Kabut asap di Palembang kini lebih parah
Elshinta
Kamis, 05 September 2019 - 11:04 WIB | Penulis : Dhany Lukito | Editor : Administrator
Kabut asap di Palembang kini lebih parah
Kondisi Kota Palembang yang tertutup kabut asap. Sumber foto: Elshinta/Adi Asmara

Elshinta.com - Kabut asap yang tebal dan bau menyengat, kembali kepung Kota Palembang, hal itu diperkirakan akibat kemarau panjang yang terjadi di wilayah Sumatera Selatan (Sumatera Selatan) sejak beberapa bulan terakhir.

Pantauan Kontributor Elshinta, Adi Asmara, Kamis (5/9) kabut asap tebal yang mengepung wilayah Sumsel terutama sangat terasa di Kota Palembang, adalah yang terburuk sejak beberapa pekan terakhir, akibatnya jarak pandang menjadi terbatas serta udara menjadi tidak baik bagi kesehatan.

Untuk menghidari kecelakaan, terlihat para pengguna kendaraan terutama roda dua memperlambat kecepatan serta menyalakan lampu.

Selain itu, pengguna kendaraan roda dua terlihat menggunakan masker untuk menghindari bau menyengat dari kabut asap tersebut.

"Ini adalah yang terburuk sejak beberapa hari terakhir, kabut asap pagi ini sangat tebal, dan jarak pandang terbatas kurang lebih hanya 500 meter saja," kata salah seorang warga, Rama Putra, Kamis (5/9).

Menurut Rama Putra, kondisi ini adalah yang terparah, oleh karenanya ia memakai masker dan berhati-hati pada saat mengendarai kendaraan, karena jarak pandang yang terbatas.

Sebagai catatan, beberapa wilayah yang rawan terjadi kebakaran lahan di Sumsel setiap musim kemarau adalah, Kabupaten Banyuasin, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Musi Banyuasin.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
BNPB siapkan 10.000 bibit pohon laban yang tahan api
Minggu, 13 Oktober 2019 - 17:26 WIB
Elshinta.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan 10.000 bibit pohon ...
Pengamat nilai perlu ada kajian mendalam penyebab paus terdampar
Sabtu, 12 Oktober 2019 - 15:50 WIB
Elshinta.com - Pengamat kelautan dan perikanan dari Universitas Nusa Cendana (Undana), Cha...
Pengamat sebut paus jarang terjebak dan terdampar
Sabtu, 12 Oktober 2019 - 14:27 WIB
Elshinta.com - Pengamat kelautan dan perikanan dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Chat...
Hari tanpa bayangan terjadi di Jakarta, apa itu?
Selasa, 08 Oktober 2019 - 10:07 WIB
Elshinta.com - Sejumlah kota di Pulau Jawa, khususnya Jakarta, Selasa (8/10) hari ini mengalami hari...
Kemenko Kemaritiman lakukan langkah wujudkan Indonesia bebas sampah plastik
Senin, 07 Oktober 2019 - 21:30 WIB
Elshinta.com - Pemerintah menargetkan pengurangan sampah plastik hingga 70 persen pada tah...
Peringati HUT TNI, Danlantamal XIII Tarakan pimpin penanaman mangrove
Senin, 07 Oktober 2019 - 21:05 WIB
Elshinta.com - Dalam rangka memperingati HUT ke-74 TNI, Danlantamal XIII Tarakan, Laksaman...
Dedi Mulyadi duga DAS Cilamaya tercemar limbah beracun
Senin, 07 Oktober 2019 - 19:33 WIB
Elshinta.com - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi menduga Daerah Aliran Sungai Cilamaya yang bera...
TNI tanam 300.074 mangrove dari Sabang sampai Merauke
Senin, 07 Oktober 2019 - 16:38 WIB
Elshinta.com - Dalam rangka memperingati HUT ke-74, TNI melaksanakan penanaman 300.074 Man...
Diduga tercemar limbah berbahaya, peneliti ambil sampel air Sungai Cilamaya
Minggu, 06 Oktober 2019 - 20:53 WIB
Elshinta.com - Tim peneliti dari Perum Jasa Tirta II mengambil sampel air Sungai Cilamaya ...
Dedi Mulyadi minta subsidi warga pencemar sungai dicabut
Minggu, 06 Oktober 2019 - 17:40 WIB
Elshinta.com - Anggota DPR RI Dedi Mulyadi meminta Pemerintah Pusat memberikan efek jera k...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)