tri Hita Karana Coordination Forum mengenai perkembangan Blendred Finance yang dihadiri oleh perwakilan organisasi internasional, investor dan filantropis global.

Wimboh menyampaikan pentingnya peran pembiayaan untuk mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Disadari bahwa di negara berkembang, terdapat kekurangan sekitar 2,5 triliun dolar AS setiap tahunnya. Di Indonesia sendiri diperlukan dana sebesar Rp 884 triliun (periode 5 tahun) untuk membiayai proyek SDGs.
 
“Peran skema Blended Finance menjadi sangat penting sebagai solusi untuk menutupi gap pembiayaan yang ada,” kata Wimboh. 

Pengembangan skema blended finance melalui keterbukaan atau transparansi dalam penggunaaan dana diharapkan bisa meningkatkan mobilisasi dana melalui skema yang lebih inovatif dan implementatif, serta arah petunjuk yang dapat membantu mendorong perkembangan blended finance.

“Dengan berbagai inisiatif yang dilakukan Pemerintah, OJK, industri keuangan dan berbagai pihak terkait lainnya, Indonesia saat ini sudah diakui dunia sebagai yang terdepan dalam implementasi Sustainable Finance. Indonesia siap memimpin upaya global dan menjadi role model bagi dunia dalam penerapan Sustainable Finance ini termasuk skema blended finance,” kata Wimboh, seperti dalam rilis yang diterima Redaksi Elshinta.com.

Dalam kesempatan itu, Wimboh bersama beberapa negara penggerak blended finance berkomitmen untuk menyelesaikan standar internasional mengenai implementasi skema Blended Finance yang rencananya akan keluar di akhir tahun ini. Indonesia dan Kanada menjadi leader dalam inisiatif ini.

Wimboh menyampaikan bahwa investor dan pilantrophi global sudah siap untuk berinvestasi di Blended Finance sehingga diperlukan formulasi standar yang tidak hanya top down approach tetapi juga bottom up dengan melihat penerapan di berbagai negara khususnya Indonesia yang saat ini memiliki 33 proyek, dengan enam proyek telah diselesaikan tahun lalu, sembilan proyek dalam proses dan dua proyek dimulai tahun ini.

Ketua DK OJK sependapat bahwa meskipun pencapaian SDGs ini tidak mudah, namun upaya dan kolaborasi bersama dengan semua pelaku baik pemerintah dan pihak swasta, dapat membantu mengatasi permasalahan dampak climate change dan SDGs. 

Di Washington D.C. OJK juga berkesempatan menggelar pertemuan dengan The Banko Sentral Ng Pilipinas (BSP) untuk membahas kerja sama pengembangan fintech dan perbankan syariah sebagai upaya mendorong pertumbuhan keuangan syariah regional ke depan.

Dalam pertemuan itu hadir Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dan Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana, sementara dari BSP diwakili oleh Gubernur BSP Benjamin E.Diokno.

Pimpinan OJK dalam kesempatan itu berkomitmen untuk berbagi pengalaman dalam pengembangan dan pengawasan industri perbankan syariah dan menyampaikan pendekatan OJK dalam menyiasati perkembangan Fintech yang begitu pesat. Kedua otoritas sepakat untuk menandatangani MoU dalam waktu dekat.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Karut-marut kebijakan nikel yang konsisten untuk inkonsistensi 
Kamis, 21 November 2019 - 22:06 WIB
Elshinta.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri pemberian penghargaan Indonesia Mi...
Kemnaker ingin SDM yang dapat mengelola masalah
Kamis, 21 November 2019 - 20:10 WIB
Elshinta.com - Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker)  menginginkan sumber daya manusia (S...
Gubernur BI: Hingga November, nilai tukar rupiah terapresiasi 2,03 persen
Kamis, 21 November 2019 - 19:08 WIB
Elshinta.com - Nilai tukar rupiah sejak awal tahun sampai dengan 20 November 2019 mengalami apr...
Pemerintah siapkan insentif untuk investasi perusahaan AS di Indonesia
Kamis, 21 November 2019 - 18:47 WIB
Elshinta.com - Pemerintah Indonesia akan memberikan insentif untuk perusahaan-perusahaan AS yan...
IHSG turun 0,61% pada akhir perdagangan Kamis sore 
Kamis, 21 November 2019 - 18:08 WIB
Elshinta.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak turun sejak pagi hingga penutupan pe...
Rupiah menguat tipis usai BI tahan suku bunga
Kamis, 21 November 2019 - 17:25 WIB
Elshinta.com - Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Kamis (...
Pemerintah petakan langkah strategis hadapi tantangan ekonomi 2020
Kamis, 21 November 2019 - 17:15 WIB
Elshinta.com - Pemerintah memetakan sejumlah strategi dan langkah prioritas hadapi tantangan ek...
Bank Indonesia tahan suku bunga acuan di level 5%
Kamis, 21 November 2019 - 16:26 WIB
Elshinta.com - Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) pada 20-21 November 2019 memutuskan unt...
Ekonom: Jangan `jerumuskan` Ahok ke BUMN
Kamis, 21 November 2019 - 14:48 WIB
Elshinta.com - Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri menegaskan Ahok jangan `dijerum...
IHSG tergelincir 0,85% ke 6.103 di akhir perdagangan sesi I hari ini
Kamis, 21 November 2019 - 13:16 WIB
Elshinta.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melorot 51,06 poin atau 0,85% ke 6.10...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)