Kiri Kanan
YLKI: Pemerintah seharusnya wajibkan penggunaan BBM berkualitas  
Elshinta
Rabu, 09 Oktober 2019 - 13:25 WIB |
YLKI: Pemerintah seharusnya wajibkan penggunaan BBM berkualitas  
SPBU Pertamina. Foto: https://bit.ly/33jW6a7/elshinta.com.

Elshinta.com - Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta Pemerintah untuk mewajibkan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) berkualitas, termasuk untuk mesin diesel.

“Apalagi untuk kota Jakarta, hukumnya wajib!” kata Tulus di Jakarta, Selasa (8/10).

Pernyataan tersebut terkait erat dengan persoalan solar subsidi akhir-akhir ini, terutama terkait dengan kebijakan pembatasan pembelian solar subsidi, yang akhirnya dicabut tak lama kemudian.

Pembatasan solar subsidi memang tidak memecahkan persoalan, bahkan di lapangan hanya menyulitkan dan membuat potensi crowded menjadi sangat besar.

"Oleh karena itu, jika konteksnya terkait polusi, sudah saatnya Pemerintah mewajibkan penggunaan BBM berkualitas tinggi, termasuk solar," katanya melalui keterangan seperti diterima Antara.

Selain itu, lanjutnya, akan lebih adil kalau dilakukan penyesuaian harga solar karena hal itu lebih menjamin ketersediaan, dibandingkan melakukan pembatasan.

Untuk itu pula, sudah saatnya Pemerintah mulai menghitung harga BBM nasional, termasuk solar, terkait harga minyak mentah dunia.

Menurut dia, lebih baik barang ada walau harga naik, daripada harga tetap tetapi barang tidak ada.

“Seharusnya harga BBM memang disesuaikan dengan harga keekonomian, kecuali untuk kelompok khusus, misalnya nelayan,” lanjutnya.

Menurut Tulus, dari sudut pandang konsumen, pembatasan penggunaan solar memang memiliki banyak kerugian diantaranya mengganggu distribusi pasokan logistik, yang ujung-ujungnya dapat mengakibatkan kenaikan harga-harga.

“Konsumen yang menanggung rugi karena harus menanggung inefisiensi akibat kenaikan harga tersebut,” katanya.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan juga mengatakan bahwa peralihan penggunaan solar subsidi ke non subsidi, bisa menjadi solusi.

Terkait hal itu, dia meminta Pemerintah kembali menggalakkan imbauan kepada masyarakat untuk menggunakan solar non subsidi.

Peran Pemerintah, tambahnya, sangat penting, karena banyak pengguna mobil pribadi seperti Pajero, Fortuner, dan bahkan Innova diesel, yang masih menggunakan solar subsidi.

Menurut dia, saat ini banyak konsumen berpendapat bahwa mesin diesel lebih kuat dan bandel dibandingkan mesin non diesel, dalam artian bagi mereka tidak ada masalah ketika memakai BBM murah seperti solar subsidi.

Padahal dengan menggunakan solar non subsidi, lanjutnya, biaya perawatan jauh lebih murah, usia mesin lebih awet, dan membuat mesin juga lebih lembut dan bertenaga.

“Dengan menggunakan Pertamina Dex dan Dexlite yang kadar sulfurnya lebih rendah, maka akan membuat mesin lebih awet dan meringankan biaya maintanance. Tidak menimbulkan polusi asap hitam, suara mesin lebih lembut dibandingkan memakai solar subsidi,” kata dia.

Menurut Mamit, karut-marut solar subsidi memang seperti tak ada hentinya, termasuk yang terakhir, ketika Pemerintah kembali mencabut aturan mengenai pembatasan penggunaan solar subsidi.

Padahal, tambahnya, pencabutan pembatasan penggunaan solar subsidi tersebut akan merugikan Pemerintah. Hal itu, lanjutanya menyebabkan penggunaan solar subsidi menjadi tidak terkontrol. Karena secara otomatis, setiap orang bisa menggunakan solar subsidi tersebut.

“Bisa jebol dan otomatis beban APBN pasti meningkat,” kata Mamit. (Der)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Rupiah menguat dekati level Rp14.000 per dolar AS 
Senin, 09 Desember 2019 - 19:36 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Senin (9/12) sore menguat m...
Akhir perdagangan Senin sore, IHSG menguat tipis 0,11% ke 6.193 
Senin, 09 Desember 2019 - 18:16 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 6,92 poin atau 0,11% ke 6.193,79 di akhir perdaga...
Proyek LRT dinilai kurang kajian teknis dan ekonomis
Senin, 09 Desember 2019 - 14:15 WIB
Pembangunan proyek light rapid transit (LRT) dinilai tidak berdasarkan kajian teknis dan ekonomis se...
Sandiaga harapkan Rabithah Alawiyah ciptakan lapangan kerja
Senin, 09 Desember 2019 - 13:06 WIB
Pengusaha Sandiaga Uno menghadiri Musyawarah Kerja Nasional ke-2 Rabithah Alawiyah (RA) sekaligus pe...
Mentan dorong pengusaha kembangkan produk berorientasi ekspor
Senin, 09 Desember 2019 - 12:28 WIB
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mendorong para pengusaha khususnya di lini bisnis pertanian da...
Jelang Natal dan Tahun Baru, Pertamina diskon harga avtur 20 persen
Senin, 09 Desember 2019 - 12:05 WIB
PT Pertamina (Persero) memberikan promosi harga avtur berupa diskon sebesar 20 persen sebagai upaya ...
Analis: Rupiah kemungkinan masih akan menguat
Senin, 09 Desember 2019 - 11:19 WIB
Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta, Senin (9/12), diprediksi masih ...
IHSG berpeluang menguat manfaatkan momentum siklus tahunan
Senin, 09 Desember 2019 - 10:57 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan ini berpeluang menguat deng...
BI perkirakan defisit transaksi berjalan 2019 menurun 2,7 persen PDB
Senin, 09 Desember 2019 - 10:33 WIB
Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit transaksi berjalan 2019 akan menurun menjadi 2,7 persen da...
Galeri Jogja di Bandara YIA, ruang memasarkan produk UMKM DIY
Minggu, 08 Desember 2019 - 18:50 WIB
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) jumlahnya sangat besar men...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)