Patut dicontoh! Anak muda ini sukses di panggung bisnis kaus
Elshinta
Jumat, 20 September 2019 - 11:05 WIB | Penulis : Cucun Hendriana | Editor : Dewi Rusiana
Patut dicontoh! Anak muda ini sukses di panggung bisnis kaus
Bisnis kaus (masih) sangat berpeluang untuk dilakukan. Foto: istimewa

Elshinta.com - Marshall Sautlan memandang kebanyakan kaus yang ada saat ini memiliki desain yang terlalu sederhana namun harganya tinggi. Marshall pun merasa tergerak untuk merancang desain yang lain daripada yang lain. Sebuah kaus unik yang didesain dengan nada satire mengenai keseharian banyak orang, terutama para karyawan.

Berangkat dari ide tersebut, maka usaha ini didirikan akhir tahun 2018, Marshall mendirikan usaha kaus dengan merek dagang Wakaba yang diambil dari bahasa Jepang dan memiliki arti young leaf alias daun muda.

Itulah mengapa pangsa pasarnya adalah pada rentang usia 20 sampai  35 tahun ke atas, yang memang sudah memiliki penghasilan tetap. “Sejalan dengan namanya, visi kami adalah untuk terus menawarkan produk yang baru setiap saat dan tidak pernah membosankan, seperti anak muda yang selalu semangat,” kata Marshall, seperti dikutip dari eMajels.

Karena beberapa desain yang dirancang sendiri maka untuk saat ini, Marshall baru menjual produk berupa kaus dalam jumlah yang relatif terbatas. Produk kaus yang dibuat bisa untuk perorangan, kelompok maupun perusahaan.

Sebelumnya menekuni usaha kaus, Marsall pernah membuat bisnis sepatu kulit berbasis online yang bekerjasama dengan salah satu merek lokal asal Bandung. Namun, seiring berjalannya waktu, minat masyarakat terhadap sepatu kulit menurun dan mulai beralih ke sneakers.

“Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dan mencari bisnis lain dan muncul Wakaba ini. Jauh sebelum itu, saya juga pernah mendirikan bisnis jasa pembuatan kaus satuan dan jumlah banyak, namun pada akhirnya kalah saing,” ucapnya.

Ketika ditanya modal awal saat mendirikan usaha? Marshall yang hobi membaca komik ini mengaku tidak ada modal awal. “Jadi sebelum Wakaba berdiri saya sudah mulai berjualan kecil-kecilan.”

Ayah Marshall adalah seorang pegawai swasta dan ibunya memang sering berdagang. Waktu masih umur 9 tahun keluarga Marshall pernah membuat toko kecil di dekat rumah, sayang pada akhirnya toko itu bangkrut.

Namun Marshall terlanjur menyukai bisnis dan ia merasa dari pengalaman toko itu, niat berbisnisnya muncul. Maka tak heran bila sejak masih duduk di bangku SMA, Marshall sudah hobi berdagang dan ketika memasuki usia kuliah ia mulai bisnis kaus kemudian sepatu kulit bersama teman.

“Nah, teman saya itu yang punya modal dan saya hanya berjualan saja. Uang hasil itu saya simpan sebagian, nilainya mungkin di bawah Rp3 juta dan sampai sekarang masih sisa.”

Saat memulai usaha kaus tersebut, Marshall membuat tiga desain yang ditawarkan ke calon pembeli dan seluruhnya bersifat made by order. “Tidak ada modal di sana, hanya ongkos saja. Prosesnya, saya bersama beberapa rekan membuat bengkel sablon kecil-kecilan, lalu pesanan yang sudah diterima kami jadikan bahan acuan untuk produksi,” jelas bungsu dari tiga bersaudara ini.  

Bahan baku didapat Marshall dari marketplace. Ia mengaku tidak mau repot dan mencari cara yang efisien. Tapi memang ada rekanan yang menjadi salah satu distributor lamanya yang memperkenalkan pada seorang teman yang punya bisnis serupa.

Total item yang diproduksi ada 10 desain, tapi Marshall sudah punya amunisi 20 desain lebih yang bisa dikeluarkan seketika jika modal produksi mencukupi. Namun yang pasti dalam sebulan kuantitas produk yang dihasilkan sekitar 7 lusin atau 84 kaus per bulan.

Di luar brand, alias pesanan perorangan, kelompok atau perusahaan totalnya sudah lebih dari 3.000 kaus sejak berdiri. Harga produk berkisar Rp40.000 sampai Rp150.000 dengan omzet sebelum dipotong biaya dan ongkos pembuatan sekitar Rp250 jutaan.

Menurutnya, jika ingin membuka usaha maka harus bisa menjadi diri sendiri dan jangan pernah takut kalah bersaing. “Hanya karena bisnis Anda sudah banyak dilakukan banyak orang bukan berarti Anda tidak bersaing, keterbatasan modal itu hanya alasan saja,” tuturnya.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa sudah banyak orang yang memulai bisnis tanpa modal uang. Di era yang saat ini sudah serba digital, Marshall menyarakan untuk memanfaatkan media sosial dan teknologi semaksimal mungkin.

“Bangun relasi sebanyak-banyaknya dan jadikan berjualan sebagai hobi bukan sebagai mata pencaharian, dengan begitu kita tidak akan mudah menyerah dan bisa lebih santai menghadapi tekanan. Pasar di Indonesia begitu besar untuk dilewatkan,” tandasnya. (eri)

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Hotman Paris dukung pengusaha muda ini pelopori batik moderen pertama di Indonesia
Selasa, 18 Februari 2020 - 08:42 WIB
Industri fashion terus berkembang, seiring dengan kemajuan zaman. Termasuk batik, kini memakai batik...
Inspirasi Rico Huang: Sukses di usia 24 tahun, kini mantap menatap bisnis photobook
Minggu, 02 Februari 2020 - 10:30 WIB
Dengan banyaknya data dan nilai pasar yang tinggi, photobook menjadi salah satu variasi produk print...
Sukses berbisnis batik, Michael Wirawan bangun brand baru yang sasar wanita milenial
Kamis, 23 Januari 2020 - 15:41 WIB
Namanya Michael Wirawan. Usianya masih muda, tercatat baru 24 tahun. Tapi soal bisnis, dia memiliki ...
Brand kecantikan karya anak bangsa ini sukses jelajahi pasar Eropa
Minggu, 19 Januari 2020 - 16:38 WIB
Berkat ekstrak kayu cendana, daun nilam, kemangi, bunga jempiring, bunga mawar, melati, kamboja, kay...
Jadi CEO private equity termuda di Asia Tenggara, Timothy Tandiokusuma kelola AUM Rp1,2 T
Senin, 13 Januari 2020 - 17:04 WIB
Timothy Tandiokusuma, usianya masih muda, 26 tahun, tapi dirinya cukup sukses menggeluti bisnis priv...
Mengenal Dicky Firmansyah, milenial di kancah industri digital Tanah Air
Selasa, 07 Januari 2020 - 15:16 WIB
Besarnya  potensi industri digital di Indonesia membuat para pelaku industri digital meyakini bahwa...
Dari Pekayon ke Cikunir Raya: Hardianto anak muda dibalik sukses Hardy Classic
Selasa, 10 Desember 2019 - 09:58 WIB
Kiprah Hardy Classic dalam bidang interior mobil sudah tidak diragukan lagi. Dengan pengalaman belas...
Jatuh bangun Jerry Hermawan Lo hingga sukses jadi pengembang properti
Minggu, 24 November 2019 - 14:31 WIB
Industri properti menjadi salah satu bisnis yang paling menjanjikan di dunia. Oleh karena itu, banya...
Ini kisah Bahlil Lahadalia, `anak terminal` yang ditunjuk jadi Kepala BKPM
Jumat, 25 Oktober 2019 - 10:05 WIB
Hidup berbalut kemiskinan, itulah masa lalunya. Bahlil, meski terlahir dari keluarga sederhana, tak ...
Tas limbah plastik karya Deasy Esterina yang tembus pasar global
Kamis, 17 Oktober 2019 - 16:13 WIB
Adalah Deasy Esterina yang tertarik untuk mengolah limbah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat. I...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)