Fahmy Rafdiansyah: Manfaatkan ikan reject jadi camilan beromzet puluhan juta
Elshinta
Senin, 14 Oktober 2019 - 16:15 WIB | Penulis : Cucun Hendriana | Editor : Administrator
Fahmy Rafdiansyah: Manfaatkan ikan reject jadi camilan beromzet puluhan juta
Ikan layur. Sumber foto: https://bit.ly/2MeIHe3

Elshinta.com - Kekayaan alam berupa hasil laut telah menginspirasi Fahmy Rafdiansyah untuk menghasilkan sesuatu yang akhirnya mendatangkan pundi-pundi rupiah. Ia membuat camilan berbahan dasar jenis ikan layur atau ribbon fish.

Dikutip eMajels, di kawasan Pantai Pangandaran, Jawa Barat saat sudah musim, nelayan sehari bisa mendapat 200 kilogram bahkan lebih. “Jadi dari total tangkapan nelayan yang ada disini, sehari bisa mencapai 2 ton atau 2.000 kilogram banyaknya dan hampir 100% produknya diekspor keluar negeri,” ujarnya.

Namun masih banyak yang awam tentang ikan ini. Memang kebanyakan ikan laut dengan kualitas dan perawatan yang bagus penjualannya untuk pasar luar negeri sehingga harganya jadi tinggi.

“Sebagai contoh ikan layur yang paling kecil, ukuran 100-200 gram per ekornya, bisa mencapai Rp30ribu per kilo. Ukuran 500-700 gram, harganya Rp70ribu per kilonya. Belum lagi kalau dolar naik, harganya bisa terus tinggi.”

Lebih lanjut lelaki kelahiran Kuningan ini menceritakan karena untuk ekspor maka kualitas produk dan perawatan harus ekstra. “Untuk ikan layur sendiri, walaupun masih segar, badan keras tidak lembek tapi kalau kulitnya lecet atau pecah perut itu sudah termasuk reject.”

Padahal jika sudah reject maka harga jualnya turun drastis dari Rp30 ribu bisa menjadi Rp12 ribu bahkan bisa sampai tidak laku atau dijual ke tukang ikan asin hanya seharga dua ribu hingga lima ribu rupiah.

Nah, dari situ ide pembuatan ikan krispi dimulai. Bisnis hasil laut salah satu bidikannya, karena Pangandaran memiliki potensi ikan yang berlimpah.

Setelah masa kontrak kerjanya habis di Papua Barat tujuh tahun lalu, ia pun memilih pulang kampung dan mencoba menggali potensi yang ada di daerah. Ia pun merintis usaha di bidang pengolahan makanan dengan berbahan baku ikan laut dengan memanfaatkan produk reject tersebut untuk dijadikan produk camilan yang kemudian diberi nama Cripsea Snack Indonesia.

Bahan dasar yang digunakan cumi, ikan, udang, kulit ikan, dan baby crabs yang kemudian diolah secara higienis dan dikemas dengan kemasan food safety.

“Supaya nantinya setelah didistribusikan produk bisa sampai ke tangan konsumen masih tetap enak dan sehat,” kata anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Produk yang pertama kali dibuatnya ikan krispi setelah itu baru produksi cumi, udang dan baby crabs. Kuantitas produk yang dihasilkan dalam satu bulan sekitar 2.500 bungkus dengan omzet sekitar Rp40 juta.

Diakuinya, saat memulai usaha camilan ini sebenarnya Fahmy nyaris tanpa modal. Kalaupun keluar modal waktu itu kurang lebih satu jutaan. “Karena bisa dibilang diberi modal oleh calon reseller, agen, dan distributor. Belum lagi mereka yang sudah melakukan pesanan pembelian terlebih dahulu.”

Sedangkan untuk memperkenalkan produk camilan buatannya, Fahmy melakukan promo endorsement atau endors teman-temannya di media sosial. “Promosi produk 80% dilakukan di Instagram. Sisanya ada yang di Facebook, Twitter, Whatsapp, dan koran.”

Selama menjalankan usaha ini, Fahmy mengaku tidak menemui kendala terutama dalam hal bahan baku karena semua mudah didapat. Sementara dalam menghadapi kompetitor, Fahmy tidak pernah mempermasalahkannya.

“Karena saya berpikir selama produk kita enak, kenapa takut. Biarpun ada yang banting harga, saya tidak mau ikut-ikutan. Sebab saya percaya konsumen berani mengeluarkan uang buat sesuatu yang memang setimpal.”

Bagi Fahmy ia lebih senang memikirkan bagaimana menjaga rasa, kualitas dan bisa terus memberikan produk yang terbaik untuk konsumen.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Hotman Paris dukung pengusaha muda ini pelopori batik moderen pertama di Indonesia
Selasa, 18 Februari 2020 - 08:42 WIB
Industri fashion terus berkembang, seiring dengan kemajuan zaman. Termasuk batik, kini memakai batik...
Inspirasi Rico Huang: Sukses di usia 24 tahun, kini mantap menatap bisnis photobook
Minggu, 02 Februari 2020 - 10:30 WIB
Dengan banyaknya data dan nilai pasar yang tinggi, photobook menjadi salah satu variasi produk print...
Sukses berbisnis batik, Michael Wirawan bangun brand baru yang sasar wanita milenial
Kamis, 23 Januari 2020 - 15:41 WIB
Namanya Michael Wirawan. Usianya masih muda, tercatat baru 24 tahun. Tapi soal bisnis, dia memiliki ...
Brand kecantikan karya anak bangsa ini sukses jelajahi pasar Eropa
Minggu, 19 Januari 2020 - 16:38 WIB
Berkat ekstrak kayu cendana, daun nilam, kemangi, bunga jempiring, bunga mawar, melati, kamboja, kay...
Jadi CEO private equity termuda di Asia Tenggara, Timothy Tandiokusuma kelola AUM Rp1,2 T
Senin, 13 Januari 2020 - 17:04 WIB
Timothy Tandiokusuma, usianya masih muda, 26 tahun, tapi dirinya cukup sukses menggeluti bisnis priv...
Mengenal Dicky Firmansyah, milenial di kancah industri digital Tanah Air
Selasa, 07 Januari 2020 - 15:16 WIB
Besarnya  potensi industri digital di Indonesia membuat para pelaku industri digital meyakini bahwa...
Dari Pekayon ke Cikunir Raya: Hardianto anak muda dibalik sukses Hardy Classic
Selasa, 10 Desember 2019 - 09:58 WIB
Kiprah Hardy Classic dalam bidang interior mobil sudah tidak diragukan lagi. Dengan pengalaman belas...
Jatuh bangun Jerry Hermawan Lo hingga sukses jadi pengembang properti
Minggu, 24 November 2019 - 14:31 WIB
Industri properti menjadi salah satu bisnis yang paling menjanjikan di dunia. Oleh karena itu, banya...
Ini kisah Bahlil Lahadalia, `anak terminal` yang ditunjuk jadi Kepala BKPM
Jumat, 25 Oktober 2019 - 10:05 WIB
Hidup berbalut kemiskinan, itulah masa lalunya. Bahlil, meski terlahir dari keluarga sederhana, tak ...
Tas limbah plastik karya Deasy Esterina yang tembus pasar global
Kamis, 17 Oktober 2019 - 16:13 WIB
Adalah Deasy Esterina yang tertarik untuk mengolah limbah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat. I...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)