Modal Rp20 juta, lampu dekorasi karya milenial ini terjual dari Jakarta hingga Kalimantan
Elshinta
Selasa, 27 Agustus 2019 - 10:05 WIB | Penulis : Cucun Hendriana | Editor : Administrator
Modal Rp20 juta, lampu dekorasi karya milenial ini terjual dari Jakarta hingga Kalimantan
Personalisasi lampu dekorasi jadi daya tarik bagi konsumen. Foto: Elshinta.com/Reza

Elshinta.com - Generasi milenial inovatif bernama Ken Nathaniel dan tiga rekannya, Nathania Alethea, David Nicolaus, dan Yoga Baskara, cukup sukses memikat hati konsumen Tanah Air khususnya mereka penyuka seni dekoratif lampu. Kini konsumen dimanjakan dengan aneka lampu yang dapat dibuat sendiri oleh konsumen. Personalisasi ini menjadi hal yang digandrungi oleh konsumennya.

Filoight Indonesia, baru seumur jagung berdiri, tepatnya pada 2017. Usaha ini dirintis oleh Ken saat dirinya masih menjadi mahasiswa di kampus Prasetiya Mulya. Ken bercerita, ketika dirinya tengah sibuk mengurus skripsinya, usaha yang dijalaninya sempat vakum. “Sebetulnya usaha ini awalnya hanya iseng aja. Lucu dan unik aja, bisa dijadikan sebagai hiasan di kamar. Desain sendiri, lalu dijual tapi ternyata laku juga. Nah, saat saya sibuk skripsi, usaha ini sempat terbengkalai,” kata Ken. 

Tak disangka, usaha yang dijalaninya tersebut terpilih dalam lomba The Big Start dari Blibli. Fiolight masuk nominasi 10 besar. Untuk keperluan ajang tersebut, dirinya juga sempat menjalani karantina hingga 3 bulan. “Pada akhirnya kami tidak bisa finish di urutan pertama. Bagi kami terpilihnya Fiolight di ajang itu juga sudah menjadi hal luar biasa. Saya sendiri bingung kenapa bisa masuk nominasi. Setelah program berakhir, saya Tanya ke dewan juri mengapa memilih kami. Katanya, potensi bisnis ini ada, hanya saja perlu konsep yang lebih detail,” ujar dia.

Sebab, produk dekorasi lampu di pasaran saat ini sudah sangat menjamur, terlebih dari Amerika dan China. Oleh karenanya, pasca dirinya lulus kuliah, ia memilih untuk fokus menggarap Fiolight. Cari konsep dan ketemu, lalu Ken berkolaborasi dengan beberapa rekannya. “Muncul ide agar konsumen bisa mempersonalisasi lampu sendiri. Waktu itu saya berpikir sudah sampai ke platform, tapi dana kami membatasi. Dengan personalisasi ini memungkinkan para konsumen untuk membuat lampu sendiri sesuai dengan selera masing-masing.”

Hal ini menarik lantaran banyak konsumen yang merasa bangga jika sebuah produk dihasilkan oleh tangannya sendiri. Sistem yang disiapkannya nanti juga sangat mudah digunakan oleh siapapun. “Personalisasi ini pasarnya ternyata ada. Kami pilih kata personalisasi ketimbang custom, kata itu sebagai branding kami,” ujarnya.

Selain lampu, Fiolight juga merambah ke bisnis yang lebih luas, home decoration. Saat ini salah satu bidang yang sudah dijalankannya adalah produksi alat makan kayu. Konsepnya sama; personalisasi. Bagaimana dengan harganya? Ken mengaku jika lampu personalisasi harganya berkisar Rp350 ribu, sementara alat makan kayu seharga Rp200 ribu hingga Rp350 ribu. “Ada juga yang di bawah Rp100 ribu per buah, ukuran yang membedakannya. Produksi lampu kami kerjasama dengan para pengrajin.”

Terkait model yang tersedia, menurut Ken, saat ini baru ada tiga model, yakni animal, bohemian klasik, dan seri natal. Dengan model yang ada, respon pasar cukup baik, hal itu terbukti dengan serapan pasar dari produknya. Menurut data, dari produksi 500 buah, yang terjual bisa sampai angka 400 buah. “Kami lagi gencar untuk edukasi pasar terkait personalisasi ini.”

Saat ini penjualannya masih menggarap pasar online dan bazaar. Jika tidak ada aral melintang, ke depan dirinya juga akan membuka offline store. Selain itu, dirinya juga mengedepankan kolaborasi dengan brand-brand lain sebagai langkah pengembangan bisnis. “Ekonomi kreatif sekarang itu harus kolaborasi. Kami terus berupaya bekerjasama dengan brand lain juga,” sebutnya.

Diakuinya, saat dirinya merintis Fiolight, dana yang dipakai sebagai modal awal sebesar Rp20 juta. Dana tersebut dipakai untuk membeli sejumlah kebutuhan bisnis termasuk teknologinya. Dengan bahan baku lokal, kini produknya sudah menyebar ke beberapa daerah seperti Jakarta, Yogyakarta, Sumatera, dan Kalimantan.       

Seiring dengan waktu, dirinya merasakan tantangan yang harus dihadapinya. Selain mengedukasi pasar terkait personalisasi lampu, dirinya juga dihadapkan pada para pesaing di industri yang sama. Atas kenyataan itu, Fiolight dituntut untuk bisa berbeda dari yang lainnya. Dituntut untuk berinovasi.   

“Selain tantangan dari eksternal, di internal kami juga bukan tanpa tantangan yang hadir. Misalnya konflik internal, dan sebagai pengusaha kita juga harus bisa memotivasi karyawan, dan lainnya. Tapi saya bersyukur karena bisa lebih banyak belajar tentang bisnis. Bidang bisnis ini membuat saya bisa berinteraksi dengan pengusaha lain dan para mentor, sehingga dapat ilmu lagi.”

Fiolight juga berencana untuk mencari pendanaan melalui inkubator. Hal ini penting agar pihaknya juga mendapatkan pelatihan dan funding. Dirinya juga tengah mengupayakan layanan lainnya, Fiolight for Apartement. “Kami kerjasama dengan brand lain, kami fokus mengerjakan hal-hal yang terkait dengan digitalisasinya. Mimpi kami, ke depan Fiolight bisa menjadi platform besar, dimana para konsumen home décor bisa mempersonalisasi semua barangnya. Fiolight menjadi platform untuk mengekspresikan diri,” demikian Ken.

DISCLAIMER: Komentar yang tampil sepenuhnya menjadi tanggungjawab pengirim, dan bukan merupakan pendapat atau kebijakan redaksi Elshinta.com. Redaksi berhak menghapus dan atau menutup akses bagi pengirim komentar yang dianggap tidak etis, berisi fitnah, atau diskriminasi suku, agama, ras dan antargolongan.
Baca Juga
 
Hotman Paris dukung pengusaha muda ini pelopori batik moderen pertama di Indonesia
Selasa, 18 Februari 2020 - 08:42 WIB
Industri fashion terus berkembang, seiring dengan kemajuan zaman. Termasuk batik, kini memakai batik...
Inspirasi Rico Huang: Sukses di usia 24 tahun, kini mantap menatap bisnis photobook
Minggu, 02 Februari 2020 - 10:30 WIB
Dengan banyaknya data dan nilai pasar yang tinggi, photobook menjadi salah satu variasi produk print...
Sukses berbisnis batik, Michael Wirawan bangun brand baru yang sasar wanita milenial
Kamis, 23 Januari 2020 - 15:41 WIB
Namanya Michael Wirawan. Usianya masih muda, tercatat baru 24 tahun. Tapi soal bisnis, dia memiliki ...
Brand kecantikan karya anak bangsa ini sukses jelajahi pasar Eropa
Minggu, 19 Januari 2020 - 16:38 WIB
Berkat ekstrak kayu cendana, daun nilam, kemangi, bunga jempiring, bunga mawar, melati, kamboja, kay...
Jadi CEO private equity termuda di Asia Tenggara, Timothy Tandiokusuma kelola AUM Rp1,2 T
Senin, 13 Januari 2020 - 17:04 WIB
Timothy Tandiokusuma, usianya masih muda, 26 tahun, tapi dirinya cukup sukses menggeluti bisnis priv...
Mengenal Dicky Firmansyah, milenial di kancah industri digital Tanah Air
Selasa, 07 Januari 2020 - 15:16 WIB
Besarnya  potensi industri digital di Indonesia membuat para pelaku industri digital meyakini bahwa...
Dari Pekayon ke Cikunir Raya: Hardianto anak muda dibalik sukses Hardy Classic
Selasa, 10 Desember 2019 - 09:58 WIB
Kiprah Hardy Classic dalam bidang interior mobil sudah tidak diragukan lagi. Dengan pengalaman belas...
Jatuh bangun Jerry Hermawan Lo hingga sukses jadi pengembang properti
Minggu, 24 November 2019 - 14:31 WIB
Industri properti menjadi salah satu bisnis yang paling menjanjikan di dunia. Oleh karena itu, banya...
Ini kisah Bahlil Lahadalia, `anak terminal` yang ditunjuk jadi Kepala BKPM
Jumat, 25 Oktober 2019 - 10:05 WIB
Hidup berbalut kemiskinan, itulah masa lalunya. Bahlil, meski terlahir dari keluarga sederhana, tak ...
Tas limbah plastik karya Deasy Esterina yang tembus pasar global
Kamis, 17 Oktober 2019 - 16:13 WIB
Adalah Deasy Esterina yang tertarik untuk mengolah limbah plastik menjadi sesuatu yang bermanfaat. I...
Live Streaming Radio Network
Live Streaming ElshintaTV
InfodariAnda (IdA)