MemoRI 06 Oktober
Sempat bertahan, Ade Irma Suryani hembuskan nafas terakhir 6 Oktober 1965
Elshinta
Penulis : Fajar Nugraha | Editor : Administrator
Sempat bertahan, Ade Irma Suryani hembuskan nafas terakhir 6 Oktober 1965
Ade Irma Suryani Nasution. Sumber foto: https://bit.ly/2mCDv9v

Elshinta.com - `Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu` merupakan kata-kata sang ayah yang terukir di nisan Ade Irma Suryani Nasution.

Ade Irma Suryani Nasution, anak dari pasangan Jenderal Besar Abdul Harris Nasution dan Johana Sunarti Nasution menjadi salah satu korban dari peristiwa Gerakan 30 September (G30S).

Saat kejadian berlangsung, Ade Irma hanyalah seorang anak kecil berumur lima tahun yang ikut tertembak oleh pasukan Cakrabirawa saat menyerbu kediaman Jenderal AH Nasution. Peristiwa yang terjadi pada 03.30 WIB dini hari itu menargetkan sang Jenderal Besar, tetapi Ade Irma yang digendong oleh adik perempuan AH Nasution membuka pintu yang telah ditembak oleh pasukan Cakrabirawa akibat panik.

Refleks, pasukan yang mengira AH Nasution keluar menyerahkan diri langsung menembak Ade Irma di bagian punggung dan melukai sang tante yang menggendongnya. Ade Irma yang terluka parah akibat tiga butir peluru yang bersarang di punggungnya kemudian digendong kembali oleh sang ibu sekaligus mengantarkan ayahnya menyelamatkan diri dengan lari melewati tembok pagar yang bersebelahan dengan Kedutaan Besar Irak.

Ade Irma lantas dilarikan menuju RSPAD untuk diberikan pertolongan dan melakukan operasi sebanyak tiga kali. Tegar hingga akhir hayat, Ade Irma bertahan hingga beberapa hari, bahkan sempat menyebut dirinya baik-baik saja kepada sang kakak, serta sempat bertanya kepada ibunya alasan sang ayah hendak dibunuh. Namun, sebelum sempat dijawab, luka parah yang ada ditubuh bocah mungil itu membuat Ade Irma tak kuat bertahan hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 6 Oktober 1965.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Telusuri sumber air yang diracuni, kematian dr Kariadi picu Pertempuran Lima Hari Semarang
Senin, 14 Oktober 2019 - 06:05 WIB
Elshinta.com - Meskipun Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 ...
Injak lencana Merah Putih, pemuda gelorakan Pertempuran Medan Area
Minggu, 13 Oktober 2019 - 06:00 WIB
Elshinta.com - Pertempuran Medan Area adalah sebuah peristiwa perlawanan rakyat terhadap S...
12 Oktober: Awal rangkaian pengeboman di Pulau Dewata meledak lewat Bom Bali I
Sabtu, 12 Oktober 2019 - 06:01 WIB
Elshinta.com - Hari ini 17 tahun lalu, peristiwa terorisme yang dianggap terparah dalam se...
Berjuang tanpa henti, Pangeran Antasari wafat di tengah pasukannya
Jumat, 11 Oktober 2019 - 06:04 WIB
Elshinta.com - Pangeran Antasari yang merupakan pahlawan nasional dari Banjarmasin, Kalima...
10 Oktober: Ini sejarah Hari Anti Hukuman Mati
Kamis, 10 Oktober 2019 - 06:02 WIB
Elshinta.com - Hari Anti Hukuman Mati diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Peringatan ini diteta...
Tragedi Geger Pacinan, lebih dari 10.000 orang Tionghoa dibantai di Batavia
Rabu, 09 Oktober 2019 - 06:01 WIB
Elshinta.com - Geger Pacinan atau yang juga dikenal sebagai Tragedi Angke, merupakan sebuah pemban...
8 Oktober 2009: Meteor meledak di Bone, Sulawesi Selatan
Selasa, 08 Oktober 2019 - 06:02 WIB
Elshinta.com - Pada hari ini 10 tahun silam, warga Bone dikagetkan dengan peristiwa masuknya pecah...
Datangi Kementan, Warga Bima minta pemerintah perhatikan petani bawang merah
Senin, 07 Oktober 2019 - 20:46 WIB
Elshinta.com - Sejumlah aliansi masyarakat pemuda dan mahasiswa Bima (Alaram Bima) melakukan ak...
7 Oktober 1981: Penggerak `arek Suroboyo` tutup usia
Senin, 07 Oktober 2019 - 06:04 WIB
Elshinta.com - `Merdeka atau mati` merupakan semboyan yang terpatri pada seluruh rakyat Indonesia ...
Sempat bertahan, Ade Irma Suryani hembuskan nafas terakhir 6 Oktober 1965
Minggu, 06 Oktober 2019 - 06:05 WIB
Elshinta.com - `Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu` mer...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)