Modifikasi cuaca opsi penanganan karhutla, bagaimana caranya?
Elshinta
Selasa, 17 September 2019 - 17:54 WIB | Penulis : Dhany Lukito | Editor : Administrator
Modifikasi cuaca opsi penanganan karhutla, bagaimana caranya?
Ilustrasi. Sumber foto: Istimewa/Elshinta.com

Elshinta.com - Kabut asap pekat dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi faktor yang menghambat proses penguapan sebagai syarat terbentuknya awan. Asap karhutla tertahan dan malayang di angkasa sehingga sinar matahari tidak tembus ke bumi dan proses penguapan air terhambat.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memantau potensi pertumbuhan awan memang masih sulit terjadi. Sedangkan upaya penyemaian garam (NaCl) sebagai syarat untuk membuat hujan buatan sendiri dibutuhkan awan yang mencapai minimal 80 persen.

Atas dasar tersebut, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkolaborasi dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan BMKG menerapkan modifikasi teknologi sebagai upaya menghilangkan asap karhutla menggunakan Kalsium Oksida atau kapur tohor aktif (CaO) yang bersifat eksotermis (bersifat mengeluarkan panas). Kapur tohor ditaburkan di gumpalan asap sehingga dapat mengurai partikel karhutla dan gas. Akibatnya asap hilang dan radiasi matahari bisa menembus ke permukaan bumi.

"Radiasi matahari terhalangi kabut asap, jadi awan susah terbentuk karena penguapan terhambat. Dengan kapur tohor aktif ini diharapkan konsentrasi asap berkurang, awan terbentuk, dan garam bisa ditebar untuk hujan buatan," ujar Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT, Tri Handoko Seto.

Berdasarkan rilis resmi yang diterima Redaksi Elshinta.com, pihak BPPT sendiri telah menyiapkan 40 ton kapur tohor aktif yang sudah disiagakan di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Setelah mendapat arahan, maka pihaknya bisa menerbangkan kapur tersebut ke beberapa provinsi terdampak karhutla seperti Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi dan Sumatera Selatan.

Untuk menaburkan kapur tersebut, BPPT akan menggunakan tiga jenis pesawat yakni Cassa 212 dengan kapasitas 800 kilogram, CN 295 dengan kapasitas 2.4 ton dan pesawat Hercules C 130 dengan kapasitas 4-5 ton.

Permasalahan karhutla tidak bisa hanya ditangani dengan menggunakan pemadaman darat dan udara saja. Kepala BNPB, Doni Monardo sebelumnya telah menyampaikan bahwa yang menjadi solusi karhutla adalah hujan. Sedangkan BMKG telah memprediksi bahwa musim hujan akan masuk pada pertengahan bulan Oktober. Oleh karena itu, hujan buatan harus segera dilakukan untuk mengatasi masalah ini.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Kualitas udara di Kota Palembang masih tak sehat cenderung berbahaya
Senin, 21 Oktober 2019 - 10:43 WIB
Elshinta.com - Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, masih tidak sehat cende...
Uji coba B30 selesai pada Oktober, dilaksanakan 2020
Jumat, 18 Oktober 2019 - 17:14 WIB
Elshinta.com - Plt Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Djoko Siswanto men...
Sekda: Hanya 23 persen kawasan pesisir pantai Jateng yang masih bagus
Jumat, 18 Oktober 2019 - 17:04 WIB
Elshinta.com - Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah Sri Puryono mengatakan sekitar 77 persen kawas...
Normalisasi tiga setu, Pemkot Depok terima dana hibah Rp25 miliar dari Pemprov DKI Jakarta 
Kamis, 17 Oktober 2019 - 20:25 WIB
Elshinta.com - Pemerintah Kota Depok menerima dana hibah Rp25 miliar dari Pemerinta Provinsi DK...
Sungai Cilamaya tercemar, IPAL Komunal bisa jadi solusi 
Kamis, 17 Oktober 2019 - 19:26 WIB
Elshinta.com - Tim Laboratorium Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur menegaskan bahwa hasil...
BPBD Yogyakarta segera tambah alat pemantau kondisi sungai
Kamis, 17 Oktober 2019 - 13:13 WIB
Elshinta.com - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Yogyakarta berencana segera...
Kamis pagi, kualitas udara Jakarta terburuk keenam di dunia
Kamis, 17 Oktober 2019 - 09:14 WIB
Elshinta.com - Kualitas udara di wilayah DKI Jakarta, Kamis (17/10) pagi menempati peringk...
Waduh...DAS Cilamaya tercemar
Rabu, 16 Oktober 2019 - 17:55 WIB
Elshinta.com - Tim Laboratorium Perum Jasa Tirta (PJT) II Jatiluhur menegaskan bahwa hasil...
Sekolah diliburkan, Kadiknas: Asap di Palembang membahayakan
Selasa, 15 Oktober 2019 - 07:49 WIB
Elshinta.com - Melihat kondisi kabut asap yang masih menyelimuti Palembang dan beberapa kabupat...
Sempat terganggu akibat kabut asap, operasional Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II kembali normal
Senin, 14 Oktober 2019 - 14:04 WIB
Elshinta.com - Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatera Selatan kembali normal, sete...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Undefined offset: 1

Filename: widget/infodarianda.php

Line Number: 24

Backtrace:

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/widget/infodarianda.php
Line: 24
Function: _error_handler

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/views/elshinta/view_berita_detail.php
Line: 214
Function: include

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/libraries/Template.php
Line: 16
Function: view

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/application/controllers/Berita.php
Line: 144
Function: load

File: /home/cfi/web/www/html/elshinta.com/index.php
Line: 294
Function: require_once