Mengenal Bawomataluo, desa para pelompat batu di Nias
Elshinta
Senin, 30 September 2019 - 12:52 WIB | Penulis : Cucun Hendriana | Editor : Administrator
Mengenal Bawomataluo, desa para pelompat batu di Nias
Bawomataluo diajukan sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia. Sumber foto: https://bit.ly/2nHqZWO

Elshinta.com - Siapapun pasti penasaran saat menginjakkan kaki di Pulau Nias, Sumatera Utara.

Pengunjung saat tiba di Bandara Binaka Gunung Sitoli akan langsung bisa melihat omo hada (rumah adat), Tari baluse (tari perang), dan hombo batu (lompat batu) yang pernah menghiasi mata uang Rupiah.

Ucapan salam sehari-hari warga setempat “Yaahowu” tertulis besar di tengah gambar pejabat daerah, turut mengantarkan pengunjung keluar dari Bandara Binaka menuju desa wisata Bawomataluo.

Butuh beberapa kali hela napas untuk fasih mengucapkan ‘Bawomataluo’ yang dalam bahasa Nias berarti bukit matahari, sesuai dengan letaknya yang dibangun di atas bukit dengan ketinggian 324 meter di atas permukaan laut semenjak berabad-abad lalu.

Untuk menuju desa para pelompat batu itu, butuh waktu 3 jam dari Bandara Binaka di Gunung Sitoli atau 40 menit dati Teluk Dalam ibu kota Kabupaten Nias Selatan.

Desa Bawomataluo ditinggali oleh setidaknya seribu kepala keluarga. Masyarakat di dalamnya sangat memegang teguh nilai adat istiadat dari leluhur. Beragam pusaka budaya yang dulu dimiliki oleh para leluhur masyarakat Nias masih disimpan dan dirawat dengan seksama.

Beberapa di antaranya adalah omo hada alias rumah adat tradisional terbuat dari kayu namun tanpa paku, terdapat situs megalitikum, pelestarian tari-tarian, hingga atraksi lompat batu alias hombo batu. Tidak heran, atraksi-atraksi tersebut menjadi magnet bagi para pelancong untuk singgah di desa di atas bukit ini.

Warga yang tinggal di dalamnya terus melestarikan budaya Bawomataluo secara turun-temurun dari generasi ke generasi, rumah-rumah adat di dalamnya juga diturunkan ke anak cucu.

Begitu memasuki area desa Bawomataluo, umumnya pengunjung didampingi salah satu pemuda desa yang mencari penghasilan hidupnya dengan menjadi pemandu wisata bagi kampung yang dikenal dengan keindahan matahari terbit itu.

Selain terkenal dengan atraksi lompat batu, desa ini juga terkenal dengan arsitektural serta patung-patung kuno. Maka umumnya pemandu wisata akan mengajak pengunjung untuk mengelilingi kampung.

Setelah asyik mengelilingi kampung dengan rumah adat berbaris rapi dikelilingi lembah itu, tujuan selanjutnya adalah melihat atraski lompat batu.

Frans menceritakan asal mula para pemuda di kampungnya yang berpakaian khas prajurit kerajaan, dengan warna khas Nias, yaitu merah, kuning, dan hitam melompati batu setinggi 2 meter dan tebal 40 cm

“Lompat batu bermula dari syarat pemuda desa sudah bisa ikut berperang atau belum. Dahulu perang antar-wilayah sering terjadi. Setiap wilayah biasanya dipagari dengan bambu setinggi dua meter atau lebih. Untuk bisa ikut berperang dan diterima sebagai prajurit raja, seorang pemuda harus bisa melompati bambu yang memagari wilayah lawan. Selain itu, pemuda yang mampu melompati batu ini dianggap telah dewasa dan matang secara fisik,” kata Frans, dalam siaran pers Kemenpar, Minggu.

Jika ingin menyaksikan tradisi ini, pengunjung harus membayar dua orang pemuda desa dengan tarif Rp150 ribu untuk dua kali lompatan. Setiap pemuda akan melompat satu kali. Andai ada sekelompok pemuda yang menawarkan tarif lebih tinggi dari itu, lakukan tawar-menawar saja karena memang tarif dari kesepakatan pengurus desa adalah Rp150 ribu.

“Mereka bisa 10 kali sehari melompat, lumayan bagi penghasilan mereka sehari-hari,” kata Frans.

Seperti diketahui saat ini, Pemerintah sedang mengajukan Desa Bawomataluo sebagai salah satu warisan kebudayaan dunia dengan masuknya Desa Bawomataluo dalam daftar situs warisan dunia, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Nias akan terus mengalami peningkatan.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Ragunan siapkan pedoman wisata di era normal baru
Jumat, 29 Mei 2020 - 22:11 WIB
Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan menyiapkan pedoman berwisata di kebun binatang pada era no...
Bukittinggi kembali buka objek wisata dan tidak perpanjang PSBB
Rabu, 27 Mei 2020 - 21:54 WIB
Pemerintah Kota Bukittinggi, Sumatera Barat membuka kembali objek wisata di daerah itu dan tidak aka...
DIY bersiap sambut wisatawan menyongsong situasi `New Normal`
Senin, 18 Mei 2020 - 16:24 WIB
Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta bersiap menyambut kembali kedatangan wisatawan di seluru...
Pelaku usaha pariwisata terdampak Covid-19 terima bantuan
Sabtu, 16 Mei 2020 - 21:58 WIB
Sebanyak 477 warga Kabupaten Majalengka mendapatkan bantuan kerohiman dari Kementerian Pariwisata da...
KSP: Siapkan pemulihan sektor pariwisata pascapandemi COVID-19
Kamis, 14 Mei 2020 - 20:56 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko meminta sektor pariwisata senantiasa bersiap untuk melakukan pemul...
Melalui webinar, pecinta wisata budaya diajak kenali 5 situs warisan dunia di Indonesia
Selasa, 12 Mei 2020 - 10:20 WIB
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengajak para pecinta perjalanan khususnya wisata budaya ...
Sesuai prediksi, kunjungan wisman turun akibat pandemi COVID-19
Selasa, 05 Mei 2020 - 11:01 WIB
Penurunan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sebagai dampak pandemi COVID-19 sesu...
ASEAN sepakati tujuh perkuatan kerja sama pariwisata di tengah pandemi
Jumat, 01 Mei 2020 - 11:53 WIB
Negara-negara anggota ASEAN menyepakati tujuh perkuatan kerja sama di bidang pariwisata sebagai lang...
Kunjungan wisman ke DKI Jakarta Februari merosot 24,42 persen
Kamis, 02 April 2020 - 18:35 WIB
Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta menyatakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Jakar...
Pemkab Probolinggo tutup sementara seluruh objek wisata
Rabu, 18 Maret 2020 - 09:20 WIB
Pemerintah Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, menutup sementara seluruh objek wisata di bawah pengel...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV