Ekonomi Indonesia dinilai rentan terpengaruh perang dagang AS-Tiongkok
Elshinta
Selasa, 17 September 2019 - 13:05 WIB | Penulis : Andi Juandi | Editor : Dewi Rusiana
Ekonomi Indonesia dinilai rentan terpengaruh perang dagang AS-Tiongkok
Ilustrasi. Sumber Foto: https://bit.ly/2kAVInf

Elshinta.com - Perekonomian Indonesia saat ini dalam kondisi berisiko tinggi saat menghadapi efek dari perlambatan ekonomi global, mengingat indikator-indikator ekonomi sedang mengalami kelesuan. Akibatnya, tekanan dari perekonomian global akan sangat mudah memberikan efek negatif.

Kondisi perlambatan perekonomian global, antara lain terjadi akibat perang dagang Amerika Serikat dengan Tiongkok yang hingga saat ini masih berlangsung. “Indonesia sangat mudah terpengaruh, karena daya tahan di dalam negeri juga lemah,” ujar Herry Gunawan, Head of Research Data Indonesia diskusi "Ngopi" (Ngobrol Perkembangan Indonesia) di Jakarta, Senin (16/9), seperti dalam rilis yang diterima Redaksi Elshinta.com

Dia menjelaskan, yang berpeluang terpukul pertama adalah ekspor Indonesia. Saat ini saja, kinerja perdagangan internasional Indonesia belum menggembirakan. Pada Agustus 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa ekspor Indonesia yang sebesar USD14,28 miliar turun 9,99 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bahkan secara kumulatif, yaitu Januari-Agustus 2019, turun 8,28 persen dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya. 

“Bahkan pada April 2019, neraca perdagangan Indonesia  mencatatkan yang terburuk sepanjang sejarah. Ditambah dalam kondisi sekarang, ketika banyak negara protektif terhadap pasarnya sebagai antisipasi perlambatan ekonomi global, kondisinya bisa makin buruk,” ujar Herry. 

Akibat nyata dari kondisi yang dihadapi sekarang, Herry memaparkan, indeks manufaktur Indonesia mengalami penurunan yang cukup tajam. Pada Agustus, posisinya sebesar 49,0 dari 49,6 di bulan selanjutnya. “Data itu menunjukkan bahwa kondisi industri manufaktur Indonesia sedang sangat lesu,” ujarnya. 

Dia menjelaskan, indeks tersebut menggambarkan lesunya pesanan barang kepada industri manufaktur, sehingga berdampak terhadap penurunan aktivitas produksi sebagai respons terhadap melemahnya pesanan.

Selain itu, Herry juga menyampaikan bahwa tekanan terhadap perekonomian bukan hanya datang dari neraca perdagangan yang buruk sehingga pada akhirnya menurunkan kualitas neraca pembayaran, tetapi juga posisi keuangan pemerintah yang kurang menggembirakan. Realisasi penerimaan negara hingga Juli 2019 hanya 49 persen dari total target. Capaian tersebut lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang sudah mencapai 52 persen.

Lemahnya penerimaan ini, dia menegaskan, sangat mempengaruhi kas pemerintah atau yang biasa disebut dengan keseimbangan primer (primary balance). Sejak 2012, keseimbangan primer – penerimaan dikurangi belanja (tanpa memasukkan pembayaran utang) – sudah minus. 

“Dengan kantong (pemerintah) yang minus itu, jalan yang mungkin diambil oleh pemerintah adalah utang baru dan menurunkan subsidi,” ungkapnya.

Terkait dengan subsidi, pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, pemerintah sudah memastikan untuk mengurangi subsidi energi, terutama untuk bahan bakar minyak (BBM) dan LPG. Jika pada 2019 nilainya Rp100,7 triliun, kini tersisa Rp70 triliun. “Konsekuensinya kan ada potensi kenaikan harga BBM, yang biasanya diikuti oleh harga barang dengan alasan ongkos transportasi naik,” katanya.

Upaya lain untuk menambal kas yang negatif tersebut, Herry menjelaskan adalah dengan berutang. “Utang untuk menambal kas yang minus ini kan seperti jebakan ‘lingkaran setan utang’, karena tidak bisa keluar dari jeratan. Melingkar di situ-situ saja, yaitu numpuk utang terus untuk membayar utang juga,” katanya.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Lebaran, konsumsi BBM turun, elpiji naik 
Kamis, 28 Mei 2020 - 21:56 WIB
Kondisi pandemi COVID-19 membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat.
Sebanyak 32 ton beras premium didistribusikan pada warga Purwakarta
Kamis, 28 Mei 2020 - 20:28 WIB
Sebanyak 32 ton beras premium hari ini didistribusikan kepada warga Purwakarta, Jawa Barat yang terd...
Pengamat: Indonesia berpeluang tarik relokasi investasi asing
Kamis, 28 Mei 2020 - 18:38 WIB
Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai I...
  Rupiah ditutup melemah 0,03% ke Rp14.715 per dolar AS pada Kamis sore
Kamis, 28 Mei 2020 - 17:11 WIB
Rupiah di pasar spot gagal keluar dari zona merah. Kamis (28/5), rupiah spot ditutup di level Rp14.7...
Akhir perdagangan Kamis sore, IHSG menguat 1,61% ke level 4.716 
Kamis, 28 Mei 2020 - 16:56 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 74,63 poin atau 1,61% ke 4.716,18 pada akhir perd...
Presiden tegaskan tak perlu tergesa-gesa buka tempat wisata
Kamis, 28 Mei 2020 - 15:57 WIB
Presiden Joko Widodo menegaskan tidak perlu tergesa-gesa membuka dan mengoperasikan kembali tempat a...
Presiden minta benchmark normal baru sektor pariwisata
Kamis, 28 Mei 2020 - 15:45 WIB
Presiden RI Joko Widodo meminta penerapan tatanan normal baru di sektor pariwisata dalam masa pandem...
Jokowi perintahkan susun strategi promosi pariwisata normal baru
Kamis, 28 Mei 2020 - 15:36 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta jajaran kementerian terkait untuk menyusun strategi khusus dal...
Presiden minta segera disusun standar baru sektor pariwisata
Kamis, 28 Mei 2020 - 14:25 WIB
Presiden Joko Widodo meminta segera disusun standar baru sektor pariwisata Indonesia sehingga menjad...
Presiden minta pelaku wisata fokus dulu garap wisatawan domestik
Kamis, 28 Mei 2020 - 14:11 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta para pelaku industri di sektor pariwisata Indonesia untuk lebi...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV